Seberapa Akurat Film The Odyssey (2026) dengan Puisi Epiknya?

Artikel ini mengandung spoiler bagi yang belum nonton film The Odyssey.
Menjelang perilisan filmnya The Odyssey, sutradara peraih Oscar, Christopher Nolan, duduk untuk diwawancarai The New York Times. Ia pun menjawab pertanyaan penting, seperti kenapa mengadaptasi puisi epik kuno ini? Yap, karya epik yang dikaitkan dengan penyair Yunani Homer ini telah diterjemahkan oleh beberapa orang. Seperti yang Nolan bilang, itu adalah sebuah tantangan.
"Saya ingin menantang diri saya sendiri dengan tema cerita yang berbeda lewat budaya. Saya melihat mitologi Yunani, Odyssey itu sendiri, kenapa belum menjadi bagian dari sinema modern? Itu sangat menarik sebagai seorang pembuat film. Kemudian saat kalian menggali lebih dalam, apa yang bisa kalian garap? Odyssey, seperti halnya Oppenheimer, adalah cerita hebat, karena memiliki resonansi, masalah-masalah rumit, dan dilema etika. Ini tentang situasi yang mustahil. Itulah yang membuat sebuah cerita menjadi luar biasa."
Yap, bisa dibilang kalau The Odyssey adalah proyek terbesar dalam karier Christopher Nolan hingga saat ini. Tapi pertanyaannya, apakah film ini setia pada bukunya? Hmm, jawabanya memang cukup rumit. Meskipun begitu, Nolan mempertahankan esensi dari kisah legendaris ini. Odysseus yang diperankan Matt Damon memenangkan Perang Troya, tetapi ia kesulitan pulang setelah pertempuran berakhir. Adapun, Nolan melakukan beberapa perubahan dan penyesuaian, beberapa di antaranya berhasil dan beberapa lainnya enggak. Jadi, seberapa akurat The Odyssey karya Nolan, dengan puisinya itu sendiri?
1. Para dewa dan sihir hanya punya peran kecil dalam The Odyssey karya Christopher Nolan

Jika kamu pernah membaca puisi epik Odyssey, kamu pasti tahu, deh, kalau Homer mengutamakan dewa-dewa Yunani. Ia membiarkan intrik dan manipulasi dewa-dewa Yunani memainkan peran besar dalam upaya Odysseus untuk kembali ke rumahnya di Ithaca dari Troya setelah perang yang panjang dan berdarah. Hermes membuntuti putranya, Telemachus (diperankan Tom Holland dalam film), saat ia mencari kabar tentang Odysseus, dan dewa-dewa lain mempermainkan nasib manusia. Terus terang, penggambaran tersebut bukan masalah dalam versi Christopher Nolan.
Yap, para dewa ada dalam film Nolan, tetapi sebagian besar gak terlihat kecuali dalam adegan-adegan dari Zendaya sebagai dewi Athena, di mana ia hanya muncul di hadapan Odysseus sendiri. Meskipun begitu, karakter-karakter dalam film tersebut ngasih tahu kalau dewa bisa menyamar menjadi manusia. Namun, setelah Odysseus melukai Polyphemus si Cyclops (diperankan Bill Irwin), ayah Polyphemus, Poseidon, mendatangkan malapetaka di lautan sebagai balas dendam, tapi setelah itu gak ada para dewa lagi. Kenapa? Seperti yang dijelaskan Nolan dalam sebuah wawancara dengan Time Magazine tentang pembuatan film tersebut, ia ingin menempatkan penonton pada posisi yang sama dengan karakter-karakternya.
"Saya lebih tertarik pada gagasan bagi orang-orang pada periode itu, bukti keberadaan dewa ada di mana-mana. Hal yang luar biasa tentang sinema, dan IMAX khususnya, adalah kalian bisa membawa penonton ke tempat yang imersif, merasa dekat dengan peristiwa seperti badai, laut yang bergejolak, dan angin kencang. Kalian ingin penonton berada di kapal bersama mereka, takut akan lautan, takut akan murka Poseidon, seperti yang dirasakan oleh para karakternya. Bagi saya, itu jauh lebih kuat daripada kemunculannya secara fisik (tentang dewa)."
2. Christopher Nolan memakai bahasa yang modern untuk menceritakan kembali kisah epik ini

Naskah The Odyssey ditulis sendiri oleh Christopher Nolan dengan bahasa yang modern. Tapi, gak ada kata "dude" atau "like" dalam kalimatnya. Meskipun begitu, beberapa katanya sangat menonjol dan bikin kontroversi, seperti ketika Telemachus menyebut Odysseus sebagai "Dad" atau memanggil ibunya yang penyabar, Penelope (diperankan Anne Hathaway), sebagai "Mom."
Dalam sebuah wawancara dengan The Los Angeles Times, Christopher Nolan bilang kalau ia memakai bahasa yang punya makna emosional, bukan intelektual. Hal ini dilakukan agar dialognya mudah dipahami. "Mungkin saya naif, dan itu akan berbalik menyerang saya, tapi saya menginginkan narasi yang membumi," lanjut Nolan. "Bagi saya itu sudah jelas." Itu berarti, The Odyssey jelas menyimpang dari gaya liris puisi epiknya.
3. Ada alur cerita tentang Circe yang gak diceritakan dalam film The Odyssey

Selama perjalanan panjang dan penuh malapetaka yang dilakukan oleh Odysseus dan anak buahnya yang terlalu percaya diri—Odysseus memimpin mereka keluar jalur berkali-kali. Kelompok tentara, termasuk tangan kanan Odysseus yang tertekan, Eurylochus (diperankan Himesh Patel), sering kali harus berhenti di pulau-pulau untuk mendapatkan persediaan. Setelah diserang oleh Laestrygonian yang besar, pemakan manusia, dan berlapis baja (yang gak disebutkan namanya dalam film), mereka menemukan sebuah pondok terpencil yang dihuni oleh seorang perempuan bernama Circe (diperankan Samantha Morton), yang dikelilingi oleh berbagai hewan mulai dari burung hingga singa. Anak buahnya yang frustrasi meninggalkan Odysseus dan menikmati sup Circe, tapi malah berubah menjadi babi. Odysseus sendiri mengetahui apa yang terjadi ketika dia menembak seekor rusa yang berubah menjadi manusia. Ia pun memaksa Circe untuk mengembalikan anak buahnya ke wujud manusia. Segera setelah itu, mereka langsung pergi.
Namun, ada alur cerita Circe yang cukup penting dari puisi tersebut justru terlewatkan, nih. Dalam puisi tersebut, Odysseus menerima bantuan dari Hermes dan menggunakan ramuan yang disebut moly untuk menghindari sihir Circe. Lalu setelah Circe mengubah anak buah Odysseus kembali menjadi manusia, keduanya menghabiskan waktu selama setahun sebagai sepasang kekasih sebelum berlayar kembali. Sejujurnya, masuk akal kalau Christopher Nolan memangkas alur cerita ini, tetapi agak disayangkan karena Circe yang licik, menakutkan, dan memikat yang diperankan oleh Morton ini gak kita lihat lagi.
4. Christopher Nolan mengubah sebagian besar alur cerita cyclops karena alasan yang kurang jelas

Cobaan pertama yang dihadapi Odysseus dan anak buahnya selama perjalanan pulang adalah pertemuan yang gak terduga dengan raksasa bermata satu, Polyphemus, ketika mereka memasuki guanya, mengikuti kawanan dombanya dengan harapan menemukan ternak untuk diburu dan dimakan. Ini adalah salah satu adegan paling menegangkan dan mendebarkan dalam film Christopher Nolan. Pasalnya, Polyphemus sedang lapar, dan mulai memangsa para prajurit. Hal ini digambarkan dalam lukisan karya Francisco Goya. Nah, rupanya, lukisan ini menjadi sumber inspirasi langsung bagi Nolan, seperti yang ia katakan kepada Associated Press.
Raksasa bermata satu itu hampir gak berbicara, kecuali menggumamkan nama ayahnya, Poseidon. Dari situlah kita mengetahui bahwa dewa laut tersebut terus mengirim badai dan angin untuk mengacaukan perahu Odysseus. Mengingat pahlawan perang itu bergulat dengan putranya yang bernama Polyphemus.
Namun, dalam puisi epiknya gak seperti itu. Polyphemus dalam puisi berbicara dan Odysseus bilang kalau namanya adalah "Nobody." Setelah Odysseus melancarkan serangan dan melukai Polyphemus, sesama cyclops datang untuk memeriksa temannya, mereka bertanya siapa yang menyerangnya, dan Polyphemus menjawab, "Nobody." Jadi, kenapa Christopher Nolan gak menampilkan adegan ini?
Seperti yang diungkapkan Christopher Nolan di The Daily Show kepada pembawa acara Jon Stewart, "Saya mengerti, ini adalah permainan kata. Permainan kata dalam terjemahan itu sulit. Saya sudah mencoba. Tidak mungkin untuk memasukkannya."
5. Sebagian besar perjalanan Odysseus gak ditampilkan dalam film The Odyssey

The Odyssey adalah film panjang yang diadaptasi dari puisi yang lebih panjang lagi. Belum lagi, gak semua aspek cerita bisa secara realistis dimasukkan ke dalam adaptasinya. Banyak hal yang berubah dalam proses adaptasi, itu sudah pasti. Jadi, mengingat hal tersebut, cukup masuk akal jika Christopher Nolan gak memasukkan seluruh bagian interlude Odysseus di pulau Scherie, tempat ia mendarat darurat berkat kebaikan peri laut Ino setelah meninggalkan pulau Calypso. Athena menyuruh putri Phaeacia dari Scherie, Nausicaä, untuk menyembuhkan Odysseus. Adapun, setelah Odysseus unggul dalam acara olahraga di pulau itu, ia mendapatkan kepercayaan dari orang-orang Phaeacia dan menceritakan kisah perjalanannya kepada mereka.
Kita tahu penjelasan ini lewat Odysseus dalam film. Namun demikian, alur cerita Phaeacia dalam puisi tersebut sangatlah panjang.
6. Alur cerita Argos tetap sama seperti dalam puisi aslinya

The Odyssey punya beberapa adegan yang bisa dibilang membuat kamu muak. Yap, salah satunya berhubungan dengan anjing pemburu setia milik Odysseus bernama Argos. Di awal film, teman Odysseus dan penggembala babi Ithaka, Eumaeus (diperankan John Leguizamo), bercerita kepada Telemachus tentang Argos, seekor anjing tua yang duduk di dekat kaki Eumaeus dan menggeram kepada siapa pun kecuali Odysseus. Di sinilah kita disajikan kilas balik dan melihat Eumaeus hampir melemparkan anak anjing yang baru lahir itu dari tebing. Untungnya, Odysseus mencegahnya dan mengambil seekor anak anjing tersebut dan lalu menjilati wajah Odysseus. Anjing itu pun tumbuh besar menjadi Argos, anjing pemburu milik Odysseus.
Sayangnya, penonton juga dipaksa untuk menyaksikan Antinous (diperankan Robert Pattinson) dan Polybus (diperankan Corey Hawkins), menendang Argos saat ia mengemis makanan di aula besar istana. Antinous pun membawa anjing yang terluka itu ke tumpukan sampah di luar istana dan meninggalkannya di sana hingga mati. Argos memang mati, tetapi belum mati sampai Odysseus kembali ke Ithaca, sama seperti yang diceritakan dalam puisi epiknya.
7. Calypso memainkan peran yang berbeda dalam adaptasi Christopher Nolan dari film The Odyssey

Dalam puisi asli Odyssey, Odysseus terungkap sebagai tawanan nimfa Calypso. Saat Odysseus melarikan diri, ia pun pergi menuju ke Scherie. Ada juga alur cerita dalam puisi tersebut ketika Odysseus dan awak kapalnya menemukan sebuah pulau yang dipenuhi oleh para pemakan teratai. Mereka ngasih tahu kalau bunga-bunga ajaib tersebut bisa melupakan perjalanan mereka untuk kembali ke rumah. Dalam versi Christopher Nolan, Calypso diperankan oleh Charlize Theron dan perannya diperluas secara ugal-ugalan.
Odysseus gak mengunjungi Scherie antara pulau Calypso dan Ithaca, tapi ia langsung pergi dari pulau Calypso, Ogygia, ke Ithaca dengan rakit sederhana, sambil memohon pengampunan kepada Poseidon. Dalam cerita ini, Calypso juga yang memberi Odysseus bunga teratai, meskipun ia menjelaskan alasannya: ketika ia terdampar di pantai setelah seluruh awak kapalnya tewas dalam badai yang mengerikan, tubuh Odysseus bisa disembuhkan dengan obat-obatan alami, tetapi pikirannya tetap terganggu.
Nah, untuk membantunya, Calypso memberinya bunga teratai agar ia merasa tenang. Namun, karena Calypso jatuh cinta kepada Odysseus, Calypso terus memberinya bunga agar Odysseus gak mau pulang ke rumah menemui Penelope dan Telemachus. Pada akhirnya, dalam film tersebut, Calypso mengakui tipu dayanya kepada Odysseus. Ia pun membantu Odysseus mengembalikan ingatannya, dan membiarkannya pergi.
8. Christopher Nolan mempertahankan kesetiaannya kepada karakter Telemachus dan Penelope

Meskipun banyak karakter dalam film The Odyssey mengalami perubahan dan penyesuaian berkat Christopher Nolan, ada dua karakter yang tetap sama seperti puisinya, yaitu Telemachus dan Penelope. Mari kita mulai dengan Telemachus, yang diperankan oleh Tom Holland. Ia menjadi satu-satunya tujuannya untuk mencari tahu apakah ayahnya, Odysseus, masih hidup atau tidak. Jika masih hidup, ia ingin mencarinya dan membawanya kembali ke Ithaca untuk merebut kembali takhtanya. Terlepas dari absennya sahabat karib Telemachus dalam karya sastra, yaitu Hermes, Telemachus cukup setia pada karakternya dalam puisi, yaitu sebagai seorang pemuda yang gak punya keterampilan bertarung, tetapi siap untuk belajar dan bertempur bersama sekutunya kapan pun dibutuhkan.
Kemudian ada Penelope yang digambarkan sebagai perempuan yang menderita. Ia berpura-pura menghibur para pelamar yang berharap menikahinya dengan bilang kalau ia akan menikah setelah selesai menenun kain kafan. Namun, tanpa sepengetahuan mereka, dia mencabut benang yang telah dikerjakannya dengan tangan setiap malam sehingga kain kafan itu gak pernah selesai. Anne Hathaway, yang mengincar kemenangan Oscar sebagai Aktris Pendukung Terbaik, memerankan Penelope dengan tatapan tajam dan keteguhan hati yang luar biasa. Hal ini jelas terlihat dalam adegan ketika dia mencaci maki putranya sendiri karena di anggap lemah, dan gak bisa menjadi pemimpin di Ithaca.
9. Pertempuran klimaks antara para pelamar dan Odysseus juga tetap sama

Alur lain dari cerita yang secara khusus menyangkut Telemachus dan Penelope yang tetap setia pada puisi epiknya adalah pertarungan terakhir antara para pelamar Penelope yang jahat dan suaminya yang sudah lama hilang, Odysseus, yang kembali ke Ithaca dengan menyamar sebagai pengemis. Meskipun Telemachus tahu identitas asli Odysseus berkat Argos dalam film, poin-poin utamanya tetap sama—saat Odysseus dan Telemachus diam-diam mengatur agar semua senjata yang dipajang di istana disembunyikan di ruang penyimpanan yang aman, para pelamar menyiksa dan memukuli Odysseus dalam penyamarannya.
Kemudian, Penelope membuat pengumuman yang mengejutkan: dia akan menikah lagi, tetapi hanya dengan seorang pelamar yang bisa memasang tali pada busur berburu Odysseus dan memenangkan kontes memanah. Dalam film Christopher Nolan, pelamar yang dimaksud harus meniru persis Odysseus dengan memasang kembali tali busur dan menembakkannya lewat dua belas kapak untuk mengenai sasaran.
Tentu saja, gak ada satu pun dari para pelamar yang bisa memasang tali busur sampai Odysseus maju dan menyelesaikan tantangan tersebut. Di sinilah pertumpahan darah terjadi. Setelah pertempuran sengit, Odysseus dan Telemachus membunuh para pelamar dan memperkenalkan dirinya kepada Penelope sebagai suaminya yang sudah lama hilang. Namun, di situlah akhir film Nolan berbeda.
10. Bagian akhir dari film The Odyssey karya Christopher Nolan berbeda dengan puisinya

Dalam puisi epik Odyssey, Odysseus diminta untuk membuktikan siapa dirinya yang sebenarnya kepada Penelope. Adapun, Penelope bersikeras agar ia memindahkan ranjang pernikahan mereka. Odysseus menolak, dan keduanya akhirnya bersatu kembali. Setelah kejadian itu, Telemachus memerintahkan puluhan pelayan perempuan untuk digantung karena bersekutu dengan para pelamar yang telah tewas. Meskipun keluarga-keluarga berpengaruh dari para pelamar tersebut berusaha membalas dendam atas putra dan saudara mereka yang gugur, Athena turun tangan dan mencegah lebih banyak pertumpahan darah.
Film ini mengambil pendekatan yang berbeda. Sepanjang film, kita melihat Odysseus membelai sebuah peniti berbentuk Athena, yang juga kita lihat Penelope sematkan pada jubahnya sebelum ia pergi berperang dalam Perang Troya. Itulah yang ia berikan kepada Penelope saat kembali untuk membuktikan bahwa itu adalah dirinya.
Telemachus juga gak menggantung siapa pun. Ia justru menjadi Raja Ithaca sementara Penelope dan Odysseus mewujudkan mimpi lama mereka dan berlayar ke barat bersama untuk akhirnya melepaskan diri dari tekanan Ithaca. Ini adalah akhir yang indah dan damai. Sayangnya, bukan seperti itu puisi epik Homer berakhir.
Nah, The Odyssey masih tayang di bioskop sejak rilis pada 15 Juli 2026 di Indonesia. Kira-kira apakah kamu sudah nonton? Jika belum, pasti kamu penasaran kan, sama cerita lengkapnya?




















