Kalau ada satu hal yang paling konsisten dari Fjord, itu adalah bagaimana sinematografinya membangun atmosfer. Tudor Vladimir Panduru merekam lanskap Norwegia dengan pendekatan yang tenang. Pegunungan bersalju, fjord, rumah-rumah kecil, dan ruang domestik keluarga Gheorghiu ditampilkan tanpa banyak manipulasi visual.
Tidak banyak permainan kamera yang mencolok. Tidak ada gaya visual yang sengaja berusaha membuat setiap adegan terlihat spektakuler. Semuanya terasa sederhana dan observasional. Namun, justru pendekatan tersebut membuat atmosfer Fjord terasa kuat.
Norwegia dalam film ini terlihat indah, tetapi sekaligus terasa dingin dan terisolasi. Keindahan alamnya tidak selalu memberikan rasa nyaman. Ada jarak antara keluarga Gheorghiu dan lingkungan tempat mereka tinggal, dan jarak tersebut perlahan terasa semakin besar seiring konflik berkembang. Pendekatan visual ini juga sejalan dengan cara Mungiu membangun cerita. Konfliknya seperti permukaan danau yang terlihat tenang. Tidak banyak gelombang, tetapi ada sesuatu yang terus bergerak di bawahnya.
Sayangnya, pendekatan slow-paced tersebut juga menjadi tantangan terbesar film. Dengan durasi 146 menit, Fjord membutuhkan kesabaran. Film membutuhkan waktu cukup panjang untuk memperkenalkan keluarga, lingkungan, dan hubungan antarkarakter sebelum konflik utamanya benar-benar terasa. Bagi penonton yang terbiasa dengan drama hukum yang cepat dan penuh plot twist, ritme Fjord mungkin terasa terlalu lambat.
Namun, bagi penonton yang menikmati arthouse dengan pendekatan observasional, ritme tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman. Mungiu memang tidak ingin mendikte penonton. Ia hanya memperlihatkan sebuah fenomena sosial, memberikan dua kubu dengan keyakinannya masing-masing, lalu membiarkan penonton bergulat dengan pertanyaan moralnya sendiri.
Pada akhirnya, itulah kekuatan sekaligus kelemahan Fjord. Film ini tidak memberikan jawaban sederhana mengenai apakah negara terlalu jauh mencampuri urusan keluarga atau justru sedang menjalankan tanggung jawabnya untuk melindungi anak. Mungiu hanya menunjukkan bahwa ketika hukum, budaya, agama, dan pola asuh bertemu, kebenaran tidak selalu hadir dalam bentuk hitam-putih.