- Genre: drama
- Pemain: Ha Jung Woo, Seo Jang Woon
- Sutradara: Yoon Jong Bin
5 Rekomendasi Film Antimiliterisme, Pengingat yang Mahal

- Artikel menyoroti bahaya militerisme yang sering disalahartikan sebagai simbol kekuatan, padahal justru dapat merugikan kehidupan sipil dan mengancam stabilitas negara.
- Lima film antimiliterisme direkomendasikan: The Unforgiven, Joint Security Area, Minotaur, The Ascent, dan The Secret Agent—masing-masing menampilkan kritik terhadap kekuasaan militer dan dampaknya pada kemanusiaan.
- Melalui kisah-kisah tersebut, penonton diajak merenungkan bahwa dominasi militer dalam pemerintahan bukan solusi perdamaian, melainkan peringatan mahal tentang hilangnya empati dan kebebasan.
Belajar dari masa lalu, militer harusnya berperan sebagai deterrence (pencegahan perang dan penjamin perdamaian). Namun, dalam prosesnya banyak yang melupakan itu dan justru kembali ke dalam dogma militerisme, yakni ketika kebijakan memprioritaskan pendekatan-pendekatan agresif dan hierarkis ala militer. Padahal, keterlibatan militer yang terlalu dalam dalam kehidupan rakyat sipil juga sudah terbukti merugikan ketimbang menguntungkan.
Lihat saja yang terjadi di beberapa negara yang pernah jatuh ke tangan junta militer. Sepanjang sejarah, tak ada pemerintah junta yang berhasil membawa negaranya menuju kestabilan. Beberapa memang diklaim mampu memicu pertumbuhan ekonomi, tetapi biasanya semu atau tak lama usianya. Sebagai bahan renungan dan gambaran lebih konkret, kamu bisa coba nonton film dengan napas antimiliterisme berikut.
1. The Unforgiven (2005)

Terinspirasi beberapa pengalaman personalnya saat menjalani wajib militer, Yoon Jong Bin mencoba membedah sisi gelap dan dilema para tentara wamil Korsel. Lakon film ini adalah Tae Jung, perwira yang masa baktinya sebentar lagi akan berakhir.
Namun, beberapa waktu sebelum itu terealisasi, Tae Jung dipertemukan dengan beberapa prajurit yang baru bergabung. Salah satunya adalah teman masa kecilnya, satu lagi benar-benar menguji kesabarannya. Di sini, Tae Jung mulai menyadari ada yang berubah pada dirinya. Ia jadi oportunis dan semena-mena pada momen-momen tertentu gara-gara berbagai celah dalam hierarki militer.
2. Joint Security Area (2000)

Masih dari Korea Selatan, rasanya gak lengkap kalau kamu tak menonton film antimiliterisme berjudul Joint Security Area. Film ini berlatarkan sebuah wilayah netral yang berada di perbatasan Korsel dan Korut, dua musuh bebuyutan yang sebenarnya masih satu rumpun.
Ada dua protagonis yang jadi nyawa film ini. Mereka adalah Sersan Oh dari Korsel dan Sersan Lee asal Korut. Bukannya bermusuhan, tanpa sepengetahuan orang-orang, mereka justru berteman baik.
Sampai satu hari, sebuah insiden terjadi di zona netral tersebut dan seorang investigator asing dilibatkan. Di sinilah, beberapa plot twist terbongkar dan semuanya adalah kritik terhadap hierarki serta ideologi militer yang memaksa manusia mengabaikan hati nurani dan empatinya. Hanya demi apa?
- Genre: drama, kriminal, misteri
- Pemain: Lee Byung Hun, Song Kang Ho
- Sutradara: Park Chan Wook
3. Minotaur (2026)

Minotaur adalah momen comeback sutradara Rusia, Andrey Zvyagintsev, di Cannes Film Festival setelah absen beberapa tahun. Masih memakai signatur andalannya, sang sutradara mencoba membedah situasi sosial politik Rusia lewat drama domestik.
Kali ini, kamu akan mengikuti Gleb, seorang pebisnis level menengah yang berada dalam dilema. Tak hanya karena ia menemukan bukti kalau istrinya selingkuh, tetapi juga ia dipaksa pemerintah untuk menyetor nama-nama pegawai pria yang kiranya bisa dimobilisasi untuk mengisi kebutuhan tentara di garis depan Ukraina.
- Genre: drama, noir
- Pemain: Dmitriy Mazurov, Iris Lebedeva
- Sutradara: Andrey Zvyagintzev
4. The Ascent (1977)

Dibuat sutradara perempuan, The Ascent adalah film lawas Soviet yang dikenang karena pendekatan antiperang dan antimiliterismenya. Film ini berlatarkan Perang Dunia II, tetapi tak sama sekali memotret pertempuran di garis depan.
Sebaliknya, Shepitko memilih untuk memotret petualangan dua tentara yang terpisah dari satuannya dan terdampar di sebuah desa. Di sanalah kepelikan terjadi. Kedua tentara partisan itu akhirnya dihadapkan pada fakta bahwa tak ada satu pun dari warga sipil yang mereka temui yang diuntungkan oleh perang.
- Genre: drama, antiperang
- Pemain: Boris Plotnikov, Vladimir Gostyukhin
- Sutradara: Larisa Shepitko
5. The Secret Agent (2025)

Wagner Moura memerankan Marcelo, pria yang sedang dalam pelarian. Saat itu, Brasil dikuasai junta militer dan satu “kesalahan” kecil bisa berakhir fatal seperti yang sedang dialami Marcelo. Ia tak pernah terpikir untuk meninggalkan Brasil. Ia bukan simpatisan komunis, bukan pula seorang aktivis. Satu-satunya kesalahannya adalah ia menunjukkan keberatan ketika proyek akademiknya diobrak-abrik dan direbut paksa oleh seorang menteri yang punya koneksi bisnis dan militer.
- Genre: drama
- Pemain: Wagner Moura
- Sutradara: Kleber Mendonça Filho
Film-film tadi harusnya jadi aba-aba bagi penonton bahwa tak ada yang aman ketika militerisme dipakai untuk menjalankan pemerintahan. Pengingat yang mahal dan sudah layaknya kamu renungkan.


















