Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Lagu Hits Era 80-an yang Awalnya Kurang Mendapat Perhatian

5 min read
5 Lagu Hits Era 80-an yang Awalnya Kurang Mendapat Perhatian
Talking Heads (instagram.com/talkingheadsofficial)
  • Lima lagu era 1980-an, termasuk karya George Thorogood, Randy Newman, Alphaville, Billy Idol, dan Talking Heads, awalnya kurang sukses secara komersial atau gagal menembus Billboard Hot 100.

  • "Bad to the Bone" dikenal luas setelah muncul dalam film dan serial, sedangkan "I Love L.A." berkembang menjadi lagu kebanggaan Los Angeles yang kerap diputar saat kemenangan tim olahraga lokal.

  • "Forever Young", "Dancing with Myself", dan "Once in a Lifetime" memperoleh apresiasi bertahap melalui nostalgia, album kompilasi, interpretasi musisi lain, serta penampilan konser.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tidak semua lagu yang kemudian dikenal luas langsung mendapatkan sambutan meriah ketika pertama kali dirilis. Ada sejumlah musisi yang justru harus menunggu cukup lama sebelum karya mereka benar-benar diapresiasi oleh pendengar. Bahkan, beberapa lagu sempat gagal menembus tangga lagu populer meskipun memiliki karakter musik dan lirik yang kuat.

Menariknya, waktu bisa mengubah nasib sebuah lagu. Berkat kemunculannya dalam film, acara televisi, hingga pengaruh musisi lain, lagu-lagu yang awalnya kurang diperhatikan akhirnya dikenal oleh lebih banyak orang. Era 1980-an memiliki sejumlah contoh menarik tentang hal tersebut. Berikut lima lagu hits era 80-an yang awalnya kurang mendapat perhatian, tetapi kemudian menjadi terkenal dan terus dikenang hingga sekarang.

  1. 1. "Bad to the Bone" — George Thorogood and the Destroyers

    George Thorogood and the Destroyers dikenal dengan gaya musik blues rock yang kental dan terdengar seperti band rock era 1950-an. Pada 1982, mereka merilis album keempat bertajuk Bad to the Bone yang memuat lagu dengan judul yang sama. Mengandalkan riff gitar blues yang mudah dikenali dan vokal George Thorogood yang kasar, lagu ini menggambarkan sosok pria tangguh dengan kepercayaan diri tinggi.

    Meski terdengar kuat dan punya karakter khas, popularitasnya pada awal perilisan ternyata belum terlalu besar. "Bad to the Bone" hanya mencapai posisi ke-27 di tangga lagu Billboard Mainstream Rock dan tidak berhasil masuk Billboard Hot 100. Namun, lagu ini perlahan mendapatkan perhatian berkat kemunculannya dalam berbagai film dan serial televisi.

    Beberapa di antaranya adalah Christine, Miami Vice, Lethal Weapon, Terminator 2: Judgment Day, dan Problem Child. Penggunaan lagu tersebut untuk memperkenalkan karakter yang berani atau penuh percaya diri membuatnya semakin mudah diingat hingga akhirnya menjadi salah satu karya paling ikonik dari George Thorogood.

  2. 2. "I Love L.A." — Randy Newman

    Randy Newman merupakan penyanyi sekaligus penulis lagu yang dihormati karena liriknya yang cerdas dan sering mengandung sindiran. Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah "I Love L.A." yang dirilis pada 1983. Lagu ini sekilas terdengar seperti pujian terhadap kehidupan di Los Angeles, lengkap dengan gambaran cuaca cerah, mobil, dan suasana kota yang menyenangkan.

    Namun, jika diperhatikan lebih jauh, liriknya sebenarnya memiliki sentuhan satire yang menyindir sikap masyarakat dan kehidupan di kota tersebut. Walaupun tidak berhasil masuk Billboard Hot 100, "I Love L.A." justru berkembang menjadi semacam lagu kebanggaan kota Los Angeles.

    Lagu ini kerap diputar di stadion ketika tim olahraga lokal seperti Los Angeles Dodgers dan Los Angeles Lakers meraih kemenangan. Bahkan, ketika Cable Music Channel mulai mengudara pada 1984, video musik "I Love L.A." menjadi tayangan pertama mereka.

  3. 3. "Forever Young" — Alphaville

    Band synth-pop asal Jerman, Alphaville, sempat menarik perhatian pendengar Amerika Serikat melalui lagu "Big in Japan" pada 1984. Namun, lagu berikutnya yang berjudul "Forever Young" justru tidak langsung mengikuti kesuksesan tersebut. Balada bernuansa melankolis ini hanya mencapai posisi ke-93 di Billboard Hot 100 dan posisi ke-32 di tangga lagu dance.

    Seiring berjalannya waktu, "Forever Young" mulai mendapatkan tempat tersendiri di hati pendengar. Lagu ini sering digunakan sebagai pengiring acara kelulusan sekolah dan menjadi favorit sejumlah stasiun radio yang ingin menghadirkan suasana nostalgia.

    Popularitasnya bahkan melahirkan berbagai interpretasi baru, salah satunya melalui lagu "Young Forever" milik Jay-Z yang menggunakan elemen dari karya Alphaville tersebut. Pada 2025, versi remix David Guetta dan Ava Max juga berhasil mencapai posisi puncak Billboard Dance/Mix Show Airplay.

  4. 4. "Dancing with Myself" — Billy Idol

    Billy Idol lebih dulu memiliki perjalanan musik yang berakar pada punk rock. Salah satu karyanya, "Dancing with Myself", dirilis pada 1981 setelah ia meninggalkan band Generation X dan memulai karier solo. Meski kemudian menjadi salah satu lagu andalannya, karya tersebut awalnya tidak berhasil menarik perhatian besar dan hanya mencatatkan posisi rendah di tangga lagu dance Amerika Serikat.

    Ketika lagu-lagu Billy Idol yang lebih mudah diterima radio mulai meraih kesuksesan pada 1982, label rekamannya kembali merilis "Dancing with Myself". Namun, upaya tersebut belum berhasil membawanya masuk Billboard Hot 100.

    Meski begitu, Billy Idol tetap sering membawakan lagu ini dalam konser karena dianggap mewakili akar musik punk yang membentuk kariernya. Keadaan mulai berubah setelah lagu tersebut dimasukkan ke album kompilasi Vital Idol pada 1985, yang berhasil terjual hingga satu juta kopi.

  5. 5. "Once in a Lifetime" — Talking Heads

    Talking Heads dikenal sebagai band yang berani mengeksplorasi berbagai gaya musik, mulai dari new wave hingga art rock. Salah satu eksperimen paling menarik mereka hadir melalui "Once in a Lifetime" yang dirilis pada 1980 dalam album Remain in Light. Lagu ini memadukan permainan bass yang menonjol, lapisan keyboard, serta vokal David Byrne yang bergantian antara nyanyian dan pengucapan seperti sedang berbicara.

    Meskipun mendapat banyak pujian dari kritikus musik, "Once in a Lifetime" awalnya tidak terlalu sukses secara komersial. Lagu tersebut hanya sempat muncul secara terbatas di tangga lagu dance dan gagal masuk Billboard Hot 100. Namun, karakter musiknya yang tidak biasa membuatnya semakin dihargai seiring berjalannya waktu. Setelah Talking Heads bubar pada awal 1990-an, David Byrne tetap sering membawakan lagu ini dalam penampilan solonya karena banyak diminta oleh penonton.

    Perjalanan kelima lagu tersebut menunjukkan bahwa popularitas sebuah karya tidak selalu bisa diukur dari pencapaiannya saat pertama kali dirilis. Dari lima lagu hits era 80-an yang awalnya kurang mendapat perhatian ini, mana yang paling menarik untuk didengarkan kembali?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More