Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kisah Michael Jackson, Lebih Tragis dari Film Michael?
Jaafar Jackson sebagai Michael Jackson (dok. Lionsgate/Michael)
  • Film biopik Michael (2026) menggambarkan perjalanan hidup Michael Jackson dari masa kecilnya di keluarga Jackson Five hingga menjadi ikon global dengan karier solo yang meledak lewat album Thriller.
  • Di balik kesuksesannya, Michael menghadapi masa kecil penuh tekanan, penyakit vitiligo, serta berbagai tuduhan pelecehan anak yang sempat menyeretnya ke pengadilan namun berakhir tanpa vonis bersalah.
  • Menjelang tur comeback This Is It, Michael meninggal akibat overdosis propofol dan meninggalkan utang besar hingga ratusan juta dolar, mencerminkan sisi kelam di balik gemerlap ketenarannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Penyanyi yang dikenal dengan julukan King of Pop (Raja Pop) tengah menyedot perhatian publik setelah kisah hidupnya diangkat ke layar lebar dalam film biopik berjudul Michael (2026). Film ini menyoroti perjalanan Michael Jackson mulai dari awal kiprahnya bersama grup keluarga Jackson Five hingga puncak kejayaannya sebagai salah satu ikon musik global. Sebagai keponakan dari sang legenda, Jaafar Jackson dipercaya untuk memerankan Michael dalam film yang disutradarai oleh Antoine Fuqua tersebut.

Michael pada dasarnya mencoba merekam hampir seluruh perjalanan sang legenda. Namun, beberapa momen dalam kehidupan sang King of Pop memiliki sisi yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan yang ditampilkan di film. Mari telusuri kembali perjalanan Michael Jackson yang penuh dengan dinamika dan kontroversi!

1. Michael dibesarkan dalam keluarga yang penuh dengan intimidasi

performa Michael bersama saudaranya di Jackson Five (britannica.com)

Di balik bakat dan talenta besarnya, Michael Jackson ternyata tidak memiliki masa kanak-kanak yang normal. Dia tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan pola asuh dan disiplin yang sangat keras. Salah satu perlakuan paling ekstrem datang dari Joe Jackson, sang ayah Michael sekaligus manajer Jackson Five.

Dalam wawancaranya dengan The Guardian, Michael pernah mengungkapkan bahwa ayahnya dikenal sangat tegas dan tidak segan memukul anggota Jackson Five dengan ikat pinggang atau ranting jika mereka melakukan kesalahan selama latihan. Tak hanya secara fisik, Michael juga mengaku sering menerima ejekan dari sang ayah dengan sebutan "Big Nose" karena bentuk hidungnya. Michael bersama saudara-saudaranya di Jackson Five juga tidak diperbolehkan bermain karena harus menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk berlatih musik selama berjam-jam.

2. Karier solo Michael meledak berkat album ikonik Thriller

Michael Jackson dalam cover album Thriller (michaeljackson.com)

Michael Jackson mulai mencoba peruntungannya dengan merintis karier solo saat masih menjadi anggota Jackson Five. Dia merilis album solo pertamanya yang berjudul Got to Be There (1972). Melalui album ini, dirinya diperlihatkan mampu membawakan lagu "Got to Be There" yang bernuansa lembut serta "Rockin' Robin" yang bertempo cepat.

Karier solo Michael mencapai puncak ketika merilis album Thriller (1982). Tercatat sebagai album terlaris sepanjang masa, Thriller menandai lompatan besar dalam karier Michael sebagai musisi yang semakin matang. Dia juga sukses merevolusi music video (MV) lewat "Thriller" yang tidak lagi sekadar video promosi lagu, melainkan dikemas layaknya film pendek dengan alur cerita yang solid.

3. Neverland Ranch dibangun sebagai pelarian dari dunia nyata bagi Michael

cuplikan MV "Beat It" (YouTube.com/Michael Jackson)

Hidup sebagai seorang superstar ternyata tidak selalu seindah yang dibayangkan banyak orang, bahkan bagi sang King of Pop. Pada 1988, saat berada di puncak ketenarannya, Michael Jackson membeli Neverland Ranch, sebuah properti mewah yang berlokasi di Santa Ynez Valley, dekat Los Olivos, California, Amerika Serikat. Dia diperkirakan menghabiskan sekitar 19,5 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp336 miliar sebagaimana dilaporkan oleh Al Jazeera.

Neverland Ranch dipenuhi berbagai fasilitas hiburan, mulai dari taman bermain, bioskop pribadi, hingga kebun binatang kecil. Michael juga memelihara seekor simpanse bernama Bubbles yang kerap dibiarkan berkeliaran bebas di rumah. Sang pelantun "Beat It" ini menggambarkan Neverland sebagai dunia ideal sekaligus tempat pelarian dari luka masa kecilnya.

"Neverland is me… you know? It’s – it represents the totality of who I am," ucap Michael.

4. Vitiligo menjadi titik awal perubahan kehidupan sang King of Pop

Michael Jackson (dok. CNN/How It Really Happened with Hill Harper)

Empat tahun setelah kesuksesan Thriller, karier solo Michael Jackson mulai menunjukkan kemerosotan, salah satunya dipengaruhi oleh kondisi kesehatannya. Dalam wawancara dengan Oprah Winfrey di The Oprah Winfrey Show pada 1993, Michael mengungkapkan bahwa dirinya didiagnosis menderita vitiligo. Vitiligo merupakan penyakit yang menyebabkan hilangnya pigmen kulit sehingga memunculkan bercak-bercak putih pada tubuh penderitanya, dikutip Cleveland Clinic.

Penyakit ini membuat sang musisi yang lahir pada 29 Agustus 1958 selalu tampil dengan baju berlengan panjang dan sarung tangan untuk menyembunyikan perubahan warna kulitnya dari hadapan publik. Karena bercak-bercak putihnya semakin meluas, Michael menggunakan krim medis, seperti hydroquinone dan benoquin, untuk menjaga agar warna kulitnya tidak belang. Meski demikian, tindakan tersebut justru memicu berbagai kontroversi dan gosip yang ramai dibicarakan saat itu, termasuk dugaan penghilangan identitas ras.

5. Michael beberapa kali menerima tuduhan pelecehan anak di bawah umur

Michael Jackson menjalani sesi wawancara intensif dengan Martin Bashir untuk pembuatan Living With Michael Jackson (dok. Granada Television/Living With Michael Jackson)

Tak hanya berjuang melawan vitiligo, Michael Jackson juga harus menghadapi kasus hukum yang membuatnya kerap berhadapan dengan meja hijau. Semuanya dimulai pada Agustus 1993 ketika keluarga seorang anak bernama Jordan Chandler menuduh penyanyi yang dikenal lewat "Billie Jean" ini melakukan pelecehan terhadap buah hati mereka. Alhasil, pihak kepolisian Los Angeles pun turun tangan untuk melakukan penyelidikan, meskipun kasus tersebut akhirnya diselesaikan di luar pengadilan.

Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada Februari 2003, seorang jurnalis Inggris bernama Martin Bashir merilis film dokumenter berjudul Living With Michael Jackson (2003) yang menyoroti kehidupan pribadi sang King of Pop. Salah satu adegannya memperlihatkan Michael menggendong seorang remaja penyintas kanker disertai pernyataannya bahwa dirinya kerap berbagi ranjang dengan anak-anak. Walau Michael telah membantah semua tuduhan yang mencuat dari film ini, pihak berwenang kembali melakukan penyelidikan terkait tuduhan pelecehan yang menimpanya.

Puncaknya terjadi pada tanggal 28 Februari 2005 ketika Michael menjalani persidangan setelah menerima tuduhan dari Gavin Arvizo yang mengaku sebagai korban pelecehan. Persidangan pun berlangsung dengan perdebatan sengit antara pihak Michael dan Gavin. Akhirnya, sidang berakhir dengan juri memutuskan sang King of Pop tidak bersalah atas segala tuduhan pelecehan karena kurangnya bukti yang meyakinkan.

6. Michael meninggal dunia menjelang tur comeback This Is It

penampilan Michael Jackson selama latihan konser This Is It (dok. Sony Pictures Releasing/This Is It)

Memasuki usia 50 tahun, Michael Jackson merencanakan comeback melalui tur konser This Is It yang dijadwalkan berlangsung dari Juli 2009 sampai Maret 2010. Dia menjalani latihan intensif sekaligus gladi bersih selama sekitar enam jam setiap hari. Pada 25 Juni 2009, Michael mengalami kelelahan ekstrem serta insomnia akut yang membuat dokter pribadinya, Conrad Murray, memberikan sejumlah obat untuk membantunya tidur.

Nahasnya, Michael ditemukan tak bernyawa pada siang hari itu akibat overdosis propofol, obat bius kuat yang umumnya digunakan dalam prosedur medis. Dalam persidangan yang berlangsung di Los Angeles, Murray dinyatakan bersalah atas pembunuhan tidak disengaja serta divonis hukuman penjara selama empat tahun. Sementara itu, proses persiapan konser terakhirnya kemudian diabadikan menjadi sebuah film dokumenter This Is It (2009) yang menampilkan rekaman di balik layar persiapan tur comeback Michael yang tak pernah terwujud.

7. Kematian Michael menyisakan utang yang menggunung

Michael Jackson dalam MV "Thriller" (YouTube.com/Michael Jackson)

Sepeninggalannya, Michael Jackson disinyalir mengalami masalah finansial yang cukup serius menjelang akhir hidupnya. Berdasarkan sebuah dokumen di meja hijau, dia disebut mempunyai utang sekitar 400—500 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp6,9 triliun—Rp8,6 triliun, seperti yang dilaporkan oleh People. Dalam kesaksiannya pada 2013, akuntan William Ackerman menyoroti peningkatan beban finansial mendiang Michael dengan estimasi mencapai 30 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp516 miliar per tahun yang berasal dari akumulasi utang, bunga, dan biaya operasional.

Besarnya utang tersebut diduga diakibatkan oleh gaya hidup sang King of Pop yang mewah dan cenderung boros, termasuk pengeluaran untuk perhiasan, furnitur, serta berbagai kebutuhan pribadi lainnya. Michael juga tercatat memiliki kewajiban utang kepada sekitar 65 orang kreditur yang semakin memperparah kondisi keuangannya. Untuk menutupi utangnya, Michael bahkan menggunakan aset berharganya, termasuk hak kepemilikan katalog musik band The Beatles, sebagai jaminan pinjaman.

Di balik gemerlap panggung, Michael Jackson bukanlah sosok yang sepenuhnya lepas dari sisi kelam. Sang King of Pop menjadi sebuah bukti bahwa ketenaran dan kesuksesan harus dibayar mahal dengan kehidupan pribadi yang penuh tekanan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team