Kamila Andini kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam menggunakan visual untuk menyampaikan narasi cerita. Dalam Empat Musim Pertiwi, Bromo terasa seperti karakter tersendiri yang merepresentasikan kondisi psikologis Pertiwi dan masyarakat di sekitarnya. Kabut, hamparan pasir, rerumputan, hingga lereng pegunungan digunakan untuk menggambarkan perubahan emosional karakter.
Palet warna dingin dan kontras tinggi semakin memperkuat atmosfer misterius. Lanskap Bromo yang biasanya identik dengan keindahan wisata justru terasa asing dan mengancam. Ada sesuatu yang terasa membusuk di balik keindahan tersebut. Empat musim dalam film ini memang tidak harus dipahami secara harfiah, melainkan sebagai metafora mengenai fase kehidupan Pertiwi, mulai dari kegelapan, penderitaan, hingga munculnya harapan dan kemungkinan penyembuhan.
Visualnya juga membantu Empat Musim Pertiwi bergerak di antara berbagai genre. Ada nuansa western balas dendam, horor supernatural, realisme magis, hingga visual poetry. Beberapa adegan terasa seperti berada di antara mimpi dan kenyataan. Salah satu contohnya adalah ketika Pertiwi menyaksikan rekaman VHS dua gadis dari masa lalu. Adegan tersebut mengingatkan kita pada atmosfer Twin Peaks (1990), terutama karena film sengaja membiarkan penonton mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang sedang mereka lihat.
Film ini memang tidak selalu memberikan jawaban dengan cepat. Logika mimpi terasa hadir dalam banyak bagian cerita, termasuk kemunculan sosok monster yang menjadi manifestasi dari trauma yang diwariskan di desa Pertiwi. Gadis tuli dan bisu yang ditemui Pertiwi juga bukan sekadar karakter pendukung. Ia menjadi refleksi dari masa lalu Pertiwi sekaligus simbol bagaimana korban kekerasan seksual dapat terus hadir dalam bentuk yang berbeda.
Di sinilah metafora Empat Musim Pertiwi terasa begitu kental. Kekerasan terhadap perempuan bukan peristiwa yang selesai ketika pelakunya pergi. Ia meninggalkan trauma yang dapat terus hidup, berpindah, dan menghantui generasi berikutnya.
Meski begitu, film ini terlalu cepat menumpuk metafora. Beberapa karakter hanya terasa seperti representasi luka atau cermin bagi Pertiwi ketimbang individu yang benar-benar berkembang. Penahanan informasi tentang masa lalu juga kadang terasa dibuat-buat demi menjaga misteri. Ketika seluruh kebenaran akhirnya dibuka, beberapa adegannya terasa terlalu eksplisit sehingga berisiko bergeser dari kritik menjadi eksploitasi untuk "memuaskan" penonton.