Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Berjudul Seni Merayu Tuhan? Habib Ja'far Beberkan Alasannya

Kenapa Berjudul Seni Merayu Tuhan? Habib Ja'far Beberkan Alasannya
Habib Ja'far setelah konferensi pers "Seni Merayu Tuhan" di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (4/8/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Intinya Sih
  • Film Seni Merayu Tuhan, adaptasi buku esai Habib Ja'far, dijadwalkan tayang 13 Agustus 2026

  • Habib Ja'far menegaskan film debut penyutradaraan Cesa David Luckmansyah ini bukan religi konvensional, melainkan kisah coming-of-age

  • Cerita juga mengangkat relasi keluarga, persahabatan, lingkungan positif, serta cinta beda agama; beragam perspektif membuat penonton dapat menemukan makna berbeda saat menontonnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Film Seni Merayu Tuhan menjadi salah satu adaptasi buku Indonesia yang paling dinantikan pada 2026. Diangkat dari buku esai karya Habib Husein Jafar Al Hadar atau Habib Ja'far, film ini membawa pendekatan yang berbeda dari kebanyakan film bertema religi.

Disutradarai Cesa David Luckmansyah yang menjadi debut layar lebarnya, serta diproduksi oleh Wahana Kreator Nusantara, Seni Merayu Tuhan dijadwalkan tayang di bioskop mulai 13 Agustus 2026. Menariknya, Habib Ja'far mengungkapkan bahwa ada filosofi khusus di balik pemilihan judul film tersebut.

1. Seni Merayu Tuhan sengaja dibuat untuk semua orang, bukan kalangan tertentu

Seni Merayu Tuhan sengaja dibuat untuk semua orang.jpg
Habib Ja'far setelah konferensi pers "Seni Merayu Tuhan" di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (4/8/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Habib Ja'far mengungkapkan bahwa banyak orang mempertanyakan alasan dirinya menggunakan kata "Tuhan" sebagai judul buku maupun film Seni Merayu Tuhan. Menurutnya, pilihan tersebut memang dilakukan secara sadar agar pesan yang disampaikan dapat diterima oleh siapa saja.

"Ada banyak yang bertanya juga, kenapa pakai katanya 'Tuhan,' bukan Allah yang khas Islam. Karena memang film ini, bahkan sejak di bukunya, tidak spesifik berbicara dengan orang Islam," ujar Habib Ja'far saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (4/8/2026).

Baginya, Seni Merayu Tuhan merupakan karya yang membawa nilai-nilai universal. Karena itu, film ini tidak hanya ditujukan kepada umat Islam, tetapi juga kepada pemeluk agama lain, bahkan mereka yang masih mencari makna spiritual dalam hidupnya.

"Banyak pesan-pesannya universal, bahkan kepada orang yang tidak beragama dan orang yang tidak bertuhan sekalipun, film ini ditujukan kepada mereka," lanjut Habib Ja'far.

2. Bukan film religi, tetapi kisah coming-of-age dengan perjalanan spiritual

Bukan film religi, tetapi kisah coming-of-age dengan perjalanan spiritual.jpg
Habib Ja'far setelah konferensi pers "Seni Merayu Tuhan" di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (4/8/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Meski diadaptasi dari buku karya seorang pendakwah, Habib Ja'far menegaskan bahwa Seni Merayu Tuhan bukanlah film religi dalam pengertian konvensional. Dengan gaya khasnya yang santai, ia sempat melontarkan candaan saat menjelaskan hal tersebut.

"Kalau ada yang bertanya, 'Apakah ini film religi?' Tidak. Apa buktinya bahwa ini bukan film religi? Onad (Onadio Leonardo) main di film ini," katanya, yang langsung disambut gelak tawa awak media.

Candaan itu langsung disambut oleh Arie Kriting yang berdiri di sampingnya, "Orang Timur jaga masjid, orang Arab jaga diskotik."

Di balik humornya, Habib Ja'far menjelaskan bahwa film Seni Merayu Tuhan lebih berfokus pada perjalanan menjadi dewasa (coming-of-age). Ceritanya mengikuti Hikmah (Ari Irham), seorang anak muda yang lebih menikmati masa mudanya bersama sang kekasih, Sophia (Lutesha), dibanding memenuhi ajakan ibunya (Rieke Diah Pitaloka) untuk beribadah.

Namun, kehidupan Hikmah berubah drastis setelah sang ibu meninggal dunia. Kehilangan tersebut menjadi titik balik yang membawanya memulai perjalanan spiritual untuk menemukan kembali makna hidup dan hubungannya dengan Tuhan.

3. Mengangkat banyak perspektif, dari keluarga hingga cinta beda agama

Mengangkat banyak perspektif, dari keluarga hingga cinta beda agama.jpg
Habib Ja'far setelah konferensi pers "Seni Merayu Tuhan" di XXI Epicentrum, Jakarta, Selasa (4/8/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Habib Ja'far juga menjelaskan bahwa Seni Merayu Tuhan tidak hanya berbicara soal hubungan manusia dengan Tuhan. Film ini turut menghadirkan berbagai sudut pandang kehidupan yang dekat dengan keseharian penonton.

"Ada banyak otokritik tentang guidance buat setiap orang. Kalau mau menjalani spiritual journey itu membutuhkan keberanian, untuk menjadi dewasa itu pasti penuh perjuangan, tapi kamu harus melangkah. Kamu harus dikelilingi oleh orang-orang yang positif, bukan toxic. Ada banyak guidance-guidance lain untuk kita bercermin," jelasnya.

Menurut Habib Ja'far, banyak penonton yang telah menyaksikan pemutaran awal (special screening) justru menemukan makna berbeda setiap kali menonton film ini. Hal itu terjadi karena cerita dibangun dari beragam perspektif yang saling melengkapi.

"Karena memang perspektifnya kan banyak. Ada perspektif anak melihat ibunya, ada perspektif ibu melihat anak, ada perspektif persahabatan. Bahkan ada perspektif tentang cinta beda agama," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More