Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kristo Ungkap Fakta di Balik Proses Penulisan Naskah Tinggal Meninggal

Kristo Immanuel, sutradara dan penulis naskah film Tinggal Meninggal
Kristo Immanuel, sutradara dan penulis naskah film Tinggal Meninggal (dok. Pribadi/Tinggal Meninggal)
Intinya sih...
  • Kristo Immanuel dan Jessica Tjiu butuh waktu 1 tahun garap naskah Tinggal Meninggal
  • Penulisan karakter di naskah dibuat se-relate mungkin, karena ada alasan di baliknya!
  • Penulisan dialog komedi pada naskah terasa real karena didasari oleh inner thoughts Kristo
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Tinggal Meninggal menghadirkan angin segar lewat penceritaan yang rapi, unik, dan relate dengan keseharian penonton. Perasaan itu hadir berkat gaya bercerita Kristo Immanuel dan Jessica Tjiu yang lugas, menyenangkan, tapi sedikit "aneh".

Siang itu, saya berbincang dengan Kristo Immanuel, sutradara dan penulis naskah dari film Tinggal Meninggal (2025). Dari perbincangan hangat lewat sambungan Zoom, saya baru mengetahui ternyata teknik break the fourth wall hingga dialog komedi yang disajikan dalam film hadir untuk memperkuat karakter dan penceritaan.

Selain itu, Kristo juga mengungkapkan kepada saya bagaimana proses pembuatan naskah, sekaligus perannya dan Jessica Tjiu sebagai co-writer di film ini. Simak selengkapnya #COD (Cerita Orang Dalam) bersama Kristo Immanuel, sutradara dan penulis naskah film Tinggal Meninggal (2025) berikut ini.

Table of Content

1. Kristo Immanuel dan Jessica Tjiu butuh waktu 1 tahun garap naskah Tinggal Meninggal

Kristo Immanuel, sutradara dan penulis naskah film Tinggal Meninggal
Kristo Immanuel, sutradara dan penulis naskah film Tinggal Meninggal (dok. Pribadi/Tinggal Meninggal)

Meski premis Tinggal Meninggal (2025) datang dari Kristo, tapi proses pengembangan ide, termasuk sinopsis, treatment, dan naskah dilakukan bersama dengan Jessica Tjiu, co-writer sekaligus istrinya. Sejak awal, Kristo ingin mengangkat kisah tentang orang kesepian yang beranggapan bahwa kabar duka akan menjadi pemantik untuk menarik perhatian teman-temannya.

"Premis itu sebenarnya datang dari aku dulu, tapi saat sudah menjadi sinopsis, perkembangan idenya itu dari kita berdua," ungkap Kristo Immanuel melalui interview virtual pada Selasa (27/1/2026).

Setelah itu, Kristo dan Tjiu, panggilan akrab sang istri, kerap brainstorming di mobil hingga kafe untuk menyelesaikan keseluruhan sinopsisnya. Pembuatan naskah ini Kristo dan Tjiu lakukan bersama-sama, tanpa ada pembagian khusus, termasuk saat membuat jokes atau dialog komedi.

"Kalau ditanya bagian mana yang Tjiu, bagian mana yang aku, gak ingat juga gitu kalau secara full ya. Jokes-nya pun banyak yang bareng-bareng gitu, ada yang dari aku, ada yang dari dia juga gitu," tambahnya sembari tertawa.

Pembuatan draft pertama Tinggal Meninggal (2025) memang hanya memakan waktu sekitar tiga bulan. Namun, sampai naskah benar-benar jadi, Kristo dan Tjiu mengungkap butuh waktu sekitar satu tahunan.

2. Penulisan karakter di naskah dibuat se-relate mungkin, karena ada alasan di baliknya!

Kristo Immanuel, sutradara dan penulis naskah film Tinggal Meninggal
Kristo Immanuel, sutradara dan penulis naskah film Tinggal Meninggal (dok. Pribadi/Tinggal Meninggal)

Saat menonton Tinggal Meninggal (2025), kamu sempat ngerasa relate dengan kepribadian atau perilaku dari karakter di film ini, gak? Tahu gak sih, ternyata hal itu terjadi karena karakter-karakter di Tinggal Meninggal (2025) memang terinspirasi dari orang-orang yang pernah Kristo temui.

"Saat menciptakan karakter, aku balik lagi berangkat dari kejujuran. Tapi at the same time, karena aku membuat film yang larger than life yang memang sebuah portrayal dari society. Jadinya aku mencari stereotip dari orang-orang yang aku lihat," jelas Kristo.

Selain itu, Kristo juga tidak ingin membuat karakter yang benar-benar sempurna, maka dari itu mereka pasti digambarkan memiliki kekurangan. Lewat film ini, Kristo ingin mengajak masyarakat memaklumi kekurangan orang lain, bukannya malah menghujat.

"Sama kayak Gema, dia suka ngomong sendirian, gak bisa bersosialisasi. Dalam tanda kutip untuk society itu kekurangan dia. Cuma that's the beauty of human menurutku. Justru saat dia punya kekurangan, itu yang membuat manusia menjadi semakin indah," tutur lulusan Universitas Multimedia Nusantara ini.

Kepada IDN Times, Kristo sempat spill kalau dia kaget Mawar Eva de Jongh bisa memerankan sosok Kerin yang funny, tapi satir. Sementara saat pertama kali ngobrol dengan Omara Esteghlal, Kristo langsung yakin bahwa dia adalah Gema.

"Dari obrolan pertama aku sudah tahu Omara yang akan memerankan Gema, karena dia memiliki micro expression yang aku ngerasa ini tepat sekali untuk Gema," ujarnya.

3. Penulisan dialog komedi pada naskah terasa real karena didasari oleh inner thoughts Kristo

Kristo Immanuel, sutradara dan penulis naskah film Tinggal Meninggal
Kristo Immanuel, sutradara dan penulis naskah film Tinggal Meninggal (dok. Pribadi/Tinggal Meninggal)

Dialog komedi yang disajikan di film Tinggal Meninggal (2025) memang menghadirkan kesan absurd, tapi tetap bisa dinikmati. Bernuansa dark comedy dan satir, ternyata dialog-dialog itu datang dari inner thoughts Kristo, lho.

"Aku menerapkan dialog-dialog inner thoughts yang aku keluarin," ungkap pemeran Pelor di film The Big 4 (2022) ini.

Jika film pada umumnya menampilkan dialog yang sudah di-filter, Kristo justru ingin melakukan kebalikannya. Bagi sebagian orang, mungkin dialognya terkesan tidak normal, tapi justru sisi itu yang ingin Kristo angkat.

"Makanya dialog-dialognya bagi orang-orang neurotypical, maksudnya orang-orang dalam tanda kutip normal, mungkin banyak yang nonton Tinggal Meninggal kayak, 'Hah, kok gitu sih?' Tapi buat orang-orang seperti Gema, mereka relate banget. Memang yang aku harapkan adalah saat nonton bareng, selesai filmnya nonton, emang ini (menjadi) conversation starters," lanjutnya.

4. Kristo sebut teknik breaking the fourth wall sudah direncanakan sebelum naskahnya dibuat

Kristo Immanuel, sutradara dan penulis naskah film Tinggal Meninggal
Kristo Immanuel, sutradara dan penulis naskah film Tinggal Meninggal (dok. Pribadi/Tinggal Meninggal)

Keunikan lain di film Tinggal Meninggal (2025) adalah penggunaan teknik breaking the fourth wall yang dilakukan karakter Gema. Ternyata, sejak dulu Kristo memang ingin membuat film dengan pendekatan ini, lho!

"Breaking the fourth wall itu adalah sebuah teknik yang dari dulu sekali aku pengen banget bikin untuk film-filmku nanti. Akhirnya terealisasikan di Tinggal Meninggal," kata Kristo yang hari itu memakai hoodie hitam dengan hood orange.

Namun, teknik ini baru dipikirkan lebih matang saat sudah memasuki tahap pembuatan treatment, ringkasan detail cerita. Menurut Kristo, penggunaan teknik ini justru membantu orang-orang neurotypical memahami keunikan dari point of view Gema.

"Aku pengen bikin orang jadi real, jadi mengerti point of view yang seperti Gema. Orang-orang yang seperti Gema juga pas nonton Tinggal Meninggal, mereka jadi berasa dibaca gitu, 'Aduh, iya lagi.' Kayak embarassingly relatable mereka, tapi agak-agak malu kecil gitu," lanjutnya.

5. Ternyata, ada beberapa adegan di film yang berbeda dari naskah, salah satunya yang spill kebohongan di lift

Kristo Immanuel, sutradara dan penulis naskah film Tinggal Meninggal
Kristo Immanuel, sutradara dan penulis naskah film Tinggal Meninggal (dok. Pribadi/Tinggal Meninggal)

Saat proses produksi, Kristo dan Tjiu memang beberapa kali menyesuaikan naskah dengan kondisi di lapangan. Namun, di antara semua adegan, ada satu yang perubahannya cukup besar dan justru memberi kesan mendalam bagi penonton.

"Yang major banget itu di akhir, di lift. Jadi di script awalnya itu, yang ngaku cuma Mario doang. Si Danu doang yang ngaku kalau dia sebenarnya selama ini bohong. Terus habis itu setelah dia ngaku, si Mawar marah-marah, 'Siapa lagi yang bohong? Siapa lagi yang bohong?' Terus tiba-tiba pintunya tertutup," ceritanya.

Ternyata Shindy Huang, pemeran Adriana yang menyarankan agar semua karakter juga spill kebohongan mereka masing-masing. Menurut Kristo, ide itu cukup menarik, karena relate dengan kehidupan orang-orang yang selalu butuh validasi.

"Sebenarnya memang yang mau aku tunjukkan adalah secara satir dunia di mana orang-orang ini butuh validasi. It doesn't have to be realistic memang. Niatku bikin film ini bukan pendekatannya very realis gitu. Memang it's portrayal of our society yang semuanya butuh validasi, semuanya butuh perhatian. Jadi kita bikin ya udah semuanya aja (spill) kebohongan, kecuali Pak Cokro ya," jelas Kristo yang diakhiri dengan tertawa.

Bukan hanya filmnya yang menyenangkan, ternyata proses brainstorming hingga pembuatan naskahnya juga cukup menarik untuk diikuti. Perbincangan saya dan Kristo masih berlanjut, nantikan artikel selanjutnya di IDN Times, ya!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Indra Zakaria
EditorIndra Zakaria
Follow Us

Latest in Hype

See More

Berapa Usia Papa Zola dalam Serial Boboiboy?

01 Feb 2026, 10:39 WIBHype