Putri Marino Baca Perempuan di Titik Nol Demi Empat Musim Pertiwi
- Putri Marino memerankan Pertiwi dalam Empat Musim Pertiwi, penyintas kekerasan seksual dengan luka mendalam, yang sangat berbeda dari dirinya dan menantang untuk dipahami.
- Untuk mendalami Pertiwi, Putri berdiskusi dengan Kamila Andini serta membaca novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi tentang ketidakadilan terhadap perempuan.
- Kamila Andini menyebut proses film juga melibatkan perbincangan dengan penyintas; Pertiwi digambarkan mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan karakter lain, sementara keberpihakan pada korban perlu diterapkan secara nyata.
karta, IDN Times - Putri Marino kembali memukau lewat film Empat Musim Pertiwi (2026). Memerankan Pertiwi, seorang penyintas kekerasan seksual, Putri memberikan penampilan yang liar, tetapi tetap penuh kehati-hatian dan rasa penghargaan terhadap pengalaman karakter yang ia bawakan.
Untuk memahami sosok Pertiwi yang begitu kompleks, Putri tidak hanya berdiskusi dengan sutradara Kamila Andini. Ia juga membaca sebuah novel feminis yang kemudian membantunya memahami pengalaman perempuan serta berbagai bentuk ketidakadilan yang mereka hadapi.
1. Putri Marino merasa dirinya berbeda dengan karakter Pertiwi

Putri Marino setelah press screening "Empat Musim Pertiwi" di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat (2/10/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Putri Marino mengakui bahwa dirinya dan Pertiwi merupakan dua sosok yang sangat berbeda. Namun, perbedaan tersebut justru menjadi tantangan tersendiri karena ia harus memahami pola pikir karakter yang memiliki pengalaman hidup jauh dari dirinya.
"Aku rasa karakter Pertiwi dan Putri adalah dua karakter yang sangat jauh berbeda. Rasanya sangat susah untuk aku, Putri, mengenal Pertiwi, masuk ke Pertiwi, dan mengerti Pertiwi karena seorang Putri kayaknya susah untuk mengerti pola pikirnya Pertiwi," ucapnya saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Jumat (2/10/2026).
Menurut Putri, Pertiwi adalah perempuan yang secara fisik masih menjalani kehidupan, tetapi menyimpan luka mendalam di dalam dirinya. Kondisi tersebut membuat Putri perlu menemukan cara untuk mendekati Pertiwi tanpa menjadikannya karakter satu dimensi semata.
"Kayak contohnya Pertiwi itu dia masih hidup, masih bisa bernafas, tapi dalamnya mati. Terus dia adalah wanita yang muda, tapi dalamnya udah tua. Dia harus meninggalkan banyak mimpi-mimpinya karena ketidakadilan yang terjadi di rumahnya dia," lanjutnya.
2. Putri membaca Perempuan di Titik Nol untuk mendalami karakter Pertiwi

Putri Marino setelah press screening "Empat Musim Pertiwi" di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat (2/10/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Kompleksnya karakter Pertiwi membuat Putri berdiskusi dengan Kamila Andini mengenai cara memahami sosok tersebut. Dalam prosesnya, sang sutradara memberikan sebuah buku yang kemudian dibaca Putri untuk membantu pendalaman karakter.
"Akhirnya Kak Dini ngasih aku satu buku, Perempuan di Titik Nol," ungkapnya.
Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi bercerita tentang kehidupan Firdaus, seorang perempuan yang berada di penjara dan menunggu hukuman mati setelah membunuh seorang germo. Buku tersebut kemudian menjadi salah satu referensi Putri untuk memahami bagaimana ketidakadilan dapat membentuk cara pandang dan kehidupan seorang perempuan.
"Aku baca buku itu dan akhirnya pelan-pelan mulai mengerti tentang rasa yang dialami seorang perempuan, ketidakadilan tanpa henti yang dialami oleh perempuan di daerah domestiknya, di lingkungan tempat dia bertumbuh, tempat dia bekerja," ucap Putri.
3. Kamila Andini soal karakter Pertiwi yang bertemu penyintas lainnya

Kamila Andini setelah press screening "Empat Musim Pertiwi" di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat (2/10/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Selain melalui riset dan referensi bacaan, proses memahami pengalaman perempuan dalam Empat Musim Pertiwi juga dilakukan melalui perbincangan dengan para penyintas. Kamila Andini mengatakan, pertemuan tersebut memberikan perspektif berbeda terhadap pengalaman yang menjadi bagian dari cerita film.
Menurut Kamila, Pertiwi tidak hadir sebagai sosok yang sekadar menjadi penyelamat bagi karakter perempuan lain. Setiap keputusan yang diambil Pertiwi tetap berangkat dari kebutuhan dan pilihannya sendiri.
"Kita melihat Pertiwi tidak pernah sebenarnya, walaupun dia mampu tidak pernah membantu karakter lain tanpa keputusannya Pertiwi. Pertiwi selalu atas kebutuhannya si karakter tersebut," kata Kamila.
Bagi Kamila, keberpihakan terhadap korban juga tidak cukup hanya disampaikan melalui kata-kata. Ada proses panjang untuk memahami bagaimana keberpihakan tersebut benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Berpihak pada korban itu kata-kata yang mudah sekali. Tapi sebenarnya implementasinya sulit sekali, bahkan saya pun masih belajar sampai titik ini," pungkasnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























