Perbedaan Novel dan Film Jangan Buang Ibu Menurut Sutradara, Apa Saja?

Jakarta, IDN Times - Setelah kesuksesan film horor Alas Roban, sutradara Hadrah Daeng Ratu kembali ke genre drama keluarga lewat film Jangan Buang Ibu. Dijadwalkan tayang di bioskop mulai 25 Juni 2026, film ini diadaptasi dari novel populer Jangan Buang Ibu, Nak karya Wahyu Derapriyangga yang pertama kali diterbitkan pada 2014.
Nah, dalam wawancara eksklusif bersama IDN Times, Hadrah menjelaskan bahwa dalam proses kreatifnya, ia dan tim produksi tidak hanya memindahkan cerita dari halaman ke layar, tetapi juga melakukan sejumlah penyesuaian agar ceritanya terasa lebih relevan dengan penonton masa kini. Apa saja?
1. Pengembangan karakter dan penamaan tokoh

Dalam wawancara eksklusif bersama IDN Times yang berlangsung di XXI Plaza Indonesia, Hadrah menegaskan bahwa pihaknya tetap setia pada cerita asli dengan mempertahankan karakter ibu yang memiliki tiga anak. Meski begitu, jika di dalam novelnya karakter anak-anak hanya disebut sebagai Sulung, Tengah, dan Bungsu, maka dalam versi filmnya, karakter tersebut dikembangkan lagi dengan nama yang lebih spesifik, seperti Tama, Dwi, dan Tri, yang sebenarnya tetap berakar dari versi novel.
“Kalau di novel kan disebutnya tiga anaknya, Sulung, Tengah, Bungsu, dan itu tetap kita pertahankan gitu. Cuma kita kasih nama-nama karakter yang sebenarnya, kayak Tama kan pertama, Dewi tuh Dwi gitu, anak tengah, Tria tuh Tri, anak ketiga gitu. Maksudnya setiap yang kita berikan nama baru di skenario itu berdasarkan dari novelnya,” ungkapnya, Kamis (11/6/2026).
Menurut Hadrah, perubahan ini dilakukan untuk membantu penonton agar lebih mudah mengenali dan merasa terhubung dengan setiap karakter, sekaligus memperjelas peran serta konflik masing-masing anak dalam cerita.
2. Perluasan sudut pandang cerita

Hadrah melanjutkan, jika novel lebih berfokus pada sosok ibu sebagai pusat cerita, versi filmnya justru memperluas perspektif dengan mengeksplorasi kehidupan anak-anaknya. Hal ini dilakukan untuk menghadirkan konflik yang lebih berlapis, terutama terkait dilema anak yang harus menyeimbangkan antara mengurus keluarga kecilnya, menjalani pekerjaannya, serta memenuhi tanggung jawab terhadap ibu.
Menurut Hadrah, pendekatan ini pada akhirnya membuat cerita tidak hanya berpusat pada satu sudut pandang saja, tetapi menjadi lebih luas, sehingga bisa relevan bagi para penonton lintas generasi.
“Kita pengin tidak hanya menceritakan sentralnya di ibu saja, tapi di anak-anaknya juga, biar penontonnya range-nya lebih lebar. Bukan cuma sebagai ibu saja yang sudah melahirkan anak, ngurus anak, tapi bagaimana sih rasanya menjadi seorang anak yang harus dilema antara ngurus ibu dan ngurus keluarga kecil barunya dan pekerjaannya.”
3. Penyesuaian cerita dengan realitas masa kini

Dalam wawancara yang berlangsung sekitar 10 menit, Hadrah menjelaskan bahwa pengembangan cerita dalam film ini juga dipengaruhi oleh realitas sosial saat ini serta pengalaman pribadi tim produksi. Ia menyebut, ada banyak memori masa kecil dan pengalaman mereka dengan ibu yang dimasukkan ke dalam skenario, sehingga tanpa disadari justru memperkaya emosi cerita.
“Film ini tuh kayak milik kita semua. Jadi, baik saya, produser, penulis, kita menaruh banyak memori-memori masa kecil kita, memori-memori hubungan kita dengan ibu ke dalam film ini dan ternyata banyak gitu kesamaannya, seperti perasaan itu tuh semua orang jadi, ‘Oh iya, kamu juga ya sama ibu begini ya, sama ibu begini ya gitu,” kata Hadrah.
Ia melanjutkan, “Akhirnya menurut aku, pengalaman-pengalaman, memori kepingan-kepingan masa kecil itu tuh jadi memperkaya skenario. Dan aku makin yakin banget bahwa film ini ada buat semua orang.”
Karena film merupakan medium audio-visual, tim produksi juga menyesuaikan beberapa bagian alur untuk kebutuhan dramatisasi. Perubahan ini pun juga terjadi pada bagian ending, namun tidak signifikan.
“Yang pasti karena ini film, mediumnya kan audio-visual. Ada yang kita dramatisasi gitu, ada sedikit perubahan, tapi kecil untuk bagian ending-nya.”
Dibintangi oleh sederet aktor ternama, mulai dari Nirina Zubir, Amanda Manopo, hingga Refal Hady, film ini mengikuti kisah perjuangan seorang ibu bernama Ristiana yang ditinggalkan oleh suaminya. Namun, setelah berbagai perjuangannya, ia justru dititipkan di sebuah panti jompo oleh ketiga anaknya dan kerap merasa kesepian.


















