Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Menteri Ekraf: Film Pelangi di Mars Hadirkan Terobosan Genre Sci-Fi-XR

Menteri Ekraf: Film Pelangi di Mars Hadirkan Terobosan Genre Sci-Fi-XR
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya hadiri screening Pelangi di Mars di Plaza Senayan (IDN Times/Lia Hutasoit)
Intinya Sih
  • Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menilai film Pelangi di Mars membawa inovasi lewat genre science fiction dan teknologi XR, menghadirkan pengalaman visual imersif serta mengangkat isu lingkungan.
  • Industri film Indonesia menunjukkan tren positif dengan penjualan tiket bioskop 2025 mencapai 130 juta, di mana sekitar 60 persen berasal dari film nasional.
  • Pemerintah berkomitmen memperkuat industri film melalui dukungan akses pasar dan pendanaan, sambil mendorong generasi muda untuk terus berkarya agar film lokal mampu bersaing secara global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menilai film Pelangi di Mars membawa pendekatan baru dalam industri perfilman nasional, terutama lewat eksplorasi genre serta pemanfaatan teknologi dalam proses produksinya.

“Satu hal penting, science fiction itu juga genre-nya jarang diangkat orang. Isu lingkungan juga jarang diangkat orang,” kata Riefky saat menghadiri acara Intimate Screening film Pelangi di Mars bersama Kabinet Merah Putih di Jakarta Selatan, Kamis (2/4/2025).

1. Penjualan tiket bioskop sepanjang 2025 mencapai 130 juta

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya  hadiri screening Pelangi di Mars di Plaza Senayan
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya hadiri screening Pelangi di Mars di Plaza Senayan (IDN Times/Lia Hutasoit)

Menurutnya, industri film Indonesia saat ini juga menunjukkan tren yang cukup positif. Sepanjang 2025, penjualan tiket bioskop tercatat mencapai sekitar 130 juta, dengan sekitar 60 persen di antaranya merupakan film nasional. Sementara pada 2026, jumlah penonton telah mendekati 15 juta, dan sekitar separuhnya berasal dari enam judul film Indonesia yang tayang selama libur Lebaran.

2. Keberanian sineas mengangkat genre science fiction

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya  hadiri screening Pelangi di Mars di Plaza Senayan
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya hadiri screening Pelangi di Mars di Plaza Senayan (IDN Times/Lia Hutasoit)

Riefky menyebut kondisi tersebut menunjukkan adanya antusiasme publik yang besar terhadap film lokal.

“Antusiasme penonton ada, demand-nya ada, supply-nya juga ada, tetapi perlu dukungan kita semua. Teman-teman dari kabinet Merah Putih, bagaimana ini bisa berkualitas, sustain, dan juga memberikan dorongan kepada generasi muda terutama yang berada di industri film nasional dan industri kreatif,” ujarnya.

Dia menjelaskan ada sejumlah aspek dari film Pelangi di Mars yang patut mendapat perhatian. Salah satunya adalah keberanian sineas mengangkat genre science fiction yang relatif jarang diproduksi di Indonesia, sekaligus memasukkan isu lingkungan sebagai tema utama cerita.

3. Sekitar 300 animator dan 500 kru terlibat dalam proses pengerjaan film

Sejumlah Menteri dan Wakil Menteri hadiri screening Pelangi di Mars di Plaza Senayan
Sejumlah Menteri dan Wakil Menteri hadiri screening Pelangi di Mars di Plaza Senayan (IDN Times/Lia Hutasoit)

Selain itu, film tersebut juga memanfaatkan teknologi extended reality (XR) berbasis Unreal Engine. Teknologi yang biasanya digunakan dalam pengembangan gim itu kini diterapkan dalam produksi film untuk menghadirkan pengalaman visual yang lebih imersif bagi penonton.

Dengan teknologi tersebut, penonton disebut dapat merasakan sensasi seolah berada langsung dalam alur cerita, termasuk ketika adegan berlangsung di pesawat hingga di planet Mars.

Dari sisi produksi, film ini juga melibatkan sumber daya manusia dalam jumlah besar. Sekitar 300 animator dan 500 kru terlibat dalam proses pengerjaan film yang berlangsung selama lima tahun.

Riefky menambahkan pemerintah akan terus mendorong penguatan industri film melalui berbagai bentuk dukungan, mulai dari akses pasar hingga pendanaan bagi pelaku industri kreatif. Dia mengajak masyarakat agar terus dukung film nasional supaya bisa bersaing di tingkat global.

“Mari mendukung film nasional tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga untuk mendunia,” kata dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in News

See More