Penjelasan Sutradara soal Nasib Zendaya di Ending Euphoria Season 3

- Sam Levinson menjelaskan bahwa akhir tragis Rue Bennett dipilih untuk menjaga kejujuran tema gelap Euphoria dan menggambarkan realitas pahit kecanduan yang sering berujung fatal.
- Levinson mengaku keputusan mematikan karakter Zendaya sulit diambil karena penampilan emosionalnya membuat penonton terikat, namun kematian Rue dianggap penting untuk menyampaikan pesan kehilangan dan ketidakberdayaan.
- Episode terakhir juga menampilkan nasib suram karakter lain seperti Cassie, Maddy, Lexi, dan Jules, menegaskan visi Levinson tentang kisah realistis tanpa happy ending dalam dunia Euphoria.
Setelah 7 tahun, serial HBO Euphoria berakhir. Dalam episode finale, karakter Rue Bennett yang diperankan oleh Zendaya mengalami nasib tragis. Keputusan itu sendiri didorong oleh keinginan untuk menghormati mendiang pemeran Fezco (Angus Cloud) yang meninggal akibat overdosis pada Juli 2023 di usia 25 tahun.
Tak ayal, hal tersebut langsung memicu perdebatan di kalangan penggemar. Banyak yang mempertanyakan alasan di balik nasib tragis Rue, mengingat karakter tersebut selama ini menjadi pusat cerita Euphoria. Sang kreator dan sutradara, Sam Levinson, buka suara mengenai keputusan kontroversial tersebut.
1. Sam Levinson ingin akhir yang realistis untuk para karakter Euphoria

Di dunia lain, serial Euphoria mungkin memiliki akhir yang lebih bahagia. Namun menurut Sam Levinson, pilihan tersebut tidak akan terasa jujur dengan tema gelap yang selama ini diangkat serial tersebut.
"Akhir cerita yang jujur adalah orang-orang seperti Rue tidak akan selamat," katanya dalam video di balik layar kepada Deadline (1/6/2026).
Dalam episode terakhir yang tayang pada Minggu (31/5/2026), Rue Bennett yang diperankan Zendaya meninggal akibat overdosis fentanyl. Levinson menjelaskan bahwa kecanduan sering kali berakhir tragis, terutama di tengah meningkatnya kasus penyalahgunaan obat yang terkontaminasi fentanyl.
"Orang-orang kambuh. Mereka melakukan kesalahan. Mereka belum siap untuk berhenti menggunakan narkoba dan mereka tidak meninggal seperti sekarang dengan masuknya fentanyl ke negara ini," katanya.
2. Sempat bimbang soal mengakhiri karakter Zendaya

Meski demikian, Levinson mengakui keputusan mematikan Rue bukanlah hal yang mudah. Selama tiga musim terakhir, penampilan Zendaya membuat penonton terus bersimpati kepada karakternya.
"Penampilan Zendaya sangat luar biasa dan berlapis selama beberapa musim ini. Kami jatuh cinta pada karakter ini, gadis yang memiliki kekurangan, kacau, tetapi memiliki hati yang baik dan berusaha melakukan yang benar," tambahnya.
Kematian Rue sendiri terjadi sekitar 45 menit setelah episode final dimulai. Sponsor pemulihannya, Ali (Colman Domingo), menemukan Rue telah meninggal di sofa rumahnya pada pagi hari setelah kejadian tersebut. Ali kemudian menemukan pil yang mengandung fentanyl dan bertekad membalas dendam kepada pihak yang bertanggung jawab atas kematian Rue.
"Saya tahu bahwa saya ingin merasakan kematian Rue melalui dirinya (Ali). Ada semacam perasaan tidak berdaya. Membiarkan Colman mengartikulasikan hal itu, bagi kita sebagai penonton, sangat penting," jelas Levinson.
3. Seperti Rue Bennett, karakter Euphoria lain pun berakhir tragis

Rue ternyata bukan satu-satunya yang bernasib tragis dalam episode penutup musim ketiga. Karakter Cassie yang diperankan Sydney Sweeney dan Maddy yang dimainkan Alexa Demie juga dikisahkan terlilit utang besar sembari berusaha menutupi kematian Nate Jacobs (Jacob Elordi). Levinson sendiri menyebut hubungan Cassie dan Maddy sebagai "kisah cinta" emosional yang menjadi salah satu fokus utama musim ini.
Sementara itu, Lexi Howard yang diperankan Maude Apatow mengalami krisis eksistensial setelah menemukan Alkitab peninggalan Rue. Di sisi lain, Jules yang dimainkan Hunter Schafer masih berjuang menghadapi kesedihan atas kehilangan orang yang pernah sangat berarti dalam hidupnya. Menutup penjelasannya, Levinson menegaskan bahwa ia tidak pernah ingin menghadirkan kisah yang happy ending.
"Saya selalu menentang penceritaan utopis. Saya pikir pada akhirnya saya ingin menceritakan kisah jujur tentang kecanduan. Saya juga ingin menceritakan kisah tentang kesedihan dan gejolak emosional yang dapat ditimbulkannya," pungkas Levinson.





![[REVIEW] Off Campus, Serial Romansa New Adult yang Segar](https://image.idntimes.com/post/20260602/1000080569_f0187ee0-f6d2-4575-88c3-cc75e09d63de.jpg)











