potret press conference film Jangan Buang Ibu di XXI Plaza Indonesia, Kamis (11/6/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Dalam wawancara yang berlangsung sekitar 10 menit, Hadrah menjelaskan bahwa pengembangan cerita dalam film ini juga dipengaruhi oleh realitas sosial saat ini serta pengalaman pribadi tim produksi. Ia menyebut, ada banyak memori masa kecil dan pengalaman mereka dengan ibu yang dimasukkan ke dalam skenario, sehingga tanpa disadari justru memperkaya emosi cerita.
“Film ini tuh kayak milik kita semua. Jadi, baik saya, produser, penulis, kita menaruh banyak memori-memori masa kecil kita, memori-memori hubungan kita dengan ibu ke dalam film ini dan ternyata banyak gitu kesamaannya, seperti perasaan itu tuh semua orang jadi, ‘Oh iya, kamu juga ya sama ibu begini ya, sama ibu begini ya gitu,” kata Hadrah.
Ia melanjutkan, “Akhirnya menurut aku, pengalaman-pengalaman, memori kepingan-kepingan masa kecil itu tuh jadi memperkaya skenario. Dan aku makin yakin banget bahwa film ini ada buat semua orang.”
Karena film merupakan medium audio-visual, tim produksi juga menyesuaikan beberapa bagian alur untuk kebutuhan dramatisasi. Perubahan ini pun juga terjadi pada bagian ending, namun tidak signifikan.
“Yang pasti karena ini film, mediumnya kan audio-visual. Ada yang kita dramatisasi gitu, ada sedikit perubahan, tapi kecil untuk bagian ending-nya.”
Dibintangi oleh sederet aktor ternama, mulai dari Nirina Zubir, Amanda Manopo, hingga Refal Hady, film ini mengikuti kisah perjuangan seorang ibu bernama Ristiana yang ditinggalkan oleh suaminya. Namun, setelah berbagai perjuangannya, ia justru dititipkan di sebuah panti jompo oleh ketiga anaknya dan kerap merasa kesepian.