Cerita Jerome, Lukman, dan Kiki soal Film Kuasa Gelap Perjanjian Darah

Jakarta, IDN Times – Proyek Kuasa Gelap: Perjanjian Darah resmi diumumkan. Film ini merupakan kelanjutan dari Kuasa Gelap (2024) yang sukses besar di Indonesia. Mengangkat kisah eksorsisme dalam tradisi Katolik, sempat ada kekhawatiran kalau film ini tak bakal mendapat respon positif. Sebaliknya, film ini sukses meraih lebih dari 1,4 juta penonton, terjual ke 53 negara, hingga menduduki puncak Netflix Indonesia pada awal 2025.
Kini, di bawah arahan Rizal Mantovani dan diproduseri Robert Ronny bersama Prima Taufik, film ini siap kembali dengan cerita yang lebih dalam. Menariknya, para aktor yang memerankan romo justru membawa pengalaman personal yang kuat selama prosesnya. Seperti apa cerita mereka?
1. Jerome Kurnia bangga bisa memerankan Romo Thomas

Jerome Kurnia menjadi yang pertama membagikan pengalaman emosionalnya sebagai Romo Thomas. Ia mengaku memiliki latar belakang keluarga Katolik yang cukup taat, terutama karena peran besar sang tante dalam hidupnya.
"Pertama-tama, aku datang dari keluarga yang cukup taat dengan agama Katolik. Terutama yang sangat mengajarkan aku dengan agama itu adalah Bude (tante) aku," akunya saat konferensi pers di Bajawa Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (27/3/2026)
Sejak kecil, Jerome terbiasa diajak ke gereja, mengikuti sakramen, hingga memahami ajaran Katolik dari sosok yang ia panggil "Bude." Karena itu, ketika ia memerankan Romo Thomas, ada kebanggaan tersendiri yang ia lihat dari mata tantenya.
"Ada suatu kebanggaan tersendiri di matanya ketika dia melihat aku memerankan Romo Thomas di Kuasa Gelap kemarin," jelas Jerome.
Peran romo ternyata tidak berhenti di layar lebar saja. Jerome merasa ada perubahan dalam dirinya. Ia pun kembali merefleksikan hubungannya dengan iman. Momen itu terasa semakin personal ketika sang tante wafat beberapa bulan lalu. Kini, setiap kali merindukannya, Jerome memilih pergi ke gereja.
"Sekarang kalau rindu dengan dia (Bude), aku ke gereja untuk mengenangnya. Dan itu sebuah timbul awalnya dari pertama kali aku syuting film Kuasa Gelap," tuturnya.
2. Lukman Sardi sempat khawatirkan respon terhadap Kuasa Gelap sebagai film eksorsisme pertama di Indonesia

Berbeda dengan Jerome, Lukman Sardi justru sempat diliputi kekhawatiran saat pertama kali terlibat di Kuasa Gelap. Menurutnya, tema eksorsisme adalah sesuatu yang belum pernah diangkat dalam perfilman Indonesia. Ia sempat bertanya-tanya, apakah masyarakat akan menerima cerita seperti ini?
"Awalnya punya ketakutan bagaimana film ini diterima di masyarakat Indonesia, karena ini pertama kali. Tapi ternyata banyak sekali yang DM ke aku gitu bahwa mereka merasa mendapatkan sesuatu," ungkapnya.
Respons penonton yang positif justru menjadi pengalaman spiritual tersendiri bagi Lukman. "Ternyata responnya sangat luar biasa. Ini juga akhirnya membawa proses iman saya semakin kuat lagi," imbuhnya.
Ia juga menyinggung bagaimana sang produser, Robert Ronny, sempat ragu di awal. Tapi pada akhirnya, keyakinan lah yang membuat film Kuasa Gelap bisa terwujud.
"Saya tahu perjalanan, pergolakannya dia (Robert Ronny) tuh sempet ragu. Tapi kalau gak ada dorongan iman itu pasti gak akan jadi film ini," ujarnya.
Bagi Lukman, keterlibatannya di sekuel Kuasa Gelap: Perjanjian Darah bukan cuma kebetulan. Ia justru menganggapnya bagian dari perjalanan yang ia sebut sebagai "berkah."
"Semua itu gak ada kebetulan pasti ada tujuannya, dan akhirnya kita sampai di momen Kuasa Gelap: Perjanjian Darah juga adalah blessing dan mudah-mudahan ini bisa menjadi blessing lagi ke depannya buat orang-orang yang menonton," ucap Lukman penuh harapan.
3. Kiki Narendra temukan makna iman lewat kehilangan

Wajah baru di film ini, Kiki Narendra, membawa perspektif yang tak kalah personal. Dalam Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, ia memerankan Romo Wicaksana, pastor paroki yang akan bertemu kedua pastor eksorsis. Kiki bercerita bahwa ia dibesarkan dalam keluarga dengan latar belakang agama yang beragam, namun tumbuh dalam ajaran Katolik dari sang ibu.
"Kami dibesarkan dari dulu secara Katolik dari mamah, yang mayoritas Katolik," ungkap Kiki.
Seperti Jerome, Kiki juga baru saja mengalami kehilangan besar. Ia menceritakan bahwa ibunya meninggal dunia dua minggu sebelum wawancara berlangsung. Kiki menambahkan kalau ibundanya berdoa setiap hari, pagi dan malam, hal yang menurut Kiki membawanya ke tempatnya berpijak saat ini.
"Saya sampai di titik ini pasti itu gara-gara doa ibu saya," tambahnya. Pengalaman itulah yang membuat Kiki melihat iman dari sudut pandang yang lebih sederhana, tapi dalam.
Lewat perannya di Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Kiki semakin paham bahwa iman bukan sekadar ritual atau label agama, melainkan bagaimana seseorang mengamalkan nilai-nilai kebaikan sehari-hari. Jadi meskipun ibunya sudah tiada, Kiki merasa itulah "warisan" yang diturunkan kepada dirinya.
"Buat saya itu (iman) adalah mengamalkan ajaran-ajaran itu, dan itu yang dari kecil saya selalu ditanamkan oleh orang tua saya," tutupnya.


















