5 Lagu yang Tetap Ikonik Meski Liriknya Tanpa Makna Jelas

- "MMMBop" - Hanson
- Lirik acak yang terdengar ceria
- Mengajak menikmati momen lewat energi musiknya
- "Na Na Na" - My Chemical Romance
- Lagu dengan chant massal yang bermakna
- Teriakan bersama ribuan orang di konser lebih penting daripada lirik kompleks
- "De Do Do Do, De Da Da Da" - The Police
- Kesederhanaan lirik membuat lagu kuat dan emosional
- Musik bisa berbicara langsung ke perasaan tanpa kalimat puitis
Tidak semua lagu legendaris lahir dari lirik yang penuh filosofi atau cerita yang jelas. Faktanya, ada banyak lagu besar yang justru bertahan lintas generasi meski kata-katanya terdengar acak, repetitif, atau bahkan seperti asal bunyi. Aneh tapi nyata, justru di situlah daya tariknya.
Dalam industri musik pop dan rock, emosi sering kali lebih penting daripada arti harfiah. Nada, energi, dan cara lagu itu dirasakan sering kali jauh lebih berpengaruh dibanding makna kata per kata. Berikut ini lima lagu ikonik yang membuktikan bahwa lirik tidak selalu harus masuk akal untuk menjadi abadi.
1. “MMMBop” – Hanson
Sekilas, “MMMBop” terdengar seperti lagu ceria dengan lirik yang nyaris tidak bisa diterjemahkan. Bagian reffrain-nya bahkan didominasi bunyi “mmmbop” yang membuat banyak orang mengira lagu ini sekadar lagu pop ringan tanpa pesan. Padahal, jika diperhatikan di bagian verse, lagu ini berbicara tentang siapa yang akan tetap ada saat segalanya berubah.
Masalahnya, pesan itu tertutup oleh cara menyanyi yang cepat dan chorus yang super adiktif. Justru bagian paling tidak bermakna itulah yang membuat lagu ini melekat di kepala. Tanpa disadari, “MMMBop” berhasil menyampaikan ide tentang menikmati momen lewat energi musiknya, bukan lewat kata-kata rumit.
2. “Na Na Na” – My Chemical Romance
My Chemical Romance dikenal dengan lirik gelap dan penuh konsep, tapi lagu ini justru terasa seperti ledakan energi tanpa perlu dipikirkan terlalu dalam. Dari detik pertama, pendengar langsung diserbu teriakan “na na na” yang terdengar ceria, agresif, dan sedikit mengganggu. Anehnya, justru itulah yang bikin lagu ini terasa hidup.
Bagian verse memang bercerita tentang dunia yang kacau dan karakter dengan moral abu-abu, tapi semua itu terasa kalah penting dibanding chant massal di reffrain. Lagu ini membuktikan bahwa kadang, teriakan bersama ribuan orang di konser jauh lebih bermakna daripada lirik dengan metafora kompleks.
3. “De Do Do Do, De Da Da Da” – The Police
Sting menulis lagu ini sebagai refleksi tentang keterbatasan bahasa. Ia mengakui bahwa kata-kata sering gagal menangkap emosi manusia secara utuh. Maka lahirlah chorus yang terdengar seperti lagu anak-anak, penuh bunyi sederhana yang nyaris tanpa arti literal.
Ironisnya, justru kesederhanaan itulah yang membuat lagu ini kuat. “De Do Do Do, De Da Da Da” terasa jujur, ringan, dan emosional tanpa perlu kalimat puitis. Lagu ini seakan mengingatkan bahwa musik bisa berbicara langsung ke perasaan, bahkan saat liriknya terdengar konyol.
4. “The Ketchup Song (Aserejé)” – Las Ketchup
Sejak pertama kali meledak di awal 2000-an, “The Ketchup Song” langsung jadi fenomena global meski liriknya terdengar seperti bahasa asing yang tidak pernah diajarkan di sekolah mana pun. Bagian “Aserejé ja de jé” membuat banyak orang bingung, bahkan memunculkan teori konspirasi aneh tentang pesan tersembunyi. Padahal kenyataannya jauh lebih sederhana dan tidak seseram itu.
Las Ketchup kemudian menjelaskan bahwa bagian tersebut sebenarnya adalah pelafalan ngawur dari lirik lagu rap “Rapper’s Delight” yang dinyanyikan seseorang dalam kondisi mabuk. Namun alih-alih terdengar jelas, hasilnya justru menjadi rangkaian kata acak yang ikonik. Meski maknanya nyaris nihil, lagu ini sukses besar karena ritmenya catchy
5. “I Am the Walrus” – The Beatles
The Beatles sengaja menulis lagu ini untuk mengecoh orang-orang yang terlalu serius menganalisis lirik mereka. Hasilnya adalah rangkaian kata absurd tentang walrus, telur, dan kalimat aneh yang terasa seperti mimpi aneh. Secara logika, lagu ini hampir tidak bisa dirangkai maknanya.
Namun secara musikal, “I Am the Walrus” sangat berani dan ikonik. Eksperimen suara, aransemen unik, dan sikap cuek terhadap makna justru membuatnya dikenang. Lagu ini menjadi bukti bahwa kebebasan berekspresi kadang lebih penting daripada kejelasan pesan.
Lagu-lagu ini menunjukkan bahwa musik tidak selalu soal makna literal. Kadang, kekuatan terbesar justru datang dari emosi, energi, dan kebersamaan yang tercipta saat lagu diputar. Kalau sebuah lagu bisa membuat kita merasa sesuatu, apakah liriknya masih harus selalu masuk akal?


















