Cerita Mos Panuwat Akting di Indonesia, Jadi Suka Makan di Pagi Sore

Jakarta, IDN Times – Aktor asal Thailand, Mos Panuwat atau Moslhong (Panuwat Sopradit), mengaku harus belajar bahasa Indonesia dari nol demi membintangi original series Bunga di Tepi Jurang (2026). Tantangan bahasa menjadi pengalaman baru baginya selama menjalani produksi serial kolaborasi MAXstream TV, iQIYI, dan Leo Pictures tersebut.
Meski menghadapi kendala komunikasi, Mos tetap menerima tawaran bermain karena tertarik dengan cerita dan karakter yang diperankannya. Di balik proses syuting, ia juga membawa pulang pengalaman berharga, mulai dari membangun chemistry dengan pemain Indonesia hingga jatuh cinta pada kuliner Tanah Air. Seperti apa ceritanya?
1. Mos Panuwat akui kurang fasih berbahasa Inggris dan Indonesia

Mos mengungkapkan ada dua alasan utama yang membuatnya mantap bergabung dalam Bunga di Tepi Jurang. Selain menyukai naskah dan karakter yang ditawarkan, ia juga ingin memberikan yang terbaik untuk para penggemarnya. Meski begitu, prosesnya tidak mudah. Ia mengaku tidak terlalu fasih berbahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia, sehingga harus belajar sejak awal.
"Oke. Pertama karena naskah dan karakter saya. Dan kedua para penggemarku. Saya mencoba yang terbaik untuk project ini karena saya tidak bisa bahasa Inggris dan bahasa Indonesia," ujarnya saat konferensi pers di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Kamis malam (23/7/2026).
Walau begitu, ia bersyukur mendapat dukungan penuh dari tim produksi yang membantunya melewati berbagai tantangan selama syuting.
"Saya bicara cuma sedikit-sedikit. Pada akhirnya bisa duduk di sini. Harus berterima kasih juga sama iQIYI Indonesia. Luar biasa iQIYI Indonesia. Tidak lupa juga terima kasih sama MAXstream dan Leo Pictures yang bikin semuanya jadi terkabul dan terwujud seperti ini," lanjutnya.
2. Banyak dibantu Claresta Taufan selama syuting

Di lokasi syuting, Mos mengaku banyak dibantu oleh lawan mainnya, Claresta Taufan, yang memerankan karakter Andini/Nadin. Baginya, Claresta membuat suasana kerja terasa nyaman sehingga ia lebih mudah membangun chemistry di depan kamera.
"Pertama buat Claresta Taufan yang meranin Andini, kalau di set itu bikin suasananya jadi enak dan dia benar-benar take care banget sama aku. Kalau untuk tantangan bahasa, udah pasti itu sangat menantang buat Mos di sini," katanya.
Mos menyadari bahwa membintangi serial Indonesia bukan hanya soal kemampuan akting. Ia juga harus melatih kemampuan berbahasa agar bisa berkomunikasi dengan baik selama proses produksi.
"Tapi karena datang sebagai aktor, harus banyak belajar selain akting karena modalnya akting doang di sini. Jadi harus banyak praktik bahasa dan praktik yang lain juga," ungkapnya.
3. Jatuh cinta dengan masakan Padang, khususnya Pagi Sore

Selain pengalaman berakting, Mos juga membawa pulang kecintaan baru terhadap kuliner Indonesia. Ia mengaku sangat menyukai masakan Padang dan bahkan memiliki rumah makan favorit selama berada di Indonesia.
"Kalau makanan Indonesia tuh benar-benar cocok banget di mulut aku. Apalagi itu tuh yang kayak otot di kuahnya warna kuning itu apa ya yang dipotong kecil-kecil?" tanya Mos.
Mos kemudian bercerita, pertama kali mencicipi masakan Padang di Rumah Makan Pagi Sore atas rekomendasi dari produser, Agung Saputra. Sejak saat itu, ia hampir selalu kembali makan di sana.
"Pak Agung yang ajak hari pertama makan itu katanya di Pagi Sore. Habis dari situ jadinya aku makan Pagi Sore terus tiap hari. Kalau ada Pagi Sore di mana, ada aku di situ. Enggak gendut kok soalnya aku juga olahraga tiap hari," candanya.





















