Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Makna Lagu di Album (Jangan) Jatuh Cinta - Dee Lestari, Bak Novel!
Artwork untuk album ketiga Dee Lestari bertajuk (Jangan) Jatuh Cinta (dok. Dee Lestari)
  • Dee Lestari merilis album ketiganya berjudul (Jangan) Jatuh Cinta pada 10 Juni 2026, menggambarkan perjalanan emosional cinta dengan akhir bahagia layaknya novel karyanya.
  • Setiap lagu di album ini membentuk alur cerita romansa, mulai dari peringatan jatuh cinta, patah hati, hingga menemukan kembali harapan dan kebahagiaan.
  • Kolaborasi dengan Afgan dan dedikasi untuk mendiang Reza Gunawan dalam lagu 'Cuma Satu Nama' menjadi momen paling personal bagi Dee di album ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dee Lestari resmi meluncurkan album ketiganya yang bertajuk (Jangan) Jatuh Cinta pada Rabu (10/6/2026). Menggarap lagu-lagunya sendiri, Dee sengaja menyusun daftar karya barunya ini sedemikian rupa untuk menggambarkan menggambarkan perjalanan hati mengarungi berbagai pengalaman cinta.

Adapun Dee secara khusus menyelipkan bahwa album ini akan berakhir happy ending, sama seperti buku-buku best seller miliknya. Penasaran apa saja makna lagu yang dijahit agar menjadi sebuah jalinan cerita bak novel romansa? Simak selengkapnya di bawah ini!

1. (Jangan) Jatuh Cinta

Lagu "(Jangan) Jatuh Cinta" menjadi title track track dalam album ini. Proses rekamannya cukup cepat, liriknya menggambarkan peringatan agar sang hati tak jatuh cinta. Namun, perasaan tersebut tak bisa lagi dihindari.

"Jangan Jatuh Cinta adalah sebuah peringatan. Nanti gini-gini lho. Tapi hati siapa yang bisa mengendalikan? Jadi jatuh (cinta) lah dia," ungkap Dee Lestari dalam konferensi pers pada Rabu (3/6/2026).

2. Patah Hati

Lagu kedua di album ini bertajuk "Patah Hati", menggambarkan pengalaman pertama hati yang patah akibat cinta yang tak bisa ia hindari. Menariknya, karya ini lahir dari permintaan Titi DJ kepada Dee Lestari supaya menciptakan lagu untuknya. Namun, akhirnya lagu ini ia rilis sendiri, karena kurang cocok dengan tema konser yang diinginkan Titi.

3. Kabarku

Sementara itu, "Kabarku" jadi lagu paling menyayat hati bagi Dee Lestari. Liriknya menggambarkan momen terendah saat sosok yang ia rindukan mendadak menanyakan kabar dirinya.

"Di dalam struktur cerita, ada satu namanya all is lost. Itu tuh kita di jurang, kita di jurang penderitaan. Nah, ini lah lagu itu," ujar Dee.

4. Hujan Bulan Juni

Di lagu ini, sang hati kembali menemukan harapan dalam dinamika perasaan yang masih harus ia negosiasikan. Puisi legendaris Sapardi “Hujan Bulan Juni” menjadi basis liriknya. Kendati demikian, Dee menegaskan lagu ini bukan musikalisasi puisi dan awalnya ditujukan untuk soundtrack film berjudul sama yang dirilis pada 2017 silam.

""Walaupun 'Hujan Bulan Juni' yang versi saya ini tidak bisa disebut musikalisasi puisi, tapi lebih kepada menggunakan 'Hujan Bulan Juni' puisi sebagai basis dari lagu saya, karena ada pengembangan. Berhubung memang, lagu ini tadinya buat film. Jadi cerita lagunya disesuaikan untuk kebutuhan film saat itu," ujar Dee.

5. Jadi Udara

Berbeda nuansa, "Jadi Udara" adalah sebuah perumpaan udara segar sekaligus memulai babak manis. Dalam lagu ini, sang hati menemukan hati lain yang akhirnya memupuskan ketidakpastian. Lucunya, tim manajemen Dee Lestari termasuk Kamga Mo, penata vokalnya, ikut bernyanyi di dapur rekaman.

6. Perahu Kertas

Soal "Perahu Kertas," Dee menuturkan lagu ini menjadi momen syukurnya bertemu hati yang sejalan. "Lagu ini jadi rasa syukurnya. Akhirnya kau kutemukan di antara milyaran manusia," ujar Dee.

Ia melanjutkan, "Lagu yang sebetulnya tidak baru, tapi ini salah satu signature ciptaan saya, dan meski sudah bertahun-tahun lamanya sudah dibawakan Maudy Ayunda, akhirnya saya bisa punya versi sendiri."

7. Cuma Satu Nama

Setelah bersyukur menemukan sosok yang dicari, sang hati lalu memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Di lagu "Cuma Satu Nama", Dee Lestari berkolaborasi dengan Afgan. Lagu ini pun diciptakan oleh Dee bersama mantan suaminya yang meninggal dunia pada 2022 lalu.

"Cuma Satu Nama, merupakan satu-satunya ciptaan saya dan almarhum Reza Gunawan. Jadi ini adalah lagu kami, the one and only, sayangnya ia tidak sempat mendengarkan lagu ini direkam," ujar Dee.

8. Bintang Utara

Kematangan Sang Hati diuji ketika ia akhirnya belajar melepas dengan kerelaan. “Bintang Utara” sendiri menceritakan hubungan antara orang tua dan anak.

Ketika seorang anak tumbuh besar, di situ hati kembali belajar tentang makna cinta yang sesungguhnya. Judul lagu ini juga sejalan dengan buku anak yang akan segera dirilis oleh Dee Lestari.

Dari kedelapan lagu baru yang dirilis Dee Lestari, mana yang paling bermakna di hatimu?

Editorial Team

Related Article