(Dari kiri ke kanan) Emo O’Brien Portfolio Executive Creative Producer PANELISTS; David Lightbody SVP, Disney Live Entertainment and The Muppets Studio; Kyle Laughlin SVP, R&D — Technology & Engineering; and Zach Riddley SVP, Global Creative Strategy The Creative Engine Powering Global Disney Experiences (dok. Disney/D23 2026)
Ada satu hal menarik dari cara Imagineering melihat teknologi: semakin canggih teknologinya, semakin tidak seharusnya pengunjung memikirkan teknologi tersebut.
David memberikan contoh Olaf yang tampil di atas sebuah kapal. Robot tersebut harus bergerak mengikuti kapal yang berada di atas air, menghadapi ombak yang bergoyang, tetap berdiri tegak, dan bahkan terus tampil ketika efek piroteknik berlangsung.
“Saya rasa alasan mengapa hal tersebut menjadi begitu mudah untuk ditonton adalah karena semuanya terlihat begitu tanpa usaha,” kata David.
Bagi David, justru ketika teknologi tersebut terlihat natural, pengalaman magisnya semakin terasa.
“Kami menciptakan sesuatu yang terlihat begitu mudah dan begitu cepat terasa normal, padahal sebenarnya benar-benar ajaib,” ujarnya.
Ia bahkan menggambarkan teknologi modern sebagai sesuatu yang membantu menciptakan willing suspension of disbelief, yaitu kondisi ketika seseorang bersedia sejenak mengesampingkan logika dan mempercayai dunia yang sedang mereka lihat.
“Kalian melihat sesuatu seperti Olaf dan teknologi tersebut membantu menciptakan willing suspension of disbelief dengan cara yang membawa seluruh pengalaman kita ke tingkat yang berbeda,” jelas David.
Artinya, tujuan akhirnya bukan membuat pengunjung berpikir, “Wow, robotnya canggih banget!” Melainkan membuat mereka berpikir, “Wow, Olaf benar-benar ada di sini!”
Lalu, bagaimana Imagineering menentukan apakah sebuah pengalaman sudah berhasil?
Jawabannya ternyata sederhana: lihat reaksi para tamu.
Zach Riddley, SVP, Global Creative Strategy, menjelaskan bahwa proses menciptakan pengalaman baru merupakan proses pembelajaran. Berbagai ahli dari disiplin berbeda akan bekerja bersama, kemudian ide tersebut terus berkembang hingga menemukan bentuk yang tepat.
“Lalu, bagaimana kita tahu kapan sesuatu sudah tepat? Ini benar-benar tentang para tamu, bagaimana keseluruhan taman dan pengalaman yang kami hadirkan diterima oleh para tamu. Karena itulah tolok ukur keberhasilan yang paling penting,” kata Zach.
David kemudian memberikan sudut pandang yang lebih emosional.
“Produk kami adalah emosi,” ujarnya. Menurutnya, prinsip dasar mengenai bagaimana manusia merasakan dan merespons sesuatu mungkin sama, tetapi setiap lokasi memiliki nuansa tersendiri. Karena itu, pengalaman yang dibuat di Shanghai, Hong Kong, atau Paris perlu mempertimbangkan bagaimana masyarakat di masing-masing tempat akan meresponsnya.
Kyle juga mengungkapkan hal serupa ketika menjelaskan bagaimana Disney melihat masa depan pengalaman tamu.
“Kami sering membicarakan bahwa produk kami adalah emosi. Dan ini benar-benar merupakan kesempatan untuk bertemu dengan para tamu di mana pun mereka berada, melalui berbagai platform.”
Karena itu, kecanggihan teknologi hanyalah salah satu bagian dari formula Disney dalam mewujudkan fantasi menjadi kenyataan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut membantu menciptakan hubungan emosional antara cerita dan pengunjung.