Review Film Harusnya Horror: Premis Lumayan, Eksekusi Masih Kekurangan

Reza Oktovian atau yang akrab disapa Reza Arap kini mulai merambah ke dunia film. Bukan jadi pemain lagi, kali ini sang kreator duduk di bangku sutradara untuk menggarap film Harusnya Horror. Menariknya, jajaran pemain film ini diramaikan oleh AAA Clan, komunitas kreator konten yang diprakasai juga oleh Reza.
Sontak, para penggemar penasaran untuk menyaksikan karya terbaru dari para kreator yang dikenal dengan konten siaran langsung Marapthon mereka ini. Buat kamu yang masih maju mundur untuk menonton di bioskop, berikut ulasan singkat dari IDN Times.
Sinopsis Harusnya Horror
Sekelompok orang mengalami kesulitan finansial dan sedang berusaha menjadi kreator konten. Mereka lalu mencoba untuk mendalami ranah horor yang sedang digandrungi oleh masyarakat. Tak disangka, mereka bertemu dengan hantu yang rupanya tidak menyeramkan seperti pada umumnya.
Hantu dan kreator konten ini lalu bekerjasama untuk menciptakan konten-konten horor agar viral. Di sisi lain, konten-konten ini juga membantu memenuhi keinginan terakhir sang hantu. Apakah rencana mereka berhasil?
Harusnya Horror20262.5/5Directed by Reza OktovianProducer Sridhar Jetty
Writer Rahabi Mandra, Syahrun Ramadhan
Age Rating 13+
Genre Komedi, Fantasi, Kengerian
Duration 106 Minutes
Release Date 20-08-2026
Theme afterlife, ghost, supernatural power, human spirit, tiktok, fear of people, surreal comedy, content creator, male protagonists, showbiz, joke
Production House ESS JAY Pictures, AAA Clan, Marapthon, Sinegrande, Legacy Pictures
Where to Watch Bioskop
Cast Reza Oktovian, Lula Lahfah, Tierison, Garry Ang, Yuka Theo
Trailer Harusnya Horror
Cuplikan film Harusnya Horror
1. Harusnya Horror berikan premis yang menarik, tapi eksekusi kurang
Secara konsep, Harusnya Horror punya cerita yang cukup menarik. Namun, sepanjang film ada beberapa plot hole yang membuat penonton bertanya-tanya, terutama soal aturan dunia yang dibangun dalam ceritanya. Salah satunya ketika karakter Mas yang diperankan oleh Reza Arap ini diminta untuk menakut-nakuti seseorang, tetapi cara tersebut tidak berhasil ketika dilakukan secara daring. Sayangnya, film tidak benar-benar memberikan penjelasan mengapa hal tersebut bisa terjadi, bahkan para karakter di dalam cerita pun terlihat sama-sama kebingungan.
Film juga berani melakukan intervensi dengan realitas di tengah cerita. Langkah tersebut sebenarnya menarik dan bisa menjadi kejutan tersendiri, tetapi efeknya cukup mengganggu jika penonton tidak mengikuti perjalanan AAA Clan secara dekat. Ditambah berbagai kameo, lelucon, dan referensi yang berkaitan dengan AAA Clan, Harusnya Horror akhirnya terasa seperti film yang lebih mudah dinikmati oleh penggemar mereka. Buat penonton dari luar lingkaran tersebut, beberapa bagian justru bisa terasa absurd dan sulit untuk diikuti.
2. Akting AAA Clan yang jadi pemeran utama film Harusnya Horror
Salah satu tantangan terbesar film ini adalah jajaran pemainnya yang memang bukan aktor profesional. Meski para pemain disebut sudah menjalani workshop untuk mempersiapkan kemampuan akting, hasilnya masih terasa cukup kaku di beberapa adegan. Ada dialog dan ekspresi yang terasa cringe, tetapi di beberapa titik justru memberikan warna tersendiri untuk film yang memang membawa gaya khas AAA Clan.
Lula Lahfah sebagai Gea menjadi salah satu yang cukup menonjol dari sisi akting. Karakternya membawa sisi emosional yang membuat beberapa adegan terasa lebih menyentuh dibandingkan bagian lain dalam film. Hal tersebut terasa semakin berat, karena sejumlah dialog dan cerita Gea terasa memiliki paralel dengan kisah nyata mendiang.
Karena itu, bagian akhir film menjadi salah satu momen yang cukup emosional. Penonton yang mengetahui kepergian Lula Lahfah tentu akan melihat adegan tersebut dengan perasaan yang berbeda. Pada akhirnya, kisah Gea bukan hanya menjadi bagian dari cerita film, tetapi juga terasa seperti penghormatan yang membuat ending Harusnya Horror meninggalkan kesan sedih.
3. Set produksi yang berasa niat dan gak main-main
Kalau ada satu hal yang terasa sangat niat dari Harusnya Horror, jawabannya adalah detail produksi dan setting lokasi. Sebagai film yang digarap oleh tim yang relatif baru dalam format layar lebar, penataan propertinya tidak terasa asal-asalan. Bahkan detail kecil seperti kalender di rumah makan milik orangtua Kevin ikut disesuaikan dengan kebutuhan cerita sehingga menimbulkan easter egg menarik di sepanjang film.
Penilaian ini tentu datang dari sudut pandang penonton yang tidak terlalu mengikuti AAA Clan. Bagi penggemar mereka, berbagai lokasi, karakter, kameo, hingga lelucon yang muncul sepanjang film mungkin justru bisa menjadi nostalgia tersendiri setelah Marapthon AAA Clan berakhir. Namun sekali lagi, untuk penonton di luar fandom tersebut, pengalaman menontonnya bisa terasa berbeda.
Referensi yang terlalu spesifik membuat beberapa bagian film terasa seperti lelucon internal yang tidak semuanya berhasil diterjemahkan ke penonton umum. Jadi, kalau ditanya apakah Harusnya Horror lebih cocok tayang di bioskop atau platform OTT, film ini mungkin akan terasa lebih aman di OTT, atau di YouTube Reza Arap yang memang sudah ramai dengan penontonnya. Bukan tanpa alasan, karena penonton bisa menyaksikannya dengan santai, sekaligus punya kesempatan mengejar konteks AAA Clan yang mungkin terlewat


















