Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

IMGR 2026: Kebangkitan Film Slice of Life di Indonesia

Yandy Laurens
Yandy Laurens (dok. Pribadi/Yandy Laurens)
Intinya sih...
  • Film slice of life Yandy Laurens angkat momen sehari-hari yang bermakna
  • Tema pergulatan sehari-hari di keluarga paling kena di penonton Indonesia
  • Milenial dan Gen Z suka membagikan, membedah, hingga memiliki keterikatan emosional dengan film
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Film bergenre slice of life memberikan keintiman sederhana bagi penikmat sinema Indonesia. Visual dan segala teknis menjadi pelengkap alur cerita, realita yang emosional, hingga kegelisahan yang hendak Yandy Laurens sampaikan di film-film arahannya.

Film-film dari Yandy mengangkat isu sederhana, tapi dengan alur dan visual menarik, mulai dari Keluarga Cemara (2019), Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023), 1 Kakak 7 Ponakan (2024), hingga SORE: Istri dari Masa Depan (2025). Film-film tersebut memberikan ruang bagi penonton untuk ikut berbagi, membedah, dan memiliki keterikatan emosi.

1. Momen sehari-hari menjadi premis unik di film-film Yandy Laurens

Yandy Laurens
Yandy Laurens (dok. Pribadi/Yandy Laurens)

Yandy Laurens mengangkat cerita-cerita yang dulu ia anggap remeh dari keseharian di sekitarnya. Metode tersebut mampu menghadirkan premis bermakna yang dikemas lewat film-filmnya. Namun, Yandy mengaku tidak pernah berniat menjadikan slice-of-life sebagai identitas filmnya.

"Saya tidak berniat membuat film slice-of-life. Semuanya bermula dari melihat ke dalam diri, masa kecil saya, keluarga saya, momen-momen sehari-hari yang dulu saya anggap remeh. Lama-kelamaan saya sadar, justru momen-momen tenang itulah yang paling bermakna," ujar Yandy Laurens yang baru-baru ini comeback lewat SORE: Istri dari Masa Depan (2025) dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2026.

Berangkat dari keresahan. Kalimat tersebut sangat pas menggambarkan cara Yandy mengemas film-filmnya. Selama ini, kita diajari mengejar konflik besar, padahal banyak hal kecil yang tidak kalah bermakna.

"Kita diajari untuk mengejar konflik besar, tapi yang benar-benar membekas justru hal-hal kecil yang belum selesai: seorang ayah yang kesulitan terhubung dengan anaknya, seseorang yang akhirnya mengungkapkan perasaannya setelah bertahun-tahun memendam," lanjutnya.

2. Tema paling kena di penonton Indonesia adalah pergulatan sehari-hari yang relatable dengan kehidupan keluarga

Indonesia Millennial Gen Z Report 2026
Indonesia Millennial Gen Z Report 2026 (dok. IDN Research Institute)

Saat ini orang-orang datang ke bioskop bukan untuk didikte tentang apa yang mereka harus rasakan. Justru mereka ingin tanpa sadar merasa relevan dengan film yang disajikan. Maka dari itu, Yandy berharap filmmaker muda bisa menjalani cerita yang ingin mereka sampaikan.

"Di dunia yang bergerak cepat dan bising, yang paling mereka rindukan adalah pengakuan, bahwa kebahagiaan, perjuangan, dan kontradiksi mereka itu berarti. Itu sebabnya saya selalu bilang ke pembuat film muda: jangan hanya menulis cerita, jalani cerita itu. Hidup dengan baik, maka ceritanya akan mengikuti," jelas sutradara lulusan Institut Kesenian Jakarta tersebut.

Bagi Milenial dan Gen Z, pergulatan sehari-hari yang relatable dengan masalah keluarga menjadi tema paling mengena di perfilman Indonesia saat ini. Topik keluarga, kesehatan mental, dan tekanan sosial umumnya menyajikan cerita yang penuh kerentanan. Namun, itu justru paling kena hati penonton Indonesia saat ini, dengan detail presentase, sebagai berikut:

  • 67 persen pergulatan sehari-hari yang relate dengan masalah keluarga

  • 45 persen kesejahteraan emosional dan kehidupan batin

  • 42 persen membahas hal tabu dan realitas sosial

  • 38 persen mimpi yang terhalang harapan sosial

  • 33% Representasi anak muda yang otentik

3. Milenial dan Gen Z suka membagikan, membedah, hingga memiliki keterikatan emosional dengan film yang mereka tonton

Indonesia Millennial Gen Z Report 2026
Indonesia Millennial Gen Z Report 2026 (dok. IDN Research Institute)

Menurut Yandy Laurens, mendengarkan cerita, aktor, dan keheningan di antara dialog merupakan hal terpenting. Maka tidak mengherankan, ia lebih lama menghabiskan waktu di sesi pembacaan naskah daripada lokasi syuting.

"Bagi saya, menyutradarai adalah soal mendengarkan, kepada cerita, kepada aktor, kepada keheningan di antara dialog. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di sesi pembacaan naskah daripada di lokasi syuting karena saya ingin aktor menemukan ritme dan kebenaran mereka sendiri," ujar sutradara peraih penghargaan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik di Festival Film Indonesia 2019 lewat film Keluarga Cemara ini.

Maka tidak mengherankan, film yang Yandy sajikan selalu membuat Milenial dan Gen Z larut ke dalam jalan ceritanya. Fenomena tersebut membuat anak muda tergugah untuk membagikan, membedah, hingga memiliki keterikatan emosional dengan film yang mereka tonton.

Bagi Milenial dan Gen Z, film bisa menjadi ruang untuk terhubung, berdialog, dan mengekspresikan diri secara kreatif. Membicarakan dengan teman sebaya, mengikuti akun media sosial, membagikan klip atau kutipan emosional, membuat video reaksi, dan tergabung dalam komunitas online film yang mereka tonton, bukan hal aneh di era saat ini.

IDN menggelar Indonesia Summit 2025, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "Theme: Thriving Beyond Turbulence Celebrating Indonesia's 80 years of purpose, progress, and possibility". IS 2025 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2025 diadakan pada 27 - 28 Agustus 2025 di Tribrata Dharmawansa, Jakarta. Dalam IS 2025, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2026.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei dilakukan pada Februari sampai April 2025 dengan studi metode campuran yang melibatkan 1.500 responden, dibagi rata antara Milenial dan Gen Z.

Survei ini menjangkau responden di 12 kota besar di Indonesia, antara lain Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Solo, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zahrotustianah
EditorZahrotustianah
Follow Us