Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Oscar Dianggap Ajang Penghargaan Paling Prestisius?

ilustrasi Piala Oscar
ilustrasi Piala Oscar (instagram.com/theoscarsworld)
Intinya sih...
  • Oscar telah membangun reputasinya sejak 1929, dengan sejarah panjang dan perkembangan kategori.
  • Oscar mengandalkan sistem voting eksklusif yang membuatnya menjadi penghargaan paling kompetitif.
  • Oscar menjadi wadah legitimasi budaya dalam industri perfilman dan mampu mengerek pamor film serta para sineas.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Academy Awards atau Oscar akan kembali digelar pada Minggu, 15 Maret 2026 waktu Amerika Serikat. Memasuki edisi ke-98, ajang ini dipastikan menyedot perhatian publik dan para pemerhati industri perfilman. Sebelum malam puncak diadakan, Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) lebih dulu mengumumkan daftar nominasi pada Kamis (22/1/2026).

Lebih dari sekadar seremoni tahunan, Oscar dikenal sebagai perhelatan penghargaan paling bergengsi yang menjadi tolok ukur pencapaian tertinggi bagi insan perfilman. Tak heran jika setiap penyelenggaraannya selalu dinanti. Lalu, apa yang membuat Oscar begitu prestisius dan menarik perhatian dunia?

1. Oscar telah membangun reputasinya sejak 1929

cuplikan film pemenang Best Picture pertama di Oscar, Wings
cuplikan film pemenang Best Picture pertama di Oscar, Wings (dok. Paramount Pictures/Wings)

Alasan pertama, tentu tak terlepas dari sejarah panjang Oscar yang telah berlangsung selama berdekade-dekade. Ia pertama kali diselenggarakan pada 16 Mei 1929 di Hollywood Roosevelt Hotel, Los Angeles, sebagai bentuk apresiasi terhadap film-film terbaik yang dirilis sepanjang periode 1927—1928. Pada saat itu, Wings (1927) garapan William Wellman dan Harry d'Abbadie d'Arrast tercatat sebagai pemenang Best Picture pertama dalam sejarah Oscar.

Oscar kala itu juga masih jauh dari kata kemegahan dan glamor. Acara ini cuma dihadiri 270 yang sebagian besar merupakan anggota Academy. Jumlah kategorinya pun masih sedikit, yaitu 12 kategori, sebelum akhirnya berkembang menjadi 24 kategori pada Oscar ke-97.

2. Oscar mengandalkan sistem voting eksklusif

ilustrasi voting
ilustrasi voting (pexels.com/Element5 Digital)

Sekadar menembus nominasi Oscar bukanlah hal yang mudah. Berbeda dengan People's Choice Awards yang mengandalkan suara publik, Oscar menggunakan sistem voting internal. Ia hanya dapat diikuti oleh anggota AMPAS yang memenuhi syarat.

Proses seleksi dimulai dari tahap pemungutan preliminary voting yang berfungsi menyaring ratusan film menjadi kandidat terkuat untuk masuk ke dalam daftar pendek (shortlist). Setelah shortlist ditetapkan, AMPAS menggelar voting nominasi secara rahasia yang dilakukan oleh anggota cabang sesuai kategori masing-masing, misalnya, sutradara menentukan kategori Best Director, sedangkan aktor memilih Best Actor dan Best Supporting Actor, kecuali untuk Best Picture yang melibatkan seluruh anggota dari 19 cabang AMPAS. Tahap akhir ialah final voting, di mana semua anggota AMPAS memilih pemenang di seluruh kategori tanpa memandang cabang.

3. Oscar sering disebut sebagai salah satu penghargaan tersulit

ilustrasi para staf yang terlibat dalam pembuatan film
ilustrasi para staf yang terlibat dalam pembuatan film (pexels.com/Erik Uruci)

Proses seleksi yang sangat ketat membuat Oscar sering disebut sebagai salah satu penghargaan paling kompetitif. Alhasil, peluang untuk membawa pulang piala Oscar jauh kecil dibanding penghargaan lainnya. Siapa pun yang berhasil meraihnya secara otomatis akan dicap sebagai sosok profesional di dunia perfilman.

Apalagi, prestise dan hype Oscar tidak terbatas hanya di satu negara atau komunitas saja. Pengaruhnya bahkan dirasakan di seluruh belahan dunia. Kemenangan di ajang ini menjadi pencapaian puncak dalam karier setiap sineas.

4. Oscar menjadi wadah legitimasi budaya dalam industri perfilman

cuplikan film non-Hollywood pertama yang memenangkan Best Picture di Oscar, Parasite
cuplikan film non-Hollywood pertama yang memenangkan Best Picture di Oscar, Parasite (dok. CJ Entertainment/Parasite)

Jika ditinjau melalui konsep modal budaya dari Pierre Bourdieu, Oscar dapat dipahami sebagai ruang tempat tiga bentuk modal budaya saling bertemu dan menguatkan. Modal budaya tersebut meliputi terwujud (embodied) yang tercermin dari karya para sineas, terobjektifikasi (objectified) yang diwujudkan melalui piala Oscar sebagai simbol penghargaan, serta terinstitusionalisasi (institutionalized) yang diresmikan dan diakui secara resmi oleh AMPAS. Dengan kata lain, Oscar juga berfungsi sebagai mekanisme pengakuan dan pertukaran budaya dalam industri perfilman.

AMPAS juga tidak sembarangan dalam memilih pemenang. Film yang meraih Oscar umumnya memiliki kualitas artistik tinggi, relevan dengan isu yang dirasakan penonton, serta memanfaatkan teknologi perfilman modern. Sebagai contoh, kemenangan Parasite (2019) di kategori Best Picture menandai keterbukaan AMPAS terhadap film-film non-Hollywood dengan kualitas cerita dan produksi yang tak kalah menonjol.

5. Oscar bump mampu mengerek pamor film dan para sineas

Rami Malek sebagai Freddie Mercury
Rami Malek sebagai Freddie Mercury (dok. 20th Century Fox/Bohemian Rhapsody)

Fenomena Oscar bump merujuk pada peningkatan popularitas film maupun sineas setelah memenangkan atau sekadar masuk nominasi Oscar. Bagi film, kemenangan di kategori seperti Best Picture atau International Feature Film biasanya diikuti lonjakan pendapatan box office serta distribusi yang lebih luas di pasar internasional. Sementara itu, bagi para sineas, Oscar menjadi batu loncatan menuju proyek-proyek berskala besar, kenaikan bayaran, hingga pengakuan jangka panjang di industri perfilman.

Efek ini terlihat pada Million Dollar Baby (2004) dan Parasite yang mengalami kenaikan tajam dalam pendapatan dan jangkauan distribusi setelah memenangkan Oscar. Di sisi sineas, Rami Malek yang meraih Aktor Terbaik (Best Actor) lewat Bohemian Rhapsody (2018) langsung kebanjiran tawaran proyek besar, termasuk No Time to Die (2021) dan Oppenheimer (2023). Bahkan, Florence Pugh yang sekadar masuk nominasi Aktris Pendukung Terbaik (Best Actress in a Supporting Role) lewat Little Women (2019) kini dipercaya membintangi berbagai proyek besar bersama Marvel Cinematic Universe (MCU) sebagai Yelena Belova.

Oscar bukan hanya soal siapa yang memenangkan nominasi, melainkan tentang siapa yang mampu memberikan dampak dan pengaruh budaya dalam industri perfilman global. Dari sejarah panjangnya hingga dampak nyata yang dirasakan para pemenang, tidak sedikit dari mereka yang berlomba-lomba untuk meraih penghargaan paling bergengsi ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Hype

See More

Baru Diunggah, 7 Potret Nino Fernandez dan Steffi Zamora saat Pacaran

22 Jan 2026, 21:38 WIBHype