Hanung Bramantyo setelah konferensi pers official poster & trailer "Lobang Buaya" di XXI Senayan City, Jakarta, Jumat (28/8/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Hanung mengungkapkan bahwa judul Lobang Buaya dipilih karena pada awalnya Hanung dan tim sempat khawatir tidak bisa menggunakan nama Lubang Buaya secara langsung. Ia kemudian menjelaskan bahwa judul awal film tersebut berasal dari konsep The Hole yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti "Bolong,"
"Awalnya judulnya The Hole, gitu kan. The Hole itu apa? Ya Bolong, gitu kan. Tapi kan tiba-tiba kok, nanti hubungannya apa nih sama Lubang Buaya? Kan enggak boleh bilang Lubang Buaya, makanya Bolong aja," kata Hanung dalam konferensi pers di XXI Senayan City, Jakarta Selatan, Jumat (28/8/2026).
Namun, pemikiran tersebut berubah setelah Lobang Buaya menjalani world premiere di International Film Festival Rotterdam (IFFR). Hanung kemudian merasa judul filmnya justru perlu menunjukkan secara lebih jelas keterkaitan cerita dengan nama Lobang Buaya sekaligus periode waktu yang menjadi latarnya. Hanung pun akhirnya berdiskusi dengan produser Debora Siahaan mengenai perubahan tersebut.
"Terus saya ngomong sama Debora, 'Sudah, judulnya langsung aja Lobang Buaya, bodo amat ya.' Gitu. Biar sekalian aja deh, gitu 'kan. Itu aja, gitu," ucap Hanung.
Hanung juga memiliki pandangan tersendiri mengenai penyebutan peristiwa 1965. Ia merujuk pada istilah Gestok atau Gerakan Satu Oktober yang pernah digunakan Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Menurut Hanung, istilah tersebut merujuk pada fakta bahwa penculikan tujuh perwira terjadi pada dini hari dan ketika peristiwa tersebut berlangsung, waktu sudah memasuki 1 Oktober 1965.
"Jadi, ya dulu pernah saya ingin bikin film judulnya September Night. Judulnya itu dulu, ya kan, tak spill aja sekarang. Terus enggak boleh, akhirnya jadinya ya Lobang Buaya," tambahnya.