Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Review Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Lebih Tegang dari yang Pertama?
cuplikan film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah (YouTube.com/Paragon Pictures)
  • Kuasa Gelap: Perjanjian Darah menghadirkan teror Rephaim dari perjanjian darah leluhur, saat Romo Rendra dan Romo Thomas berupaya menghentikan kerasukan serta ancaman yang meluas.
  • Produksi film dinilai lebih sinematik melalui pencahayaan, kamera, latar angker, dan makeup kerasukan. Ketegangan dibangun perlahan tanpa hanya mengandalkan jumpscare.
  • Akting Venly Arauna sebagai Daniel menonjol, didukung chemistry pemain lain. Skala teror lebih besar daripada film pertama, tetapi dampaknya dan klimaks dinilai masih kurang maksimal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Setelah sukses membawa horor bertema eksorsisme ke layar lebar lewat film pertamanya, Kuasa Gelap kembali dengan cerita baru lewat Kuasa Gelap: Perjanjian Darah atau Kuasa Gelap 2. Film kedua ini masih membawa unsur supernatural dan teror iblis, tetapi dengan konflik yang lebih luas dan kisah masa lalu yang penuh amarah dan rahasia.

Dari sisi produksi, peningkatan tersebut cukup terasa. Saat menonton film ini dalam pemutaran perdana di XXI Gandaria City, Senin (28/9/2026) dalam format IMAX, saya melihat Kuasa Gelap 2 tampil lebih sinematik. Sinematografinya mampu membangun atmosfer gelap dan mencekam, sementara makeup untuk adegan horornya juga digarap dengan cukup baik sehingga penampakan dan kondisi karakter saat mengalami teror terasa lebih meyakinkan.

Sejumlah penonton juga tampak terkesan dengan adegan-adegan horor yang dihadirkan. Beberapa momen bahkan berhasil membuat suasana di dalam studio terasa lebih tegang, terutama ketika cerita mulai memasuki bagian dengan teror yang semakin intens.

Namun, apakah peningkatan dari sisi produksi dan cerita tersebut membuat Kuasa Gelap: Perjanjian Darah lebih menegangkan dari film pertamanya? Berikut review-nya.

Sinopsis Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah (2026)

Romo Rendra dan Romo Thomas menghadapi teror iblis yang jauh lebih besar. Kali ini, mereka harus berhadapan dengan Rephaim, entitas kegelapan yang lahir dari perjanjian darah leluhur.

Teror ini bermula dari sebuah ritual yang gagal di kota terpencil dan berujung pada kerasukan akibat jerat pesugihan. Rendra dan Thomas pun harus melakukan pengusiran setan untuk menghentikan teror yang semakin meluas. Namun, semakin mereka berusaha mengungkap asal-usulnya, semakin kuat pula ancaman Rephaim.

Kuasa Gelap 2: Perjanjian Darah
2026
3.8/5★
Directed by Rizal Mantovani
ProducerRobert Ronny, Prima Taufik
WriterRobert Ronny, Andri Cahyadi
Age Rating13+
GenreHorror
Duration117 menit Minutes
Release Date08-10-2026
ThemeEksorsisme
Production HouseParagon Pictures, Ideosource Entertainment
Where to WatchXXI, CGV, Cinepolis
CastJerome Kurnia, Lukman Sardi, Venly Arauna, Ferry Salim

Trailer Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah (2026)

1. Visualnya lebih sinematik

Dari awal menyaksikan Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, saya langsung merasakan peningkatan dari sisi produksi. Film ini tampil lebih sinematik lewat penggunaan pencahayaan, ruang, dan pergerakan kamera yang mampu membangun atmosfer horor. Rumah yang menjadi salah satu latar cerita juga terasa begitu angker, mulai dari lukisan hingga benda-benda di dalamnya ikut memperkuat kesan misterius. Nuansa mencekam juga terasa saat cerita berpindah ke area pelabuhan. Menariknya, di tengah atmosfer gelap tersebut, film ini tetap menyuguhkan pemandangan alam yang terasa magis sehingga visualnya tidak melulu terasa suram.

Makeup yang digunakan pun juga mendukung adegan-adegan teror, terutama saat Daniel mengalami perubahan fisik dan berada dalam kondisi kerasukan. Detail pada wajahnya terlihat cukup meyakinkan sehingga membuat suasana semakin tidak nyaman.

Yang cukup menarik, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah tidak hanya mengandalkan jumpscare untuk menghadirkan rasa takut. Beberapa adegan justru membangun ketegangan secara perlahan, sehingga saya sebagai penonton sempat menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika situasinya mulai semakin kacau, ketegangan itu pun ikut terasa di dalam studio.

Meski memiliki porsi drama yang cukup kuat, bagian ini tidak sampai membuat cerita kehilangan fokus. Konflik personal dan hubungan antarkarakter tetap dikembangkan, tetapi tidak berlarut-larut. Horor pun tetap menjadi bagian penting dalam cerita sehingga setelah konflik berkembang, film bisa kembali membawa penonton ke situasi yang menegangkan.

2. Akting Venly Arauna patut diapresiasi!

Dari jajaran pemainnya, performa Venly Arauna sebagai Daniel menjadi salah satu yang cukup menonjol. Meski belum terlalu banyak mendapat sorotan di industri film, Venly mampu membawakan Daniel dengan cukup meyakinkan. Ketakutan, kebingungan, hingga kepanikan yang dialaminya terasa natural, terutama ketika Daniel mulai menyadari bahwa ancaman yang dihadapinya bukan lagi sekadar kemungkinan. Ekspresi dan gestur yang ditampilkan Venly juga membuat tekanan yang dialami Daniel terasa sampai ke penonton.

Lukman Sardi dan Jerome Kurnia pun kembali menunjukkan chemistry yang kuat sebagai Romo Rendra dan Romo Thomas. Keduanya gak cuma mengulang peran dari film pertama, tetapi juga mampu membawa karakter masing-masing menghadapi konflik yang lebih personal dan ancaman yang semakin besar.

Di sisi lain, Ferry Salim dan Feby Febiola juga memperlihatkan akting yang cukup kuat sebagai orangtua Daniel. Sementara itu, Lydia Kandou, Kiki Narendra, dan Sisca Saras ikut memberikan warna pada cerita lewat karakter masing-masing.

3. Terornya makin Luas, tapi klimaksnya berasa kurang greget

Memasuki babak akhir, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah mulai memperlihatkan teror dengan cakupan yang lebih luas. Jika film pertama lebih berfokus pada gangguan yang dialami satu keluarga, kali ini ancamannya berkembang hingga berdampak pada lebih banyak orang dan lingkungan di sekitarnya. Perluasan tersebut membuat skala teror dalam film kedua terasa lebih besar sekaligus menjadi salah satu pembeda dari film pertamanya.

Namun, saya merasa film ini masih bisa memberikan lebih banyak ruang untuk memperlihatkan dampak dari teror tersebut. Beberapa momen memang sudah menunjukkan situasi yang lebih luas dan kacau, tetapi porsinya terasa cukup singkat. Alhasil, saya belum sepenuhnya merasakan besarnya kekacauan yang sedang terjadi. Padahal, dengan skala cerita yang sudah diperluas, gambaran mengenai dampaknya bisa membuat bagian klimaks terasa jauh lebih kuat.

Jadi, apakah Kuasa Gelap: Perjanjian Darah lebih tegang dari film pertama? Menurut saya, iya, terutama karena film ini mampu membangun atmosfer dan ketegangan dengan lebih konsisten. Meski ada beberapa bagian yang masih bisa dibuat lebih intens, saya tetap dibuat penasaran dengan perkembangan ceritanya hingga akhir. Cerita baru yang dihadirkan, ditambah atmosfer horor yang lebih kuat, juga membuat beberapa momennya terasa semakin mencekam.

Secara keseluruhan, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah cukup berhasil menghadirkan pengalaman horor yang lebih tegang tanpa harus mengandalkan jumpscare sepanjang cerita.

Curated For You

Editorial Team

Related Article