Obsession (dok. Focus Features/Obsession)
Salah satu istilah yang sering muncul saat membahas Obsession adalah incel, singkatan dari involuntary celibate, yang artinya terpaksa melajang. Istilah tersebut diperkenalkan seorang bloger perempuan (dengan nama samaran Alana) untuk menjuluki dirinya dan orang-orang yang merasa kesepian karena tak punya pasangan romantis. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, incel justru diadopsi oleh mayoritas pria yang terpaksa melajang karena merasa tak laku atau tertolak. Alasannya beragam, salah satunya bisa jadi karena diri mereka sendiri. Namun, bukannya introspeksi, incel justru menyalahkan pelaku penolakan yang mayoritas perempuan atas situasi tersebut.
Alhasil, incel identik dengan nilai-nilai misoginis, seksisme, antifeminisme, dan maskulinitas toksik. Dalam budaya pop, incel kerap tercermin lewat perilaku ekstrem, seperti pembunuhan massal dan femisida. Namun, Curry Barker memilih jalur yang agak beda dengan penggunaan elemen paradoks nice guy, seperti yang dilakukan Emerald Fennell dalam Promising Young Woman (2020) dan Edgar Wright dalam Scott Pilgrim vs. the World (2010).
Paradoks nice guy dalam Obsession terlihat jelas lewat sosok Bear (Michael Johnston) yang awalnya diperkenalkan sebagai sosok baik dan lugu. Namun, ketika ia akhirnya mendapat apa yang ia impikan selama ini, Nikki (Inde Navarrette), lewat sebuah benda bertuah, ia justru menikmatinya. Beberapa kali, batinnya berkata kalau apa yang ia lakukan salah, tetapi Bear memutuskan untuk memprioritaskan egonya. Karakter Bear memang tak terlihat seperti incel yang biasa diekspos dalam film dan berita karena agresif dan gampang melakukan kekerasan. Namun, banyak keputusannya yang bikin orang bergidik dan kesal. Ia punya banyak kesempatan untuk meminta bantuan teman-temannya, tetapi memilih diam. Ketika Nikki mulai melakukan hal-hal yang membahayakan diri, bahkan memohon kepadanya untuk mengakhiri penderitaan itu, Bear bergeming.
Barulah ketika tingkah Nikki yang kerasukan semakin tak terkontrol dan hidup Bear terusik, Bear bergerak. Opsi terakhir Bear untuk mengakhiri hidup pun sempat hendak ia batalkan karena dirinya terlalu egois. Lewat sosok Bear, kita dapat gambaran lebih lengkap soal incel. Mereka bukan cuma para pria agresif yang menunjukkan kebenciannya terhadap perempuan, tetapi juga orang-orang yang memanfaatkan keadaan untuk kepentingan mereka sendiri. Dalam kasus Bear, ia menikmati dominasi atas raga Nikki meski sebenarnya ia tahu jiwa Nikki tak bersamanya.
Bear juga mengira kebaikan dan keramahan Nikki otomatis merupakan bentuk perhatian romantis, sesuai dengan keyakinan banyak kaum seksis bahwa kodrat perempuan ialah melayani pria, termasuk kebutuhan emosional mereka. Kebaikan yang dianggap perhatian romantis juga sering muncul di kalangan penganut misoginis yang percaya bahwa perempuan memperlakukan semua hubungan sebagai transaksi. Menurut mereka, perempuan tidak tulus karena selalu ada maksud di balik kebaikan mereka dan itu bisa jadi interaksi romantis. Padahal, anggapan itu merupakan keyakinan para misoginis itu sendiri.