Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

3 Kritik Sosial yang Disenggol Film Obsession, Berlaku untuk Semua

3 Kritik Sosial yang Disenggol Film Obsession, Berlaku untuk Semua
Obsession (dok. Focus Features/Obsession)
Share Article

Sebulan belakangan, film Obsession jadi sensasi global yang susah buat dihindari. Padahal, premisnya terdengar sederhana: seorang pria yang dapat keinginannya secara instan, tetapi semua berubah jadi petaka. Dalam film, cerita macam itu dikenal dengan Monkey’s Paw trope, diadopsi dari judul cerpen karangan WW Jacobs yang dirilis lebih dari 100 tahun lalu. Cerpen itu berkisah tentang sesosok makhluk mistis yang menawarkan tiga permintaan pada beberapa bocah dan tiap keinginan tersebut akan diwujudkannya dalam versi paling mengerikan.

Obsession jelas bukan yang pertama pakai trope macam ini. Ada The Craft (1996) dan The Substance (2024) yang memakainya lebih dahulu. Lantas, apa yang bikin Obsession dicap brilian? Ini bukan hanya tentang pesan moral soal pentingnya menghargai proses dan menghindari pemaksaan kehendak. Kalau kamu teliti lebih jauh, film ini kaya observasi sosial yang bisa membuat banyak orang tertampar. Apa itu?

1. Mentalitas incel yang mungkin dimiliki banyak pria tanpa mereka sadari

Obsession
Obsession (dok. Focus Features/Obsession)

Salah satu istilah yang sering muncul saat membahas Obsession adalah incel, singkatan dari involuntary celibate, yang artinya terpaksa melajang. Istilah tersebut diperkenalkan seorang bloger perempuan (dengan nama samaran Alana) untuk menjuluki dirinya dan orang-orang yang merasa kesepian karena tak punya pasangan romantis. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, incel justru diadopsi oleh mayoritas pria yang terpaksa melajang karena merasa tak laku atau tertolak. Alasannya beragam, salah satunya bisa jadi karena diri mereka sendiri. Namun, bukannya introspeksi, incel justru menyalahkan pelaku penolakan yang mayoritas perempuan atas situasi tersebut.

Alhasil, incel identik dengan nilai-nilai misoginis, seksisme, antifeminisme, dan maskulinitas toksik. Dalam budaya pop, incel kerap tercermin lewat perilaku ekstrem, seperti pembunuhan massal dan femisida. Namun, Curry Barker memilih jalur yang agak beda dengan penggunaan elemen paradoks nice guy, seperti yang dilakukan Emerald Fennell dalam Promising Young Woman (2020) dan Edgar Wright dalam Scott Pilgrim vs. the World (2010).

Paradoks nice guy dalam Obsession terlihat jelas lewat sosok Bear (Michael Johnston) yang awalnya diperkenalkan sebagai sosok baik dan lugu. Namun, ketika ia akhirnya mendapat apa yang ia impikan selama ini, Nikki (Inde Navarrette), lewat sebuah benda bertuah, ia justru menikmatinya. Beberapa kali, batinnya berkata kalau apa yang ia lakukan salah, tetapi Bear memutuskan untuk memprioritaskan egonya. Karakter Bear memang tak terlihat seperti incel yang biasa diekspos dalam film dan berita karena agresif dan gampang melakukan kekerasan. Namun, banyak keputusannya yang bikin orang bergidik dan kesal. Ia punya banyak kesempatan untuk meminta bantuan teman-temannya, tetapi memilih diam. Ketika Nikki mulai melakukan hal-hal yang membahayakan diri, bahkan memohon kepadanya untuk mengakhiri penderitaan itu, Bear bergeming.

Barulah ketika tingkah Nikki yang kerasukan semakin tak terkontrol dan hidup Bear terusik, Bear bergerak. Opsi terakhir Bear untuk mengakhiri hidup pun sempat hendak ia batalkan karena dirinya terlalu egois. Lewat sosok Bear, kita dapat gambaran lebih lengkap soal incel. Mereka bukan cuma para pria agresif yang menunjukkan kebenciannya terhadap perempuan, tetapi juga orang-orang yang memanfaatkan keadaan untuk kepentingan mereka sendiri. Dalam kasus Bear, ia menikmati dominasi atas raga Nikki meski sebenarnya ia tahu jiwa Nikki tak bersamanya.

Bear juga mengira kebaikan dan keramahan Nikki otomatis merupakan bentuk perhatian romantis, sesuai dengan keyakinan banyak kaum seksis bahwa kodrat perempuan ialah melayani pria, termasuk kebutuhan emosional mereka. Kebaikan yang dianggap perhatian romantis juga sering muncul di kalangan penganut misoginis yang percaya bahwa perempuan memperlakukan semua hubungan sebagai transaksi. Menurut mereka, perempuan tidak tulus karena selalu ada maksud di balik kebaikan mereka dan itu bisa jadi interaksi romantis. Padahal, anggapan itu merupakan keyakinan para misoginis itu sendiri.

2. Proses hilangnya otonomi dalam hubungan toksik

Obsession
Obsession (dok. Focus Features/Obsession)

Observasi sosial lain bisa kamu temukan lewat perkembangan karakter Nikki. Ia perlahan kehilangan otonomi atas tubuhnya. Dalam film, alasannya ialah mantra yang diucapkan lewat dedalu mistis yang Bear iseng beli. Namun, sosok Nikki bisa jadi representasi orang-orang yang terjebak dalam hubungan toksik selama bertahun-tahun. Prosesnya pelan, tetapi amat destruktif.

Dalam hubungan toksik, pelaku cenderung menghancurkan mental korban dengan ancaman dan sikap manipulatif. Mereka kerap memegang “kartu” korban yang membuat mereka sulit atau berpikir berulang kali untuk keluar dari hubungan tak sehat itu. Caranya bisa dengan guilt trip (membuat mereka merasa bersalah), gaslight (membuat korban meragukan pikiran dan argumen mereka sendiri), love bombing (membanjiri korban dengan perhatian berlebih hingga mereka sulit menolak), sampai isolasi (membatasi interaksi korban dengan orang lain yang bisa menyadarkan mereka tentang hubungan toksik tersebut sekaligus memastikan korban bergantung sepenuhnya kepada pelaku).

Semua hal itu dilakukan Bear secara langsung dan tidak langsung. Pertama, ia menutupi kebenaran bahwa Nikki adalah korban guna-guna dari teman-teman terdekatnya. Kedua, ia mempertanyakan kewarasan Nikki tiap kali melakukan keanehan atau sesuatu yang mengganggu kenyamanan Bear.

3. Terlalu banyak orang yang tak peduli

Obsession
Obsession (dok. Focus Features/Obsession)

Kritik sosial terakhir yang disenggol Barker dalam Obsession ialah banyaknya orang yang memilih tak peduli, apalagi dalam konteks hubungan asmara yang dianggap sebagai ranah pribadi. Ini terlihat dari dua teman terdekat Nikki dan Bear, Ian (Cooper Tomlinson) dan Sarah (Megan Lawless). Ian sebenarnya sudah melihat gelagat aneh dari Nikki, tetapi memilih untuk tak ambil pusing. Begitu pula dengan Sarah, ia sibuk dengan dirinya sendiri.

Kedua orang ini merupakan representasi manusia modern kebanyakan yang dapat terlalu banyak stimulasi dalam hidup sampai akhirnya bingung harus memprioritaskan yang mana. Mereka merupakan cerminan masyarakat yang sudah teratomisasi karena kapitalisme dan teknologi. Mereka hidup untuk diri mereka sendiri karena terlalu banyak tekanan yang harus dipikir atau validasi yang ingin mereka dapat. Puncaknya, kita dapat bocoran kalau Nikki memang tak pernah mencintai Bear dan ia justru pernah menjalin hubungan putus nyambung dengan Ian. Ini jadi gong terakhir yang bikin semua teka-teki terjawab dan motif tiap karakter terjelaskan.

Obsession mengingatkan kita betapa banyaknya rahasia yang sebenarnya disimpan seseorang tanpa kita sadari. Kita merasa terhubung dengan banyak orang karena media sosial, tetapi sebenarnya tak benar-benar mengenal mereka luar dalam. Ini bahkan berlaku untuk orang-orang yang kamu anggap sebagai sirkel terdekat sekalipun.

Obsession memang pantas dapat pujian. Untuk sebuah premis yang sebenarnya tak baru, kemampuan Curry Barker mengembangkan jalan cerita dan karakter sedalam ini patut diacungi jempol. Ini bukan soal berhati-hati atas apa yang kamu pinta, tetapi sebuah tamparan keras yang ditujukan untuk semua orang, termasuk dirimu sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You

5 Film tentang Pertemanan Lansia, Sebuah Privilese

03 Jun 2026, 21:24 WIBHype
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More