Musikal Adaptasi Lagu Kian Diminati, Penonton Cari Experience Baru?

- Pertunjukan musikal adaptasi lagu makin diminati karena menawarkan pengalaman imersif yang menggabungkan musik, akting, koreografi, dan visual, berbeda dari konser biasa.
- Tren musikal jukebox di Indonesia menunjukkan respons positif; beberapa produksi seperti Interaksi, Pandangan Pertama, dan Senja Teduh Pelita sukses menarik penonton hingga tiket cepat habis.
- Keberhasilan musikal adaptasi juga dipengaruhi kekuatan katalog lagu dan loyalitas fanbase musisi seperti Maliq & D’Essentials yang mampu menjangkau generasi muda.
Jakarta, IDN Times - Perkembangan industri hiburan musik Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih bervariatif. Dalam beberapa tahun belakangan, mulai bermunculan pertunjukan musikal yang diadaptasi dari lagu-lagu musisi.
Jika dilihat dari antusiasme penonton, format tersebut juga memperlihatkan sambutan yang hangat. Terbaru, pertunjukan musikal Senja Teduh Pelita yang mengadaptasi lagu-lagu Maliq & D’Essentials bahkan berhasil menjual habis tiket hanya dalam waktu tiga hari saja.
Tentu saja fenomena tersebut memperlihatkan adanya pergeseran cara penonton menikmati musik, dari sekadar konser menjadi pengalaman yang lebih imersif dan naratif. Lantas, apakah benar penikmat musik saat ini mulai mencari experience baru dalam menikmati pertunjukan musik? Yuk, mari kita bahas!
1. Penikmat musik tak lagi sekadar cari konser, tapi juga experience baru?

Perkembangan industri musik Tanah Air tidak hanya melahirkan lebih banyak konser, tetapi juga memperluas cara penonton menikmati karya musisi favorit mereka. Jika sebelumnya konser menjadi pilihan utama, kini pertunjukan musikal adaptasi lagu mulai menunjukkan daya tarik tersendiri di kalangan para penikmat musik.
Cukup berbeda dengan konser pada umumnya, pertunjukan musikal adaptasi lagu menggabungkan katalog musik musisi dengan cerita, akting, koreografi, visual, hingga tata panggung yang terus berubah mengikuti alur pertunjukan. Oleh karena itu, Nuya Susantono, founder Jakarta Movin meyakini bahwa meningkatnya minat terhadap pertunjukan musikal ini tak lepas dari keinginan penonton untuk mendapatkan pengalaman yang lebih lengkap dalam menikmati musik.
“Menurut aku, musikal menjadi salah satu pilihan yang selain dapat menggali makna musik lebih dalam, tapi yang disajikan juga lebih banyak dan bervariatif, lebih spectacle. Kita tidak hanya menambahkan musik, tapi ada koreografi, ada akting, ada cerita yang diikuti, ada visual, ada set panggung yang berganti-ganti dan aku rasa penikmat musik Indonesia itu memang lagi merindukan experience itu, kata Nuya dalam wawancara singkat bersama IDN Times, Rabu (3/6/2026).
2. Perkembangan tren musikal jukebox di Indonesia menurut Nuya Susantono

Dalam wawancara singkat yang berlangsung di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, IDN Times juga sempat menanyakan pandangan Nuya terkait tren pertunjukan musikal di Indonesia, terutama format musikal yang diadaptasi dari katalog musisi atau yang juga dikenal sebagai musikal jukebox. Nah, menurutnya, respons penonton terhadap format musikal jukebox sejauh ini menunjukkan tren yang cukup positif. Nuya menilai antusiasme tersebut dari tiga produksi musikal jukebox yang telah mereka garap.
“Setelah melihat konsistensi penonton musikal, tiga kali jukebox berturut-turut dan sambutannya selalu baik. Itu artinya memang penonton Indonesia mencintai musikal.”
Sebelumnya, Jakarta Movin sukses menggelar pertunjukan musikal Interaksi yang diadaptasi dari lagu-lagu Tulus serta Pandangan Pertama dari RAN. Bahkan terbaru, Jakarta Movin siap menggelar pertunjukan musikal Senja Teduh Pelita yang diadaptasi dari lagu-lagu milik Maliq & D’Essentials. Menariknya, tiket pertunjukan Senja Teduh Pelita ini langsung ludes terjual hanya dalam tiga hari. Nuya pun mengaku gak menyangka, mengingat kondisi ekonomi masyarakat saat ini yang sedang tak menentu.
“Sejujurnya aku gak berekspektasi tiket akan sold out dalam tiga hari. Aku banyak khawatirnya karena lagi-lagi in this economy ya orang kan lagi harus banyak berhemat,” lanjutnya.
Oleh karena itu, Nuya berharap pertunjukan musikal ke depannya tidak lagi dianggap sebagai hiburan yang niche atau hanya dinikmati oleh kalangan tertentu.
3. Fanbase musisi juga jadi pertimbangan utama

Meskipun menawarkan format yang unik, Nuya mengakui tidak semua karya musisi bisa dengan mudah diadaptasi menjadi sebuah musikal. Selain memiliki katalog lagu yang kuat, keberadaan fanbase yang loyal juga menjadi salah satu faktor utama yang mereka pertimbangkan. Hal ini pula yang mereka lihat dari Maliq & D’Essentials. Menurutnya, meski telah berkarier selama lebih dari dua dekade, basis penggemar grup musik tersebut tetap berkembang, bahkan mampu menjangkau generasi yang lebih muda.
“Selain musiknya kualitasnya bagus, lagu-lagunya menarik dan bervariasi yang berpotensi membentuk peristiwa-peristiwa yang dibutuhkan cerita, tapi memang di salah satunya juga karena Maliq itu fans-nya semakin lama semakin banyak dan sangat setia.”
Menurut Nuya, dalam hal ini fanbase pun tidak hanya dapat membantu mendatangkan penonton pada masa awal penjualan tiket. Lebih dari itu, mereka juga berperan memperkenalkan dunia musikal kepada audiens baru yang sebelumnya mungkin hanya datang sebagai penikmat musik.
“Dan aku rasa, fans-fans Maliq ini juga lah yang akan meng-influence untuk penikmat musikal baru yang berasal dari penikmat musik generasi baru juga.”
Pada akhirnya, bisa dikatakan bahwa kesuksesan pertunjukan musikal adaptasi lagu lahir dari kombinasi berbagai faktor, termasuk katalog lagu yang kuat, fanbase yang loyal, serta kemampuan menghadirkan pengalaman yang berbeda dari hiburan musik pada umumnya. Di tengah banyaknya pilihan konser, pertunjukan musikal pun menawarkan sesuatu yang tidak hanya dapat didengar saja, tetapi juga dapat dirasakan dan diikuti sebagai sebuah cerita.


















