Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rahasia Disney Bikin Fantasi Terasa Nyata, Olaf Dibuat Hanya 4 Bulan!
(Dari kiri ke kanan) David Lightbody SVP, Disney Live Entertainment and The Muppets Studio; Emo O’Brien Portfolio Executive Creative Producer PANELISTS; Kyle Laughlin SVP, R&D — Technology & Engineering; and Zach Riddley SVP, Global Creative Strategy The Creative Engine Powering Global Disney Experiences (dok. Disney/D23 2026)
  • Walt Disney Imagineering menggabungkan kreativitas, seni, sains, dan teknologi untuk menghadirkan taman, atraksi, serta pertunjukan Disney.
  • Tim Imagineering memulai pengembangan dari cerita dan detail dunia, lalu menentukan teknologi yang diperlukan untuk mewujudkannya.
  • Reaksi para tamu menjadi tolok ukur penting, dengan teknologi digunakan untuk membangun hubungan emosional antara cerita dan pengunjung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
empat bulan

Olaf berhasil dibuat dalam waktu empat bulan.

hingga kini

Filosofi Imagineering terus berkembang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Walt Disney Imagineering merancang pengalaman Disney melalui cerita, detail, teknologi, kolaborasi, dan emosi.
  • Who?
    Kyle Laughlin, David Lightbody, Zach Riddley, serta tim Walt Disney Imagineering.
  • Where?
    Taman, atraksi, dan pertunjukan Disney di seluruh dunia, termasuk Shanghai, Hong Kong, dan Paris.
  • When?
    Olaf berhasil dibuat dalam empat bulan; filosofi Imagineering terus berkembang hingga kini.
  • Why?
    Teknologi digunakan untuk menerjemahkan cerita dari layar ke lingkungan fisik dan menciptakan hubungan emosional dengan pengunjung.
  • How?
    Tim memulai dari inspirasi cerita, mengembangkan detail dan komponen, lalu menggunakan teknologi seperti reinforcement learning serta simulasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tim Walt Disney Imagineering membuat taman dan pertunjukan Disney. Ada Kyle Laughlin, David Lightbody, dan Zach Riddley. Mereka memakai cerita, banyak detail, seni, sains, dan teknologi. Mereka juga membuat robot Olaf dalam empat bulan. Mereka melihat reaksi para tamu untuk tahu pengalaman itu sudah tepat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pendekatan Imagineering menempatkan cerita, detail, dan respons para tamu sebagai bagian penting dalam proses kreatif. Kolaborasi ratusan disiplin ilmu memungkinkan teknologi digunakan untuk mendukung maksud kreatif para seniman. Simulasi juga membantu tim menguji gerakan karakter robot sebelum pembangunan fisik dilakukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Anaheim, IDN Times - Kalau mendengar kata Disney, mungkin yang langsung terbayang adalah karakter ikonik, film animasi, atau taman hiburan dengan berbagai wahana spektakuler. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana Disney bisa membuat sebuah fantasi jadi begitu nyata?

Di balik berbagai pengalaman tersebut ada Walt Disney Imagineering, tim yang menggabungkan kreativitas, seni, sains, dan teknologi untuk menghadirkan berbagai taman, atraksi, hingga pertunjukan Disney di seluruh dunia.

Dalam panel “The Creative Engine Powering Global Disney Experiences”, tiga Imagineer, yakni Kyle Laughlin, David Lightbody, dan Zach Riddley, membagikan pandangan tentang bagaimana sebuah pengalaman Disney dirancang dari awal hingga bisa dinikmati semua orang.

1. Disney selalu memulai dari cerita dan bukan teknologi

(Dari kiri ke kanan) Emo O’Brien Portfolio Executive Creative Producer PANELISTS; David Lightbody SVP, Disney Live Entertainment and The Muppets Studio; Kyle Laughlin SVP, R&D — Technology & Engineering; and Zach Riddley SVP, Global Creative Strategy The Creative Engine Powering Global Disney Experiences (dok. Disney/D23 2026)

Teknologi memang menjadi bagian penting dalam menciptakan pengalaman Disney. Namun, menurut Kyle Laughlin, SVP, R&D — Technology & Engineering, teknologi bukanlah tujuan akhir.

“Kami sangat beruntung bekerja di sebuah perusahaan yang memiliki warisan teknologi yang begitu kaya,” ujar Kyle. Ia kemudian menjelaskan bahwa benang merah dari berbagai inovasi Disney bukan sekadar kecanggihan teknologinya.

“Teknologi tidak digunakan hanya demi teknologi itu sendiri. Semuanya ditujukan untuk mendukung para penghibur langsung, sutradara, dan pembuat film kami, untuk menerjemahkan cerita yang sudah kalian kenal dan cintai dari layar ke dalam lingkungan fisik,” lanjutnya.

Prinsip tersebut juga tercermin dalam proses Imagineering. Disney menjelaskan bahwa pada tahap awal, tim biasanya memulai dari sebuah inspirasi, seperti bagaimana membawa cerita Disney tertentu menjadi nyata atau membayangkan atraksi dan themed land untuk taman tertentu. Setelah itu, barulah mereka memikirkan teknologi dan berbagai kebutuhan untuk mewujudkannya.

Jadi, bisa dibilang teknologi di Disney selalu memiliki satu pertanyaan besar di belakangnya yakni bagaimana teknologi ini bisa membantu cerita terasa lebih hidup?

2. Robot Olaf berhasil dibuat hanya dalam empat bulan

(Dari kiri ke kanan) Emo O’Brien Portfolio Executive Creative Producer PANELISTS; David Lightbody SVP, Disney Live Entertainment and The Muppets Studio; Kyle Laughlin SVP, R&D — Technology & Engineering; and Zach Riddley SVP, Global Creative Strategy The Creative Engine Powering Global Disney Experiences (dok. Disney/D23 2026)

Salah satu contoh bagaimana teknologi membantu Imagineers mewujudkan karakter animasi menjadi nyata adalah Olaf. Menurut Kyle, pengembangan robot Disney sebelumnya membutuhkan waktu jauh lebih lama.

“Kami dulu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan robot seperti Lucky the Dinosaur,” ungkapnya. Sementara itu, BDX droids yang berjalan-jalan di Star Wars: Galaxy’s Edge membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk dikembangkan.

“Namun, kami berhasil membuat Olaf dalam empat bulan,” kata Kyle. Salah satu teknologi yang membantu proses tersebut adalah reinforcement learning, salah satu bentuk kecerdasan buatan yang memungkinkan robot belajar melalui simulasi. Disney menjelaskan bahwa pendekatan ini digunakan untuk mengajarkan karakter robot bergerak dengan cara yang sesuai dengan maksud kreatif para seniman.

Dalam panel, Kyle juga menjelaskan bahwa tim dapat mengambil rancangan visual dari film dan membawanya ke lingkungan simulasi. Dengan begitu, berbagai kemungkinan gerakan dapat diuji sebelum pembangunan fisik dilakukan.

“Hal tersebut memungkinkan kami bergerak dengan sangat cepat,” ujarnya.

3. Teknologi Disney yang paling berhasil justru yang paling gak kamu sadari

(Dari kiri ke kanan) Emo O’Brien Portfolio Executive Creative Producer PANELISTS; David Lightbody SVP, Disney Live Entertainment and The Muppets Studio; Kyle Laughlin SVP, R&D — Technology & Engineering; and Zach Riddley SVP, Global Creative Strategy The Creative Engine Powering Global Disney Experiences (dok. Disney/D23 2026)

Ada satu hal menarik dari cara Imagineering melihat teknologi: semakin canggih teknologinya, semakin tidak seharusnya pengunjung memikirkan teknologi tersebut.

David memberikan contoh Olaf yang tampil di atas sebuah kapal. Robot tersebut harus bergerak mengikuti kapal yang berada di atas air, menghadapi ombak yang bergoyang, tetap berdiri tegak, dan bahkan terus tampil ketika efek piroteknik berlangsung.

“Saya rasa alasan mengapa hal tersebut menjadi begitu mudah untuk ditonton adalah karena semuanya terlihat begitu tanpa usaha,” kata David.

Bagi David, justru ketika teknologi tersebut terlihat natural, pengalaman magisnya semakin terasa.

“Kami menciptakan sesuatu yang terlihat begitu mudah dan begitu cepat terasa normal, padahal sebenarnya benar-benar ajaib,” ujarnya.

Ia bahkan menggambarkan teknologi modern sebagai sesuatu yang membantu menciptakan willing suspension of disbelief, yaitu kondisi ketika seseorang bersedia sejenak mengesampingkan logika dan mempercayai dunia yang sedang mereka lihat.

“Kalian melihat sesuatu seperti Olaf dan teknologi tersebut membantu menciptakan willing suspension of disbelief dengan cara yang membawa seluruh pengalaman kita ke tingkat yang berbeda,” jelas David.

Artinya, tujuan akhirnya bukan membuat pengunjung berpikir, “Wow, robotnya canggih banget!” Melainkan membuat mereka berpikir, “Wow, Olaf benar-benar ada di sini!”

Lalu, bagaimana Imagineering menentukan apakah sebuah pengalaman sudah berhasil?

Jawabannya ternyata sederhana: lihat reaksi para tamu.

Zach Riddley, SVP, Global Creative Strategy, menjelaskan bahwa proses menciptakan pengalaman baru merupakan proses pembelajaran. Berbagai ahli dari disiplin berbeda akan bekerja bersama, kemudian ide tersebut terus berkembang hingga menemukan bentuk yang tepat.

“Lalu, bagaimana kita tahu kapan sesuatu sudah tepat? Ini benar-benar tentang para tamu, bagaimana keseluruhan taman dan pengalaman yang kami hadirkan diterima oleh para tamu. Karena itulah tolok ukur keberhasilan yang paling penting,” kata Zach.

David kemudian memberikan sudut pandang yang lebih emosional.

“Produk kami adalah emosi,” ujarnya. Menurutnya, prinsip dasar mengenai bagaimana manusia merasakan dan merespons sesuatu mungkin sama, tetapi setiap lokasi memiliki nuansa tersendiri. Karena itu, pengalaman yang dibuat di Shanghai, Hong Kong, atau Paris perlu mempertimbangkan bagaimana masyarakat di masing-masing tempat akan meresponsnya.

Kyle juga mengungkapkan hal serupa ketika menjelaskan bagaimana Disney melihat masa depan pengalaman tamu.

“Kami sering membicarakan bahwa produk kami adalah emosi. Dan ini benar-benar merupakan kesempatan untuk bertemu dengan para tamu di mana pun mereka berada, melalui berbagai platform.”

Karena itu, kecanggihan teknologi hanyalah salah satu bagian dari formula Disney dalam mewujudkan fantasi menjadi kenyataan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut membantu menciptakan hubungan emosional antara cerita dan pengunjung.

Curated For You

Editorial Team

Related Article