Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Alasan Hanung buat Lobang Buaya Bergenre Horor Bukan Sejarah

Alasan Hanung buat Lobang Buaya Bergenre Horor Bukan Sejarah
Hanung Bramantyo setelah konferensi pers official poster & trailer "Lobang Buaya" di XXI Senayan City, Jakarta, Jumat (28/8/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
  • Hanung Bramantyo menggarap Lobang Buaya sebagai horor berlatar 1964, bukan remake Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Film tayang 1 Oktober 2026.
  • Hanung memilih fiksi horor karena film sejarah autentik tentang periode tersebut dinilai masih riskan, berpotensi kontroversial, dan memicu kegaduhan di Indonesia.
  • Genre horor dipilih karena diminati penonton serta lebih berpeluang di pasar internasional. Bagi Hanung, horor film ini berangkat dari ketakutan sejarah dan ingatan kolektif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Sutradara kawakan Hanung Bramantyo coba menengok kembali salah satu periode paling kelam dalam sejarah Indonesia melalui pendekatan yang berbeda lewat Lobang Buaya (2026). Alih-alih hadir sebagai film sejarah konvensional, Hanung memilih genre horor untuk membungkus kisah dengan latar peristiwa tahun 1964 tersebut, setahun sebelum Gerakan 30 September (G30S) 1965.

Menjelang penayangannya di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026, film produksi Adhya Pictures dan Dapur Film ini telah merilis official trailer dan final poster dalam konferensi pers di XXI Senayan City, Jakarta Selatan, Jumat (28/8/2026). Bagi Hanung, pilihan genre horor bukan tanpa alasan. Ada pertimbangan kreatif sekaligus kondisi sosial yang membuat cerita Lobang Buaya belum tepat jika disajikan secara gamblang sebagai film sejarah. Apakah itu?

  1. 1. Hanung tegaskan film Lobang Buaya bukan remake G30S/PKI

    Hanung Bramantyo berdiri usai konferensi pers poster dan trailer film Lobang Buaya di XXI Senayan City, Jakarta.
    Hanung Bramantyo setelah konferensi pers official poster & trailer "Lobang Buaya" di XXI Senayan City, Jakarta, Jumat (28/8/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

    Judul Lobang Buaya memang langsung memantik ingatan publik, lalu mengaitkannya dengan film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI (1984) produksi Produksi Film Negara (PFN). Namun sebagai sutradara, Hanung memastikan film terbarunya bukan remake atau versi baru dari film tersebut.

    "Jadi buat teman-teman semuanya yang sudah menonton trailer-nya, melihat posternya, melihat judulnya Lobang Buaya terus kemudian berekspektasi bahwa ini adalah film remake tentang film G30S/PKI yang dibuat oleh PFN tahun 1980-an dulu, ini bukan, sabar. Kita ingin bikin film kayak gitu, tapi sabar," jelas Hanung.

    Hanung sebenarnya memiliki keinginan untuk membuat film sejarah yang membahas peristiwa tersebut secara lebih serius. Namun, ia merasa perlu melihat terlebih dahulu bagaimana respons masyarakat terhadap Lobang Buaya.

    Menurutnya, jika kondisi di Tanah Air sudah lebih aman dan masyarakat lebih siap menerima pembahasan sejarah dari berbagai perspektif, bukan tidak mungkin dirinya akan membuat film sejarah yang lebih autentik mengenai periode tersebut.

    "Kalau situasinya emang sudah aman, situasi sudah bisa memungkinkan dengan disadari lewat film seperti ini, semoga kita bisa bikin film yang benar-benar sejarah," lanjutnya.

  2. 2. Banyak yang mempertanyakan kenapa Lobang Buaya dibuat sebagai film horor

    Hanung Bramantyo usai konferensi pers poster dan trailer resmi film Lobang Buaya di XXI Senayan City, Jakarta.
    Hanung Bramantyo setelah konferensi pers official poster & trailer "Lobang Buaya" di XXI Senayan City, Jakarta, Jumat (28/8/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

    Pilihan genre horor untuk sebuah cerita yang mengambil latar peristiwa bersejarah ternyata juga menjadi pertanyaan ketika Lobang Buaya diputar di sejumlah festival internasional. Film tersebut sebelumnya mengikuti ajang seperti International Film Festival Rotterdam (IFFR) dan Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN). Hanung mengungkapkan bahwa penonton di kedua festival tersebut justru memiliki pertanyaan yang relatif sama.

    "Jadi pertanyaannya adalah, kisah atau situasi kejadian sefenomenal ini, semonumental ini, kenapa dibuat dengan genre horor? Kenapa tidak dibuat dengan genre yang memang autentik? Saya bilang, saya menjawab, 'Karena situasi di negara saya untuk membuat film yang seperti ini, itu sangat riskan, belum bisa diterima, menimbulkan kontroversial, apa segala macem.' Alih-alih diapresiasi oleh penonton, justru malah akan membuat gaduh," akunya.

    Pertimbangan tersebut juga berkaitan dengan pengalaman Hanung ketika menawarkan sejumlah proyeknya kepada sales internasional. Ia pernah memiliki dua film, masing-masing bergenre drama dan horor. Dari kedua proyek tersebut, justru film horor yang dianggap lebih mudah diterima dan memiliki potensi perjalanan internasional lebih besar. Karena itu, Lobang Buaya akhirnya dikemas sebagai film fiksi dengan balutan horor.

    "Makanya di film yang ini, betul-betul saya mencoba untuk membuat fiksinya, membuat dengan genre, dengan balutan packaging horor, karena memang itu yang sekarang sedang diminati di masyarakat kita, penonton kita. Sesuai dengan data penonton ya, dengan data penonton saat ini memang penonton penikmat film horor itu memang tinggi. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia terbukti," imbuhnya.

    Meski begitu, pilihan tersebut tetap berangkat dari ketertarikan pribadi Hanung terhadap sejarah. Ia memang dikenal memiliki ketertarikan untuk mengangkat cerita yang berkaitan dengan sejarah Indonesia. Tahun lalu saja, ia merilis dua film berlatar sejarah, yakni Gowok: Kamasutra Jawa (2025) dan Rahasia Rasa (2025).

    "Karena memang histori saya, kemampuan saya atau kesenangan saya memang membuat film sejarah," ujarnya.

  3. 3. Tanggal rilis Lobang Buaya bertepatan dengan ulang tahun Hanung

    Hanung Bramantyo berpose usai konferensi pers peluncuran poster dan trailer resmi film Lobang Buaya di XXI Senayan City Jakarta.
    Hanung Bramantyo setelah konferensi pers official poster & trailer "Lobang Buaya" di XXI Senayan City, Jakarta, Jumat (28/8/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

    Ada satu kebetulan yang membuat proyek Lobang Buaya terasa semakin personal bagi Hanung. Film tersebut dijadwalkan tayang di bioskop pada 1 Oktober 2026, yang ternyata merupakan tanggal kelahirannya.

    "Apalagi kebetulan, ini kebetulan banget, saya lahir 1 Oktober," katanya.

    Tanggal tersebut ternyata sudah memiliki tempat tersendiri dalam ingatan Hanung sejak kecil. Ia lahir pada 1975, sehingga ketika berusia sekitar 10 tahun, ia mulai menyadari bahwa setiap menjelang hari ulang tahunnya, Indonesia justru berada dalam suasana berkabung. Hanung mengenang bagaimana dirinya pernah bertanya mengapa bendera Indonesia dikibarkan setengah tiang setiap kali ulang tahunnya.

    "Jadi ketika saya tanya, Kenapa setiap kali saya mau ulang tahun Indonesia mengibarkan bendera setengah tiang, artinya berkabung. Ada apa? Saya tanya kepada ibu saya, 'Ada apa?' Karena pada saat itu, saya lahir tahun 1975, 10 tahun yang lalu (1965) telah terjadi pemberontakan di Indonesia," ceritanya.

    Pengalaman tersebut akhirnya ikut memengaruhi cara Hanung memandang cerita Lobang Buaya. Baginya, horor dalam film ini bukan sekadar soal menghadirkan sosok menyeramkan atau jump scare. Ada rasa takut yang lahir dari sejarah dan ingatan kolektif masyarakat Indonesia.

    "Saya menunggu sih, ada enggak sih bikin film yang tentang kayak gini, ya kan? Horor sejarah, gitu kan. Enggak ada. Horor ya horor. Akhirnya, ya udah, bikin aja lah," pungkas Hanung.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More