Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harga Tiket Konser Hampir Setara UMR, PK Entertainment Ungkap Alasannya

Harga Tiket Konser Hampir Setara UMR, PK Entertainment Ungkap Alasannya
Harry Sudarma selaku COO PK Entertainment Group (IDN Times/Elizabeth Chiquita)
Intinya Sih
  • Harry Sudarma dari PK Entertainment menjelaskan bahwa harga tiket konser harus mendapat persetujuan manajemen artis dan tidak bisa ditentukan sepihak oleh promotor.
  • Pihak manajemen artis biasanya sudah menetapkan batas harga dasar yang membuat harga tiket di Indonesia mirip dengan negara Asia Tenggara lain, meski daya beli masyarakat berbeda.
  • Harga tiket juga dipengaruhi biaya produksi megah dan kebutuhan keuntungan promotor agar industri hiburan tetap berkelanjutan di tengah tingginya antusiasme penonton Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Di tengah antusiasme publik akan konser internasional yang masuk ke Indonesia, kerap muncul curhatan netizen soal harga tiket. Gak jarang, satu tiket kategori terbaik dibanderol setara dengan gaji UMR Jakarta, yang akhirnya memicu perdebatan panjang di media sosial soal siapa sebenarnya yang menentukan angka tersebut.

Menanggapi kegaduhan ini, Co-founder sekaligus COO PK Entertainment, Harry Sudarma, akhirnya buka suara soal dapur penentuan harga tiket. Ia mengungkapkan ada banyak variabel di balik layar yang membuat promotor gak bisa sembarangan mematok harga murah demi menyenangkan hati para fans. Apa saja, ya?

1. Gak asal jual mahal, promotor masih harus mendapatkan persetujuan dari manajemen artis

Seorang pria mengenakan jas hitam berbicara dengan ekspresif di depan latar bertuliskan Entertainment Group.
Harry Sudarma selaku COO PK Entertainment Group (IDN Times/Elizabeth Chiquita)

Harry Sudarma mengungkapkan mereka tidak memiliki kebebasan mutlak dalam menentukan harga jual ke publik. Hal ini dikarenakan setiap keputusan harus melewati prosedur yang ketat. Semua angka yang muncul di poster pengumuman merupakan hasil kesepakatan final yang sudah direstui oleh pihak manajemen artis.

"Tiket itu juga sedikit tricky ya sebetulnya. Mungkin yang konsumen lupa adalah bahwa apapun yang kita lakukan, apapun yang kita desain, apapun yang kita announce itu tidak akan pernah tidak melalui approval dari regional promotor ataupun artis manajemen ataupun artisnya itu sendiri," ungkap Harry Sudarma ketika ditemui media pada Jumat (22/5/2026).

2. Pihak manajemen artis sudah memberikan batas harga

Seorang pria mengenakan jas hitam berbicara di atas panggung dengan mikrofon di telinga dan latar belakang layar besar.
Harry Sudarma selaku COO PK Entertainment Group (IDN Times/Elizabeth Chiquita)

Harry kemudian menuturkan bahwa pihak manajemen artis biasanya sudah memiliki patokan harga dasar yang berlaku. Hal ini menyebabkan harga tiket di Jakarta sering kali terlihat mirip dengan harga di negara tetangga, meski jumlah pemasukannya berbeda dengan yang lain.

"Jadi pastinya dari sisi mereka sudah ada juga range standar yang boleh dikeluarkan sebagai penjualan harga tiket di setiap market, terutama market yang berdampingan. Jadi kalau bisa kita sadari akhir-akhir ini harga tiket di Indonesia sebetulnya dibandingkan dengan region South East Asia tidak jauh berbeda," ungkap Harry.

Ia lalu menambahkan, "Yang membuat jadi berbeda adalah GDP (Gross Domestic Product) dan UMR (Upah Minimum Regional) kita yang membuat itu menjadi lebih berat."

3. Harga tiket juga dipengaruhi variabel lainnya

Seorang pria mengenakan jas hitam dan mikrofon di telinga sedang berbicara di atas panggung dengan latar belakang layar besar.
Harry Sudarma selaku COO PK Entertainment Group (IDN Times/Elizabeth Chiquita)

Selain faktor eksternal dari manajemen artis, variabel biaya produksi yang megah menjadi alasan kuat mengapa harga tiket sulit ditekan. Sebagai entitas bisnis, promotor juga mengakui adanya kebutuhan untuk mencari keuntungan demi keberlangsungan industri hiburan di tanah air.

"Kalau dibilang kayak kenapa kok harganya bisa begini, bisa begitu, sebetulnya variabelnya banyak banget. Harga artisnya, production-nya, apalagi kalau kita bicara KPop selalu lebih megah gitu jadi semua variabel itu ya menjadi bagian dari perhitungan," ungkap Harry.

Ia juga menegaskan, "Sebagai business unit, pastinya kami ada di sini untuk berkembang. Dan ada elemen profit-oriented yang ada di situ kita gak boleh pungkiri itu."

Terlepas dari harganya yang sering bikin dompet menjerit, antusiasme penonton Indonesia nyatanya tetap jadi magnet besar bagi musisi dunia untuk mampir ke Jakarta. Nah, apakah tahun ini ada artis internasional favortimu yang mampir ke Indonesia?

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Indra Zakaria
EditorIndra Zakaria

Related Articles

See More