Selama 150 menit, Marty Supreme (2026) membawa kita menelusuri 9 bulan paling kacau dalam hidup Marty Mauser, jagoan pingpong sekaligus penipu ulung di New York era 1950-an, yang diperankan dengan apik oleh Timothée Chalamet. Demi mimpi menjadi juara pingpong dunia, Marty mengorbankan hampir segalanya: reputasi, relasi, bahkan jiwanya sendiri.
Meski berlatar di masa lampau, film garapan Josh Safdie ini terasa sangat relevan hari ini. Khususnya, sebagai potret tentang ambisi tanpa rem dan obsesi untuk jadi "seseorang." Ending-nya pun meninggalkan banyak pertanyaan. Apakah Marty menang? Atau justru kehilangan harga dirinya? Mari kita bedah satu per satu.
Artikel ini mengandung spoiler Marty Supreme!
