Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kesuksesan Film Backrooms dan Obsession Dihantui Isu Ghost Directing
Isu Backrooms dan Obsession memakai ghost directing (dok. Blumhouse/Obsession | A24/Backrooms)
  • Dua film horor garapan kreator YouTube, Backrooms dan Obsession, sukses besar di box office AS dan memicu perdebatan soal dugaan ghost directing di balik kesuksesan mereka.
  • Tudingan ghost directing dibantah oleh produser dan pihak produksi yang menilai rumor tersebut sebagai bentuk skeptisisme terhadap sineas muda dari dunia digital.
  • Aktor Mark Duplass menegaskan Kane Parsons benar-benar menyutradarai Backrooms, menepis isu bahwa sutradara muda itu hanya menjadi wajah promosi dalam proyek filmnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Industri perfilman Hollywood tengah berubah. Dua film horor orisinal garapan sineas muda jebolan YouTube sukses mencetak prestasi luar biasa di box office Amerika Serikat, bahkan mengungguli sejumlah film beranggaran besar dari waralaba mapan seperti The Mandalorian and Grogu (2026). Dua film tersebut adalah Backrooms (2026) produksi A24 yang disutradarai Kane Parsons dan Obsession (2026) karya Curry Barker bersama Focus Features.

Kesuksesan mereka menjadi bukti bahwa YouTube kini berkembang menjadi salah satu "sekolah film" terbesar bagi generasi baru pembuat film. Namun, di balik pencapaian tersebut, muncul pula tudingan bahwa keduanya tidak benar-benar menyutradarai film mereka sendiri alias ada "ghost director" di baliknya.

1. Apa itu ghost directing?

Kane Parsons di set Backrooms (dok. A24/Backrooms)

Seperti namanya, ghost directing merupakan istilah yang merujuk pada situasi ketika seorang sutradara yang tercantum secara resmi sebenarnya bukan pihak yang benar-benar mengendalikan proses kreatif di lokasi syuting. Dalam praktiknya, keputusan utama justru dipegang oleh sosok lain yang lebih senior, sementara nama sutradara muda hanya digunakan sebagai wajah promosi.

Spekulasi semacam ini muncul setelah publik mengetahui bahwa Backrooms didukung sejumlah nama besar industri horor. Posisi produser diisi oleh James Wan dan Shawn Levy, sementara sutradara Longlegs (2024), Osgood Perkins, turut berperan sebagai mentor Kane Parsons selama proses produksi di Vancouver.

Antusiasme terhadap kedua film tersebut, ditambah usia Kane Parsons (20 tahun) dan Curry Barker (26 tahun) yang masih sangat muda serta latar belakang mereka sebagai kreator internet, memunculkan teori konspirasi di media sosial. Beberapa pengguna bahkan berspekulasi bahwa Osgood Perkins atau produser lain diam-diam mengambil alih kursi sutradara selama syuting berlangsung.

Fenomena ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, film Iron Lung (2026) garapan YouTuber Markiplier juga sempat menghadapi keraguan serupa sebelum akhirnya meraih kesuksesan komersial. Saat itu, Markiplier menilai masih ada stigma terhadap kreator YouTube di kalangan sebagian pelaku industri Hollywood yang memandang jalur karier mereka berbeda dari sineas konvensional.

2. Apakah Backrooms dan Obsession memakai ghost directing?

Set film Backrooms (dok. A24/Backrooms)

Hingga saat ini, tidak ada bukti yang mendukung tudingan bahwa Backrooms maupun Obsession menggunakan praktik ghost directing. Sebaliknya, sejumlah pihak yang terlibat langsung dalam produksi justru membantah rumor tersebut.

"Rumor-rumor tersebut bertujuan untuk meremehkan siapa pun yang berasal dari dunia kreator, dan itu bukanlah hal baru," kata produser David R. Craig kepada The Hollywood Reporter (1/6/2026).

Menurut Craig, tudingan tersebut merupakan bentuk skeptisisme lama yang kerap muncul setiap kali ada generasi baru pembuat film yang berhasil menembus industri melalui jalur berbeda.

"Pada tahun 1980-an, mereka biasa meremehkan semua pembuat film yang mendapatkan film layar lebar yang berasal dari ruang video musik, sebagian besar dari mereka berasal dari periklanan, sampai mereka semua menjadi sangat sukses. Kemudian mereka mulai mengutuk semua orang yang memulai karier mereka di televisi kabel," lanjutnya.

Seiring perhatian publik yang mulai bergeser dari rumor ke kualitas film itu sendiri, peluang bagi kreator digital untuk masuk ke industri film layar lebar diperkirakan akan semakin besar.

"Saat Anda mengira mereka sudah kehabisan ide, masih ada cara untuk membuat orang bersemangat. Apakah MrBeast pantas mendapatkan film? Tentu, mengapa tidak? Mari kita lihat apa yang ingin disampaikan orang ini. Kita akan segera mengalami perubahan besar lainnya," tambah Roberson, profesor sinematografi dan penyuntingan di NYU.

3. Isu ghost directing juga disangkal langsung oleh bintang Backrooms

Mark Duplass, bintang Backrooms (dok. instagram.com/markduplass)

Rumor tersebut juga dibantah langsung oleh salah satu pemeran utama Backrooms, Mark Duplass. Melalui unggahan video di Instagram, aktor senior tersebut menegaskan bahwa Kane Parsons benar-benar memimpin produksi sejak hari pertama syuting.

"Banyak sekali opini di luar sana tentang apakah Kane Parsons, di usianya yang baru 19 tahun (saat mulai syuting), benar-benar menyutradarai Backrooms. Saya ada di sana. Saya bersiap untuk membantu jika dibutuhkan, tetapi kenyataannya dia tidak membutuhkan bantuan kami sama sekali. Dia sangat siap dan fokus," ujar Duplass.

Pernyataan tersebut kemudian diperkuat dengan komentar yang cukup menohok kepada para penyebar rumor ghost directing di luaran sana.

"Dengan segala hormat, saya tidak ingat melihat Anda di lokasi syuting. Ketika saya di sana, Kane 100% memegang kendali. Bahkan lebih terkendali dibanding banyak sutradara lain yang usianya tiga kali lipat darinya," tulisnya.

Kane Parsons sendiri mengawali kariernya sebagai kreator YouTube yang mempelajari efek visual (VFX) secara otodidak sejak masih duduk di bangku SMP. Namanya melejit setelah video pendek The Backrooms yang ia buat pada usia 16 tahun viral dan ditonton jutaan kali di internet.

Kini, keberhasilan Backrooms dan Obsession bukan hanya menandai kemenangan bagi dua sutradara muda tersebut, tetapi juga menjadi simbol perubahan besar dalam industri film. Bagi generasi kreator digital, YouTube bukan lagi sekadar platform berbagi video, melainkan pintu masuk menuju Hollywood.

Editorial Team

Related Article