Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Film Resident Evil sebelum 2026 Menuai Banyak Kritik?

6 min read
Kenapa Film Resident Evil sebelum 2026 Menuai Banyak Kritik?
Bryan dalam film Resident Evil 2026 (dok. Columbia Pictures/Resident Evil)
  • Enam film live action era Alice sukses komersial dengan pendapatan sekitar 1,2 miliar dolar AS, tetapi dikritik karena cerita semakin menyimpang dari alur dan protagonis game.
  • Seri era Alice dinilai terlalu mengandalkan aksi spektakuler, mengurangi ketegangan survival horror, serta mengecilkan peran dan mengubah karakterisasi tokoh ikonik seperti Jill, Leon, Claire, dan Wesker.
  • Welcome to Raccoon City berupaya lebih setia pada game, namun penceritaan terburu-buru, dialog lemah, dan CGI kurang rapi membuat reboot ini belum memperbaiki masalah adaptasi sebelumnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Film Resident Evil mempunyai sejarah yang tak kalah panjang dengan gamenya. Resident Evil (2026) karya Zach Cregger—sutradara di balik film horor Barbarian (2022) dan Weapons (2025)—menjadi film adaptasi terbaru yang mendapat sambutan positif dari fans maupun kritikus. Bagaimana tidak, film ini berhasil menghadirkan sensasi seolah-olah sedang bermain game tanpa mengorbankan kualitas penceritaannya.

Tahukah kamu bahwa Resident Evil versi 2026 menjadi film live action ke-8 dalam franchise? Yap, franchise game horor sekaligus yang paling ikonik sepanjang masa ini sebetulnya sudah berkali-kali diadaptasi menjadi film, baik dalam format live action maupun animasi. Alih-alih menerima sambutan positif seperti sejumlah film animasinya, adaptasi live action Resident Evil justru kerap mendapat respons negatif, bahkan beberapa di antaranya menuai kekecewaan dari fans setianya.

Situasi ini cukup kontradiktif, karena enam film live action pertama Resident Evil ternyata meraih kesuksesan komersial yang sangat besar dengan mengantongi pendapatan box office sekitar 1,2 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp21,4 triliun. Lalu, apa yang membuat film-film adaptasi live action Resident Evil sebelum 2026 sulit diterima oleh kritikus dan fans setianya?

  1. 1. Cerita film Resident Evil era Alice terlalu menyimpang dari versi game

    Alice dalam film Resident Evil pertama
    Alice dalam film Resident Evil pertama (dok. Constantin Film/Resident Evil)

    Tak dapat dimungkiri kalau film Resident Evil (2002) yang disutradarai oleh Paul W.S. Anderson menjadi tonggak penting bagi perjalanan franchise game survival horror legendaris ini di industri perfilman. Memperkenalkan Alice (Milla Jovovich) sebagai karakter utama, film ini juga tidak bisa dibilang buruk, kok. Pasalnya, film Resident Evil tetap berhasil menarik perhatian sehingga ceritanya berlanjut ke lima seri berikutnya yang semuanya ditulis oleh Paul W.S. Anderson, mulai dari Resident Evil: Apocalypse (2004) sampai ditutup dengan Resident Evil: The Final Chapter (2016).

    Masalahnya, seiring berjalannya franchise, banyak elemen di dalamnya yang dinilai sudah cukup jauh dari game. Film Resident Evil versi 2002, misalnya, sama sekali tidak mengadaptasi cerita dari game pertamanya yang dirilis pada 1996. Bahkan, dari lima film lanjutannya, Alice terus menjadi protagonis utama kendati gamenya kerap bergonta-ganti protagonis, misalnya, Claire Redfield dan Leon Kennedy yang baru muncul masing-masing dalam Resident Evil: Extinction (2007) dan Resident Evil: Retribution (2012), padahal mereka debut bersamaan melalui game Resident Evil 2 (1998).

  2. 2. Seri film Resident Evil live action terlalu mengandalkan elemen action

    Alice dalam Resident Evil: Afterlife
    Alice dalam Resident Evil: Afterlife (dok. Constantin Film/Resident Evil: Afterlife)

    Kalau kamu sering bermain gamenya, tentu sudah tidak asing dengan atmosfer survival horror khas Resident Evil yang penuh dengan ketegangan. Franchise ini sebetulnya sempat dibawa ke arah action horror lewat Resident Evil 5 (2009) dan Resident Evil 6 (2012), tetapi mendapat kritik dari sejumlah fans setianya sampai akhirnya kembali mengedepankan nuansa survival horror dalam Resident Evil 7: Biohazard (2017). Sayangnya, seri film Resident Evil yang ditulis oleh Paul W.S. Anderson dan dibintangi oleh Milla Jovovich selaku istrinya seolah tidak belajar dari pengalaman pahit tersebut.

    Kamu tidak akan melihat tokoh utama yang mesti berjuang mati-matian melawan zombie dengan amunisi dan persediaan yang terbatas. Kamu justru disuguhi sosok Alice yang mampu menghabisi ratusan zombie dan makhluk eksperimen biologis dengan mudah setelah terinfeksi T-Virus. Alih-alih membawa atmosfer survival horror dari gamenya, seri film Resident Evil justru terasa seperti film superhero yang menawarkan adegan aksi spektakuler.

  3. 3. Karakter ikonik tampak berbeda dari versi game dalam seri film Resident Evil

    Leon dan Alice dalam Resident Evil: Retribution
    Leon dan Alice dalam Resident Evil: Retribution (dok. Constantin Film/Resident Evil: Retribution)

    Kehadiran Alice dalam seri film Resident Evil bisa dibilang memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, dia memberikan ruang untuk mengembangkan cerita yang tidak sepenuhnya terikat pada alur game. Di sisi lain, para karakter populer dari game justru tidak mendapatkan porsi sebesar yang diharapkan oleh fans setianya.

    Jill Valentine, Chris Redfield, Leon Kennedy, Claire Redfield, dan Ada Wong memang menampakkan batang hidungnya dalam seri film Resident Evil. Namun, mereka tampil hanya sebagai "pembantu" bagi Alice, apalagi beberapa di antaranya memiliki persona dan sifat yang cukup bertolak belakang dengan versi game. Belum lagi jika kita membahas transformasi Albert Wesker (Shawn Roberts) yang dalam gamenya dikenal sebagai villain megalomaniak yang rela menghalalkan segala cara demi menciptakan tatanan dunia baru sesuai versinya, tetapi dalam seri film Resident Evil justru mengalami perubahan peran hingga berakhir hanya menjadi anak buah Dr. Alexander Isaacs (Iain Glen).

  4. 4. Sekuel dan retcon membuat cerita seri film Resident Evil berantakan

    Alice dan Claire dalam film Resident Evil: The Final Chapter
    Alice dan Claire dalam film Resident Evil: The Final Chapter (dok. Constantin Film/Resident Evil: The Final Chapter)

    Jika diperhatikan lebih saksama, koneksi antarfilm dalam seri Resident Evil era Alice terasa kurang mulus dan rapi. Tak hanya karena jumlah sekuelnya yang banyak, melainkan juga karena adanya beberapa perubahan kontinuitas yang biasa dikenal sebagai retcon (retroactive continuity). Singkatnya, retcon memungkinkan informasi dari film sebelumnya diubah, ditambahkan, atau diberi penjelasan baru dalam film selanjutnya.

    Retcon sebetulnya bukanlah teknik yang baru diterapkan dalam film franchise, hanya saja seri film Resident Evil sudah terlalu sering menggunakannya. Untuk membuktikannya, kamu bisa mencoba menonton Resident Evil: Retribution dan membandingkannya dengan narasi pembuka dalam film Resident Evil: The Final Chapter (2016). Yap, karakter sekaliber Jill Valentine (Sienna Guillory), Leon Kennedy (Johann Urb), dan Ada Wong (Li Bingbing) diceritakan tewas dalam novelisasi Resident Evil: The Final Chapter karya Tim Waggoner tanpa ada satu pun adegan yang memperlihatkan bagaimana mereka bisa terbunuh ketika bertempur di Gedung Putih.

  5. 5. Welcome to Raccoon City gagal memperbaiki masalah adaptasi sebelumnya

    Claire dalam Resident Evil: Welcome to Raccoon City
    Claire dalam Resident Evil: Welcome to Raccoon City (dok. Constantin Film/Resident Evil: Welcome to Raccoon City)

    Setelah era Alice berakhir, Johannes Roberts datang untuk membawa franchise film Resident Evil ke arah yang baru melalui proyek reboot. Visinya kemudian diwujudkan lewat film Resident Evil: Welcome to Raccoon City (2021) yang mengadaptasi sekaligus menggabungkan elemen dari game Resident Evil (1996) dan Resident Evil 2 (1998). Di atas kertas, film ini tampak menjanjikan sebab menghadirkan atmosfer survival horror yang menjadi salah satu ciri khas game Resident Evil.

    Sayangnya, usaha mereka untuk lebih setia kepada game tidak sepenuhnya diikuti oleh eksekusi yang kuat. Mulai dari penceritaan yang terburu-buru hingga beberapa dialog yang terdengar cringe, banyak faktor yang membuat eksekusi Resident Evil: Welcome to Raccoon City jauh dari kata memuaskan. Apalagi, kemunculan monster dan mutan dengan Computer-Generated Imagery (CGI) yang belum dipoles rapi turut menjadikannya sasaran ejekan dari beberapa fans setianya.

    Setelah melewati berbagai kritikan atas adaptasi-adaptasi sebelumnya, kedatangan Zach Cregger menjadi angin segar sekaligus membuka babak baru bagi franchise film live action Resident Evil. Memang masih terlalu dini untuk membahas sekuel, tetapi Cregger sendiri mengaku memiliki beberapa ide tentang ke mana cerita ini bisa berkembang setelah melihat performa film Resident Evil yang sukses besar di box office, seperti dilansir ComicBook. Kalau sekuelnya benar-benar dibuat, apakah kamu kepengin Cregger kembali ditunjuk untuk kembali duduk di kursi sutradara?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More