Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Film yang Tidak Seprogresif Kelihatannya, Kritik Dangkal Belaka?

6 Film yang Tidak Seprogresif Kelihatannya, Kritik Dangkal Belaka?
Avatar: Fire & Ash (dok. Walt Disney Company/Avatar)
Intinya Sih
  • Banyak film berlabel progresif justru dikritik karena eksekusinya dianggap dangkal dan malah memperkuat sistem lama seperti patriarki, kapitalisme, serta white savior complex.
  • Contoh film seperti Anora, Perfect Blue, Kokuho, Barbie, Emilia Pérez, dan Avatar dinilai gagal menyampaikan pesan progresif secara konsisten meski mengusung tema inklusif dan kesetaraan.
  • Artikel menegaskan bahwa label progresif tidak menjamin isi film benar-benar berpihak pada nilai kemanusiaan; yang menentukan adalah cara penyampaian dan perspektif yang digunakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tren ide progresif, seperti inklusif, feminis, liberal, dan berasaskan hak asasi manusia, memang sedang berkembang di industri film global. Tak sulit bagi kita untuk menemukan film dengan label progresif atau yang secara tak langsung menggambarkan ide-ide yang dianggap mendobrak status quo.

Namun, kalau kamu perhatikan lebih saksama, sebenarnya tidak semua film berlabel progresif punya eksekusi yang tepat. Tak jarang, mereka justru memicu perdebatan karena dianggap hanya melanggengkan sistem yang ada seperti patriarki, supremasi kulit putih, kapitalisme, dan lain sebagainya.

Apakah ini hanya upaya untuk meraup untung dari tren yang berkembang tanpa dibarengi komitmen yang sepadan? Coba cek keenam film berikut.

1. Anora (2024)

Anora
Anora (dok. Universal Pictures/Anora)

Anora adalah film yang dibuat oleh Sean Baker dengan premis progresif. Lakonnya adalah kaum marginal, yakni seorang pekerja seks perempuan, miskin, dan keturunan imigran negara eks-Soviet. Seperti film-filmnya biasanya, Baker mengekspos kehidupan sulit mereka tanpa sugarcoat, sesuai pendekatan realisnya.

Dalam film, Anora yang apatis dan cuek di awal tiba-tiba tergoda untuk meninggalkan hidup sulitnya dengan menikahi seorang anak oligarki Rusia. Pada fase ini, ia bahkan kehilangan agensinya. Ia dipotret sebagai sosok hopeless romantic yang bahkan tak percaya ketika beberapa orang menasihatinya untuk tidak memercayai suami barunya itu.

Baker juga dikritik karena beberapa kali menampilkan adegan vulgar yang dianggap penonton sebagai demonstrasi kecenderungan male gaze ketimbang kritik terhadap objektifikasi perempuan. Bagaimana menurutmu?

  • Genre: satire, drama
  • Pemain: Mikey Madison, Yura Borisov
  • Sutradara: Sean Baker

2. Perfect Blue (1997)

Perfect Blue
Perfect Blue (dok. IFC Films/Perfect Blue)

Perfect Blue juga belakangan menjadi perdebatan di kalangan penontonnya. Film ini dibuat oleh Satoshi Kon untuk mengkritisi relasi parasosial, male gaze, dan objektifikasi tubuh perempuan terutama dalam industri hiburan. Beberapa elemennya memang mengarah ke sana, tetapi ada satu adegan yang bikin semua upaya Kon terasa sia-sia. Yakni, adegan kekerasan seksual yang cukup eksplisit dan durasinya cukup panjang. Menurut sebagian penonton, ini sama saja dengan eksploitasi tubuh perempuan ketimbang kritik.

  • Genre: thriller-psikologi
  • Pemain: Junko Iwao, Rica Matsumoto
  • Sutradara: Satoshi Kon

3. Kokuho (2025)

Kokuho
Kokuho (dok. GKIDS Films/Kokuho)

Premis Kokuho juga digadang-gadang mengarah pada ide progresif. Menceritakan kisah pemuda keturunan yakuza yang menekuni seni teater tradisional Jepang, kabuki, penonton sempat mengira ini akan jadi diskursus tentang maskulinitas toksik dan gender. Namun, ternyata film ini justru memberikan kesan pelanggengan patriarki, terutama dengan penghilangan agensi dan peran perempuan.

Tak ada karakter perempuan yang kuat di film. Mereka dipotret sebagai suporter karakter laki-laki. Suara dan pendapat mereka tidak didengar, apalagi digubris. Fakta bahwa dalam kabuki, aktor pria memerankan karakter perempuan juga memperkuat kesan tersebut.

  • Genre: drama
  • Pemain: Ryo Yoshizawa, Ken Watanabe
  • Sutradara: Lee Sang Il

4. Barbie (2023)

Barbie
Barbie (dok. Universal Pictures/Barbie)

Barbie juga tak seprogresif kelihatannya buat sebagian penonton. Mengangkat tema antipatriarki, Barbie memang diceritakan berusaha mendobrak dominasi pria dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, film ini justru membuat kesan bahwa feminisme dan kapitalisme adalah dua hal yang tak terpisahkan.

Tidak ada elemen interseksionalitas di sini, selain menampilkan keragaman etnik pemerannya. Pesan kesetaraan merupakan perjuangan murni feminisme juga pudar karena dalam film mereka hanya membalik siapa yang berkuasa.

  • Genre: drama, komedi
  • Pemain: Margot Robbie, Ryan Gosling
  • Sutradara: Greta Gerwig

5. Emilia Perez (2024)

Emilia Perez
Emilia Perez (dok. TIFF/Emilia Perez)

Film berlabel progresif lain yang tak menjawab ekspektasi adalah Emilia Pérez. Dibuat oleh sutradara Prancis, banyak penggambaran Meksiko sebagai latar film yang amat stereotipikal dan tentunya menggunakan perspektif Barat. Karakter transpuan di film juga dianggap destruktif dan tidak akurat. Ia digambarkan sebagai pelaku kekerasan dan ini jelas bikin posisi transpuan yang sudah terpojok di masyarakat semakin tersisih.

  • Genre: drama, musikal
  • Pemain: Zoe Saldana, Selena Gomez
  • Sutradara: Jacques Audiard

6. Avatar (2009)

Avatar
Avatar (dok. Walt Disney Company/Avatar)

Plot Avatar memakai prinsip-prinsip antikolonial, memotret perjuangan penduduk pribumi melawan pendatang yang hendak mengeksploitasi ruang hidup mereka. Premisnya progresif, tetapi sayangnya ditulis dari POV karakter yang menjadi bagian dari para penjajah tersebut.

Dalam budaya pop, fenomena ini dikenal sebagai white savior complex karena kebanyakan penjajah adalah orang kulit putih. Ketika perspektif mereka dipakai, cerita akan berfokus pada sudut pandang mereka yang bisa saja tak akurat dan sok tahu. Ini juga menjadi pertanyaan mengapa sineas enggan menggunakan perspektif korban penjajahan yang sebenarnya.

  • Genre: sains-fiksi
  • Pemain: Zoe Saldana, Sam Worthington
  • Sutradara: James Cameron

Label hanya label. Pada akhirnya, eksekusi membuktikan progresivitas sebuah film. Apa pendapatmu soal keenam film tadi? Apakah kamu juga melihat masalah di dalamnya, atau sebaliknya, ini hanya klaim penonton yang terlalu woke? Apa pun itu, perbedaan pendapat ada baiknya kita sikapi dengan objektif dan bijak, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More