Pelangi di Mars (Instagram.com/pelangidimars)
Sebenarnya, Pelangi di Mars sempat menjadi salah satu film Indonesia yang paling dinantikan menjelang Lebaran 2026. Film garapan Upie Guava ini menarik perhatian karena mengusung genre fiksi ilmiah yang masih jarang diangkat di perfilman Indonesia, bahkan menawarkan penggunaan teknologi seperti extended reality (XR), virtual production, dan artificial intelligence (AI) dalam proses produksinya.
Namun, setelah tayang di bioskop, Pelangi di Mars justru menuai beragam kritik. Sejumlah penonton menyoroti alur cerita dan dialog yang dinilai kurang kuat, sementara penggunaan AI dalam proses produksi turut memicu perdebatan di media sosial. Tak sedikit juga netizen yang mempertanyakan kualitas visual film hingga muncul tudingan penggunaan buzzer untuk membangun opini positif, meski tuduhan tersebut telah dibantah oleh sutradara Upie Guava.
Juga dibintangi oleh Rio Dewanto, film Pelangi di Mars mengikuti kisah Pelangi, gadis yang menjadi manusia pertama yang lahir dan tumbuh di Planet Mars. Di tengah krisis yang mengancam Bumi, ia pun memulai perjalanan untuk mencari Zeolit Omega, mineral langka yang diyakini dapat menjadi harapan baru bagi kelangsungan hidup umat manusia.