Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fjord (dok. Mobra Films/Fjord)
  • Fjord karya Cristian Mungiu, pemenang Palme d'Or Cannes 2026, mengikuti keluarga imigran Rumania-Norwegia yang diselidiki setelah sekolah menemukan luka pada salah satu anak.
  • Konflik berkembang menjadi perkara hukum yang mempertemukan hak orang tua, perlindungan anak, agama, budaya, dan standar sosial Norwegia tanpa menawarkan jawaban hitam-putih.
  • Sebastian Stan dan Renate Reinsve menguatkan drama berdurasi 146 menit ini; sinematografi Norwegia yang indah namun dingin mendukung ritme observasional yang lambat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sejauh mana negara bisa mengintervensi urusan domestik sebuah keluarga? Pertanyaan tersebut menjadi semakin rumit ketika definisi tentang pola asuh, agama, dan perlindungan anak ternyata berbeda antara keluarga dan negara tempat mereka tinggal. Inilah dilema yang dibawa Fjord, film karya Cristian Mungiu yang memenangkan Palme d'Or di Festival Film Cannes 2026. IDN Times sendiri berkesempatan untuk menontonnya saat pembukaan Jakarta World Cinema (JWC) 2026 di CGV Indonesia, Jakarta, Sabtu malam (31/10/2026).

Lewat kisah keluarga imigran Romania di Norwegia, Mungiu tidak sekadar membuat drama keluarga atau legal thriller. Ia mengajak penonton masuk ke wilayah abu-abu tentang hak orangtua, perlindungan anak, perbedaan budaya, dan polarisasi masyarakat. Penasaran bagaimana Fjord mengubah konflik keluarga menjadi perdebatan moral yang jauh lebih besar? Simak review film Fjord berikut ini.

Sinopsis Fjord (2026)

Fjord mengikuti Mihai Gheorghiu (Sebastian Stan) dan Lisbet (Renate Reinsve), pasangan Rumania-Norwegia yang sangat religius dan pindah bersama lima anak mereka ke sebuah desa di kawasan Fjord, Norwegia. Kehidupan baru mereka awalnya berjalan tenang. Anak-anak mereka mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan berteman dengan anak-anak tetangga.

Namun, keadaan berubah setelah pihak sekolah menemukan tanda-tanda luka pada salah satu anak mereka. Kecurigaan kemudian diarahkan kepada pola asuh keluarga Gheorghiu yang dianggap terlalu tradisional. Dari sinilah persoalan berkembang menjadi penyelidikan perlindungan anak. Mihai dan Lisbet harus berhadapan dengan sistem sosial dan hukum Norwegia yang mempertanyakan cara mereka mendidik anak-anak.

Konflik yang awalnya terlihat seperti persoalan keluarga perlahan berubah menjadi pertarungan antara nilai keluarga, agama, budaya, dan negara. Perkara tersebut kemudian bergulir ke ranah hukum. Mihai dan Lisbet harus berusaha mempertahankan hak mereka sebagai orang tua sekaligus membuktikan bahwa keluarga mereka tidak seperti yang dipersepsikan oleh lingkungan sekitar.

Fjord
2026
4.5/5★
Directed by Cristian Mungiu
ProducerCristian Mungiu, Tudor Reu, Andrea Berentsen Ottmar, Dyveke Bjøkly Graver
WriterCristian Mungiu
Age RatingD17
GenreDrama, legal thriller
Duration146 Minutes
Release Date31 Oktober
ThemeCultural conflict, social polarization, freedom of religion, family custody conflicts pitted against state bureaucracy
Production HouseMobra Films, Why Not Productions, Eye Eye Pictures, Snowglobe Film, Aamu Film Company, Filmgate Films
Where to WatchCGV Indonesia
CastSebastian Stan, Renate Reinsve, Lisa Carlehed, Henrikke Lund-Olsen, Vanessa Ceban, Jonathan Ciprian Breazu, Ellen Dorrit Petersen, Lisa Loven Kongsli, Markus Tønseth

Trailer Fjord (2026)

1. Fjord sukses mengubah konflik keluarga menjadi dilema moral

Fjord bukan film yang terburu-buru menjelaskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Justru sebaliknya. Selama kurang lebih 30 menit pertama, penonton hanya diajak mengamati kehidupan keluarga Mihai dan Lisbet. Tidak ada ledakan konflik besar. Tidak ada adegan yang sengaja dibuat untuk langsung memancing air mata. Mungiu membiarkan kita melihat bagaimana keluarga ini menjalani kesehariannya.

Mihai adalah ayah yang tenang dan cenderung pendiam. Lisbet merupakan ibu yang penyabar dan cekatan. Anak-anak mereka pun terlihat menikmati kehidupan di lingkungan baru. Karena itulah ketika tuduhan kekerasan terhadap anak mulai muncul, penonton ikut berada dalam posisi yang sama dengan Mihai dan Lisbet: bingung. Bagaimana mungkin keluarga yang terlihat begitu tenang tiba-tiba masuk ke dalam radar lembaga perlindungan anak?

Di sinilah Fjord mulai bekerja sebagai sebuah legal thriller. Bukan melalui teka-teki tentang siapa pelakunya, melainkan melalui pertanyaan tentang siapa yang berhak menentukan definisi keluarga yang "benar." Mungiu tidak hanya mempertemukan individu dengan negara. Ia mempertemukan dua cara pandang. Di satu sisi, ada keluarga Gheorghiu dengan nilai agama dan pola asuh konservatif yang mereka yakini. Di sisi lain, ada masyarakat Norwegia yang memiliki standar berbeda mengenai perlindungan anak dan batasan kekerasan dalam keluarga.

Persoalannya menjadi semakin kompleks karena perbedaan tersebut tidak berhenti pada urusan pola asuh. Keyakinan keluarga Gheorghiu juga membuat mereka terlihat berbeda dari lingkungan sosialnya. Dengan begitu, tuduhan terhadap mereka perlahan terasa seperti bagian dari persoalan yang lebih besar: bagaimana masyarakat memperlakukan orang yang memiliki keyakinan berbeda?

Mungiu tidak meminta penonton untuk sepenuhnya membela keluarga Gheorghiu. Ia justru membuat kita tidak nyaman dengan posisi sendiri. Apakah kita akan tetap membela hak sebuah keluarga ketika nilai-nilai yang mereka yakini bertentangan dengan nilai yang kita anggap benar? Pertanyaan tersebut membuat Fjord terasa jauh lebih besar daripada kisah perebutan hak asuh anak.

2. Sebastian Stan dan Renate Reinsve membuat konfliknya terasa manusiawi

Sebastian Stan mungkin lebih dikenal sebagai Bucky Barnes di Marvel Cinematic Universe (MCU), tetapi Fjord memberinya ruang bermain dengan energi yang berbeda. Sebagai Mihai, Stan tidak menjadikan karakter ini sosok ayah yang meledak-ledak. Justru sebagian besar emosinya disimpan melalui bahasa tubuh, tatapan, dan gestur kecil. Hal itu penting karena Mihai berada dalam situasi yang membuatnya hampir tidak berdaya.

Ia harus berhadapan dengan sistem yang tidak sepenuhnya ia pahami, sementara bahasa dan budaya yang digunakan dalam proses hukum juga membuat posisinya semakin sulit. Kemarahan Mihai tidak langsung meledak. Ia mengendap perlahan hingga akhirnya menjadi bagian penting dari konflik.

Renate Reinsve juga memberikan performa yang sangat kuat sebagai Lisbet. Lisbet bukan sekadar ibu yang berusaha mendapatkan kembali anak-anaknya. Ia adalah perempuan dengan keyakinan agama yang kuat, sekaligus seorang ibu yang berusaha menjadi bagian dari komunitas baru. Reinsve memainkan kontradiksi tersebut dengan sangat halus. Ia tidak menjadikan Lisbet sebagai korban yang cengeng atau karakter religius yang mudah dihakimi. Ada ketenangan dalam caranya menghadapi tekanan, sehingga ketika emosinya muncul, dampaknya terasa lebih kuat.

Chemistry Stan dan Reinsve juga menjadi salah satu kekuatan terbesar film. Keduanya tidak perlu banyak dialog untuk menunjukkan bahwa Mihai dan Lisbet sedang menghadapi situasi yang perlahan menghancurkan keluarga mereka. Adegan persidangan kemudian menjadi arena bagi performa keduanya.

Di sini, Fjord sesekali mengingatkan pada Anatomy of a Fall (2023), terutama dalam cara konflik keluarga berubah menjadi persoalan hukum yang membuat penonton terus mempertanyakan informasi yang diberikan. Bedanya, Mungiu lebih tertarik pada benturan nilai sosial dan budaya daripada sekadar mencari jawaban atas sebuah misteri.

Dan justru karena Stan maupun Reinsve tidak berusaha membuat karakter mereka selalu disukai, dilema moralnya terasa lebih kuat. Membela hak seseorang yang kita sukai memang mudah. Yang jauh lebih sulit adalah membela hak seseorang yang keyakinannya tidak kita setujui.

3. Sinematografi Fjord membuat Norwegia terasa indah sekaligus "dingin"

Kalau ada satu hal yang paling konsisten dari Fjord, itu adalah bagaimana sinematografinya membangun atmosfer. Tudor Vladimir Panduru merekam lanskap Norwegia dengan pendekatan yang tenang. Pegunungan bersalju, fjord, rumah-rumah kecil, dan ruang domestik keluarga Gheorghiu ditampilkan tanpa banyak manipulasi visual.

Tidak banyak permainan kamera yang mencolok. Tidak ada gaya visual yang sengaja berusaha membuat setiap adegan terlihat spektakuler. Semuanya terasa sederhana dan observasional. Namun, justru pendekatan tersebut membuat atmosfer Fjord terasa kuat.

Norwegia dalam film ini terlihat indah, tetapi sekaligus terasa dingin dan terisolasi. Keindahan alamnya tidak selalu memberikan rasa nyaman. Ada jarak antara keluarga Gheorghiu dan lingkungan tempat mereka tinggal, dan jarak tersebut perlahan terasa semakin besar seiring konflik berkembang. Pendekatan visual ini juga sejalan dengan cara Mungiu membangun cerita. Konfliknya seperti permukaan danau yang terlihat tenang. Tidak banyak gelombang, tetapi ada sesuatu yang terus bergerak di bawahnya.

Sayangnya, pendekatan slow-paced tersebut juga menjadi tantangan terbesar film. Dengan durasi 146 menit, Fjord membutuhkan kesabaran. Film membutuhkan waktu cukup panjang untuk memperkenalkan keluarga, lingkungan, dan hubungan antarkarakter sebelum konflik utamanya benar-benar terasa. Bagi penonton yang terbiasa dengan drama hukum yang cepat dan penuh plot twist, ritme Fjord mungkin terasa terlalu lambat.

Namun, bagi penonton yang menikmati arthouse dengan pendekatan observasional, ritme tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman. Mungiu memang tidak ingin mendikte penonton. Ia hanya memperlihatkan sebuah fenomena sosial, memberikan dua kubu dengan keyakinannya masing-masing, lalu membiarkan penonton bergulat dengan pertanyaan moralnya sendiri.

Pada akhirnya, itulah kekuatan sekaligus kelemahan Fjord. Film ini tidak memberikan jawaban sederhana mengenai apakah negara terlalu jauh mencampuri urusan keluarga atau justru sedang menjalankan tanggung jawabnya untuk melindungi anak. Mungiu hanya menunjukkan bahwa ketika hukum, budaya, agama, dan pola asuh bertemu, kebenaran tidak selalu hadir dalam bentuk hitam-putih.

4. Apakah Fjord recommended untuk ditonton?

Fjord sangat direkomendasikan untuk ditonton, terutama bagimu yang menyukai film legal drama dan cerita yang tidak memberikan jawaban moral secara instan. Film ini memang bukan tontonan ringan. Ritmenya lambat, durasinya panjang, dan konfliknya lebih banyak dibangun melalui percakapan serta pengamatan terhadap karakter daripada aksi dramatis. Namun, kesabaran tersebut mendapatkan bayaran melalui sebuah dilema moral yang terus mengganggu pikiran bahkan setelah film selesai.

Cristian Mungiu, yang sebelumnya memenangkan Palme d'Or lewat 4 Months, 3 Weeks and 2 Days (2007), kembali menggunakan film sebagai ruang untuk membicarakan fenomena sosial dan polarisasi masyarakat. Dengan Fjord, ia bahkan menjadi salah satu sutradara yang berhasil memenangkan Palme d'Or dua kali.

Menariknya, Mungiu tidak membuat film ini seperti sebuah khotbah politik. Ia tidak memaksa penonton untuk memilih kubu. Sebaliknya, ia mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mengganggu: apakah kita masih bersedia melindungi hak seseorang ketika kita tidak menyukai apa yang mereka yakini? Pertanyaan tersebut membuat Fjord terasa relevan di tengah masyarakat yang semakin mudah terpolarisasi.

Bagimu yang mencari film dengan konflik cepat dan emosional, Fjord mungkin terasa melelahkan. Namun, bagi mereka yang ingin menyaksikan drama keluarga yang berkembang menjadi perdebatan tentang negara, agama, budaya, dan kebebasan, film ini merupakan salah satu tontonan yang patut diberi kesempatan.

Fjord bisa disaksikan dalam rangkaian Jakarta World Cinema (JWC) 2026 di CGV Grand Indonesia, Jakarta. Sudah siap menguji pandanganmu sendiri soal batas antara hak keluarga dan kewenangan negara? Jangan lewatkan Fjord di Jakarta World Cinema 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article