Garap Film Musikal Batak, Bene Dion dan Produser Pastikan Royalti Aman

Jakarta, IDN Times - Rumah produksi Imajinari tengah mempersiapkan film terbaru berjudul Pulang Kampung. Disutradarai oleh Bene Dion Rajagukguk, film ini mengusung genre unik yang disebut-sebut sebagai film musikal Batak pertama di Indonesia.
Sebagai film musikal, tentu Pulang Kampung akan dipenuhi lagu-lagu Batak. Dalam press conference yang berlangsung di Studio Sepat 72, Jakarta Selatan, Jumat (17/4/2026), Bene Dion menjelaskan bahwa lagu-lagu yang digunakan untuk film ini mayoritas merupakan lagu-lagu Batak lama yang sudah akrab di telinga publik, sehingga penonton diharapkan bisa bernyanyi bersama saat menyaksikannya di bioskop.
Nah, yang menjadi pertanyaan, bagaimana dengan aspek hak cipta dan royalti, yang belakangan juga menjadi sorotan di industri musik?
1. Proses kreatif di balik lahirnya cerita film Pulang Kampung, dikembangkan dari lagu-lagu Batak yang sudah ada

Kembali duduk di kursi sutradara, Bene Dion mengungkap bahwa ide cerita film Pulang Kampung sebenarnya sudah muncul sejak penayangan Ngeri-Ngeri Sedap pada 2022 lalu.
“Kalau kalian ingat, yang bapaknya ditinggal di rumah sendirian, dinyanyiin. Nah, di situ aku konsepin adegannya untuk sedih, malah inang-inang gereja itu nyanyi bareng. Jadi kayak mikir, ‘Kok pada nyanyi, nangis dong woi jangan nyanyi.’ Jadi akhirnya mikir apa perlu bikin film Batak yang supaya nanti orang-orang pas nonton ikut nyanyi,” kata Bene dengan nada bersemangat.
Karena tujuan utamanya mengajak penonton bernyanyi bersama di bioskop, maka film ini akan menampilkan total 9 lagu Batak, dengan 8 lagu lama dan 1 lagu baru yang diciptakan oleh Vicky Sianipar.
Oleh sebab itu, proses penulisan skenario film ini pun dilakukan dengan cara yang tidak biasa. Bene menjelaskan bahwa ia terlebih dahulu menyusun daftar lagu-lagu Batak yang ingin digunakan, baru kemudian mengembangkan cerita agar selaras dengan lagu-lagu tersebut.
“Jadi aku men-list dulu lagu-lagu Batak yang aku merasa kayaknya bagus dimasukkan ke dalam filmnya. Setelah aku men-list lagu-lagunya, baru aku memikirkan apa cerita yang cocok supaya lagu-lagu ini pas dengan adegannya. Baru akhirnya dipikirkan konfliknya,” jelas Bene Dion.
2. Pastikan royalti dan hak cipta aman!

Di balik penggunaan lagu-lagu Batak tersebut, tim produksi juga memperhatikan aspek legalitasnya. Produser Dipa Andika memastikan bahwa seluruh proses perizinan, termasuk royalti dan hak cipta dilakukan secara resmi.
“Kalau ditanya royalti Insya Allah sudah kita urus dan memang kita penginnya semua berjalan dengan resmi. Kita memang maunya semuanya resmi ada hak ciptanya,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa semua pihak akan menerima haknya. “Semua harus mendapatkan hak yang semestinya,” lanjut Dipa.
Tentu saja komitmen tim produksi tersebut menjadi sangat penting untuk diperhatikan, terutama mengingat isu royalti dan penggunaan hak cipta masih menjadi sorotan di industri musik Tanah Air saat ini.
3. Kristo Immanuel pastikan filmnya gak full nyanyi, ada cerita yang jelas

Terlibat sebagai ko-sutradara, Kristo Immanuel menegaskan bahwa meskipun mengusung genre musikal, Pulang Kampung tetap akan mengutamakan cerita. Ia juga meminta penonton untuk tidak perlu merasa khawatir, karena unsur nyanyian dalam film ini tidak akan menghilangkan alur cerita yang disajikan.
“Kebetulan buat film ini, gak full nyanyi. Tapi kan ada musiknya. Jadi kayak kalau ada orang-orang yang ketakutan, ‘Aduh, filmnya full nyanyi, gua bingung.’ Gak! Tenang aja, ceritanya akan tetap ada. Jadi lo akan tetap menikmati ceritanya sebagai bagian dari musikalnya juga kok,” jelas Kristo Immanuel.
Di sisi lain, Dipa Andika menegaskan, meski film ini kental dengan budaya dan nyanyian Batak, Pulang Kampung tetap bisa dinikmati oleh semua kalangan.
“Perlu digarisbawahi, gak Batak pun sangat bisa nonton film ini walaupun kita belum syuting,” kata Dipa Andika memancing tawa awak media yang hadir pada saat itu.
Pulang Kampung akan memulai proses syuting pada akhir bulan ini dan direncanakan berlangsung selama 26 hari, dengan 5 hari di Jakarta dan 21 hari di Sumatra Utara. Meski begitu, tim produksi memastikan bahwa film ini akan tayang di bioskop tahun ini juga.

















