suasana Forestra 2026 (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Menurut saya, sepertinya kita perlu menonton Forestra setidaknya sekali seumur hidup untuk merasakan langsung bagaimana musik dan alam berpadu dalam satu pengalaman. Bukan hanya karena aransemen megah Erwin Gutawa Orchestra atau deretan musisi yang tampil, tetapi juga karena konsep Forestra yang membuat penonton bisa menikmati pertunjukan dengan lebih santai di tengah hutan pinus Cikole.
Pengalaman itu sudah terasa sejak saya tiba di area festival. Sebelum gate utama dibuka, pengunjung bisa bersantai di area Gema sekaligus menikmati berbagai aktivitas yang tersedia. Menariknya, ada pula wellness drink gratis, seperti Wedang Jahe dan Wedang Bandrek yang terasa pas untuk menghangatkan tubuh di tengah udara Lembang yang dingin.
Saat memasuki area pertunjukan, suasananya pun semakin terasa berbeda. Di sini, penonton bisa menikmati pertunjukan dengan lebih santai, layaknya sedang piknik. Namun, suasana santai itu bukan berarti mengurangi kemeriahan. Ketika para musisi mulai menguasai panggung, penonton pun ikut larut dalam musik.
Salah satu momen yang paling berkesan bagi saya adalah ketika .Feast dan Hindia menguasai panggung. Dengan area panggung yang luas, mereka terlihat begitu leluasa mengeksplorasi penampilan. Saat .Feast membawakan “Kami Belum Tentu”, misalnya. Tak hanya mengguncang panggung lewat energi mereka yang membara, .Feast juga mendapatkan sentuhan berbeda dari aransemen Erwin Gutawa Orchestra. Lagu tersebut terdengar semakin megah, sementara aksi panggung seluruh personel .Feast membuat penampilannya terasa bak sebuah pertunjukan musikal.
Bagi saya, penampilan Hindia saat membawakan “everything u are” juga tak kalah berkesan. Bahkan, saya sampai berulang kali memutar kembali video penampilannya. Aransemen orkestranya terdengar begitu asyik, ditambah lagi, pembawaan Hindia yang terlihat begitu luwes di atas panggung, membuat penampilannya terasa semakin hidup.
Gak cuma .Feast dan Hindia, musisi lainnya seperti /rif, Mahalini, hingga Senyawa juga berhasil mempersembahkan penampilan apik bersama Erwin Gutawa Orchestra. Meski sempat mengaku deg-degan karena harus tampil bersama Erwin Gutawa, Mahalini tetap mampu memberikan penampilan yang memukau. Sementara itu, penampilan /rif juga terasa semakin meriah dengan riuh sing along dari penonton.
Senyawa pun juga membawa suasana yang berbeda. Musik mereka mengajak penonton merasakan atmosfer yang lebih magis dan eksperimental di tengah hutan pinus Cikole. Gak ketinggalan juga Naykilla, nih. Ia tampil membawakan lagu “SO ASU” dalam versi orkestrasi yang memberikan warna berbeda pada lagu tersebut.
Fun fact, udara di Cikole malam itu sebenarnya sangat dingin. Tapi, entah kenapa, setiap musisi muncul di atas panggung, rasa dingin tersebut seolah ikut menghilang.