Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

The Land of Jinn, Film Horor Indonesia-Kirgizstan Bidik Pasar Film Tokyo

3 min read
The Land of Jinn, Film Horor Indonesia-Kirgizstan Bidik Pasar Film Tokyo
tim produksi The Land of Jinn (Instagram.com/naziracnoer)
  • The Land of Jinn menjadi kolaborasi perdana Indonesia-Kirgizstan, disutradarai Kevin Rahardjo dan mengisahkan perempuan Indonesia yang mencari tabib mistis demi menyelamatkan kandungannya.
  • Film horor supernatural ini memadukan mitos jin Indonesia dan Kirgizstan, terinspirasi legenda Raja Sulaiman, memakai tiga bahasa, serta menjalani syuting di Issyk-Kul dan Jakarta.
  • Proyek yang telah memasuki pascaproduksi ini diperkenalkan di Tokyo Gap-Financing Market untuk mencari pendanaan, pra-penjualan, dan distribusi internasional menjelang target tayang 2027.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kolaborasi lintas negara menjadi salah satu cara bagi sineas Indonesia memperluas jangkauan perfilman ke pasar global. Kali ini, Indonesia menggandeng Kirgizstan untuk menghadirkan The Land of Jinn, film horor supernatural yang memadukan kisah mistis dari dua budaya berbeda.

Tidak hanya menawarkan teror, film garapan sutradara Kevin Rahardjo tersebut juga membawa cerita tentang jin yang berakar dari legenda Raja Sulaiman. Proyek tersebut telah diperkenalkan di Tokyo Gap-Financing Market dan kini sedang mencari peluang pendanaan serta distribusi internasional.

  1. 1. The Land of Jinn jadi kolaborasi film perdana Indonesia-Kirgizstan

    Tim produksi The Land of Jinn berkumpul bersama dalam unggahan Instagram akun Nazira C. Noer.
    tim produksi The Land of Jinn (Instagram.com/naziracnoer)

    Indonesia dan Kirgizstan menjalin kerja sama perdana dalam produksi film lewat proyek horor supernatural berjudul The Land of Jinn. Film ini disutradarai oleh Kevin Rahardjo yang sebelumnya menggarap Smothered. Sementara itu, skenarionya ditulis oleh Makbul Mubarak (Autobiography) dan Tumpal Tampubolon (Crocodile Tears).

    The Land of Jinn menceritakan tentang seorang perempuan muda asal Indonesia yang melakukan perjalanan ke Kirgizstan untuk mencari tabib mistis demi menyelamatkan bayi yang sedang dikandungnya. Namun, perjalanan tersebut justru mengikat takdir sang anak dengan para jin yang menghuni wilayah tersebut. Selain itu, cerita film ini juga terinspirasi dari legenda Raja Sulaiman yang dipercaya memiliki kuasa untuk memerintah para jin.

    Menurut laporan Variety, proses syuting The Land of Jinn dilakukan di dua negara, yaitu Kirgizstan, tepatnya di kawasan Issyk-Kul, dan Indonesia, khususnya Jakarta. Film ini menggunakan tiga bahasa, yakni Inggris, Indonesia, dan Kirgiz. Saat ini, proses produksinya sudah memasuki tahap pascaproduksi dan direncanakan tayang pada 2027.

  2. 2. Angkat mitos jin dari dua budaya berbeda

    Sejumlah anggota tim produksi The Land of Jinn berkumpul dan berfoto bersama dalam unggahan Instagram.
    tim produksi The Land of Jinn (Instagram.com/naziracnoer)

    Sebagai film horor, The Land of Jinn menghadirkan premis tak biasa dengan memadukan kepercayaan mistis dari Indonesia dan Kirgizstan. Produser Yulia Evina Bhara mengatakan bahwa rasa takut bisa dirasakan oleh semua orang, tapi cerita tentang hantu dan makhluk gaib di setiap negara memiliki keunikan masing-masing.

    Menurutnya, masyarakat Indonesia dan Kirgizstan sama-sama akrab dengan cerita tentang dunia gaib sejak kecil. Anak-anak di kedua negara juga sering mendengar nasihat dari kakek dan nenek mereka agar tidak keluar rumah setelah waktu Magrib.

    “Di Indonesia, kami memiliki 17 ribu pulau dan 17 ribu hantu. Sementara itu, Kirgizstan memiliki jin-jin mereka sendiri yang menghuni pegunungan dan padang stepa,” ujar Yulia, dikutip Variety, Selasa (27/10/2026).

    Selain memiliki kesamaan dalam cerita mistis, Yulia juga menyoroti kedua negara mempunyai keunggulan yang bisa saling melengkapi dalam industri perfilman. Menurutnya, Kirgizstan memiliki sineas berbakat, pemandangan alam yang masih alami, serta akses ke pasar Asia Tengah dan Eurasia, sementara Indonesia memiliki pasar film horor yang kuat.

  3. 3. Bidik pendanaan dan distribusi internasional di Tokyo

    Tim produksi The Land of Jinn berpose bersama dalam foto yang diunggah melalui akun Instagram Nazira C. Noer.
    tim produksi The Land of Jinn (Instagram.com/naziracnoer)

    Belum lama ini, The Land of Jinn diperkenalkan dalam Tokyo Gap-Financing Market (TGFM), sebuah ajang industri perfilman internasional yang menjadi bagian dari Tokyo International Film Festival Content Market (TIFFCOM). Melalui kesempatan ini, para produser berupaya menemukan mitra untuk menutup kekurangan pendanaan sekaligus menjajaki peluang distribusi film ke berbagai negara.

    Mereka juga menargetkan kesepakatan pra-penjualan (pre-sales) atau jalur festival sebagai salah satu strategi untuk memperluas jangkauan film menjelang perilisan pada 2027. Yulia Evina Bhara berharap proyek ini dapat menjadi contoh bagi pengembangan kolaborasi produksi film antarnegara di kawasan Asia.

    Selain Bhara dan Amerta Kusuma dari KawanKawan Media, proyek ini juga melibatkan Sultan Pirzhan dan Elvira Sarieva dari FreeMinds serta Maksat Bolotbek dari Bairak Group sebagai produser dari Kirgizstan. Nazira C. Noer juga bergabung sebagai produser sekaligus delegasi.

Related Articles

See More