Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Review Film Kung Fu Soccer: Mampukah Saingi Shaolin Soccer?

Review Film Kung Fu Soccer: Mampukah Saingi Shaolin Soccer?
Poster resmi film Kung Fu Soccer (dok. Encore Films/Kung Fu Soccer)
  • Menggunakan formula yang sama seperti Shaolin Soccer, film Kung Fu Soccer masih terbilang menghibur dari sisi komedinya, meski tidak semua lelucon berhasil mengundang tawa.

  • Pendalaman cerita dan karakter dalam film terasa kurang kuat, terutama pada karakter pendukung selain Zhang Xiaofei, Dilraba Dilmurat, dan Lay Zhang.

  • Kung Fu Soccer masih cukup oke sebagai tontonan di bioskop, termasuk bagi penonton yang menyukai komedi absurd dan humor slapstick khas Stephen Chow.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bagi pencinta film yang sudah mengenal nama Stephen Chow, rasanya mungkin sudah gak asing dengan Shaolin Soccer (2001), film komedi absurd yang memadukan olahraga sepak bola dengan seni bela diri kung fu. Setelah 25 tahun berlalu, Stephen Chow kembali membawa formula serupa lewat film terbarunya, Kung Fu Soccer, dengan tim sepak bola wanita sebagai pusat ceritanya.

Mengingat kesuksesan besar Shaolin Soccer, tentu gak sedikit penonton yang menaruh ekspektasi besar dari segi cerita dan komedi untuk film ini. Lantas, apakah Kung Fu Soccer mampu menghadirkan komedi yang lebih segar atau justru masih sekadar berkutat pada formula lama? Lebih lengkapnya, berikut review film Kung Fu Soccer dari IDN Times!

  1. Sinopsis Film Kung Fu Soccer (2026)

    Kung Fu Soccer mengisahkan perjalanan tim sepak bola wanita bernama Emei yang bertarung di kompetisi Supreme and Invincibles Cup sebagai tim yang kurang diunggulkan. Di bawah kapten veteran, Shuangshuang, Emei menggabungkan teknik kung fu dan kemampuan sepak bola untuk mengarungi kompetisi tersebut. Pada pertandingan awal, tim ini tampil meyakinkan setelah mendapatkan bantuan dari Xu Feng, teman masa kecil Shuangshuang.

    Namun, momentum tersebut tak selamanya berjalan mulus karena Xu Feng berbalik melawan Emei setelah terjadi konflik di internal tim. Kemenangan mereka pun terhenti oleh tim Pear Blossom yang mengandalkan trik psikologis dan taktik manipulatif untuk mengalahkan Emei. Kekalahan tersebut memaksa Shuangshuang menghadapi kekurangannya sendiri. Ia kemudian berdamai dengan sahabatnya, Yu Long, setelah keduanya sempat berselisih paham di tengah kompetisi. Mereka pun belajar untuk memercayai anggota tim lain daripada hanya mengandalkan kemampuan sendiri.

    Setelah Shuangshuang meminta maaf dan mengajak Snowy kembali ke tim setelah sebelumnya diusir, tim Emei perlahan bangkit dan menemukan kembali semangat mereka. Kerja sama dan kekompakan tersebut mampu mengantarkan mereka melaju sampai ke pertandingan final. Namun, langkah mereka di laga puncak tidaklah mudah karena harus menghadapi tim Grand River, lawan yang lebih kuat dari mereka.

    Kung Fu Soccer
    2026
    3/5
    Directed by Stephen Chow
    Producer

    Stephen Chow

    Writer

    Stephen Chow, Hunny Ho

    Age Rating

    13+

    Genre

    Drama, Komedi, Aksi

    Duration

    106 Minutes

    Release Date

    12-08-2026

    Theme

    Sepak bola, kung fu, persahabatan

    Production House

    Shanghai Maoyan Film 上海猫眼影业, China Film Group Corporation, Shenzhen Film Studio

    Where to Watch

    Cinema XXI, CGV, Cinepolis

    Cast

    Zhang Xiaofei, Dilraba Dilmurat, Lay Zhang (Lay EXO), Carina Lau, Takeru Satoh

  2. Trailer Film Kung Fu Soccer (2026)

    Cuplikan Film Kung Fu Soccer (2026)

  3. 1. Formula yang sama bikin komedi Kung Fu Soccer mirip Shaolin Soccer

    Salah satu hal yang paling terasa saat nonton Kung Fu Soccer adalah bagaimana Stephen Chow masih mempertahankan formula komedi yang sebelumnya sudah berhasil membuat Shaolin Soccer begitu populer. Perpaduan antara sepak bola, kung fu, aksi absurd, dan humor slapstick tampak menjadi andalan bagi film ini untuk menghibur penonton.

    Meski formulanya terasa mirip dan familier dengan Shaolin Soccer, humor yang tersaji masih efektif untuk mengundang tawa. Bahkan, ada momen yang berhasil membuat saya tertawa sejadi-jadinya bersama penonton lain dalam satu studio. Namun, tidak semua lelucon memberikan efek yang sama bagi saya. Ada pula komedi yang terasa kurang mengena, sehingga tak semuanya berhasil mengundang tawa.

    Berbicara soal CGI, secara teknis sebenarnya efek visual yang dihadirkan sudah mendukung beberapa aksi dalam film ini. Namun, ada satu bagian yang cukup membuat saya heran, yaitu saat seorang kiper terlihat begitu kaku seperti sebuah manekin ketika diangkat keluar lapangan. Entah memang sengaja dibuat seperti itu atau tidak, sebagian orang mungkin akan menganggapnya sebagai bagian dari komedi absurd yang memang menjadi gaya film, sehingga bisa saja tidak banyak yang menyadari kejanggalan tersebut.

  4. 2. Karakter pendukung kurang begitu membekas selain Zhang Xiaofei, Dilraba Dilmurat, dan Lay Zhang

    Selain itu, pendalaman cerita pada Kung Fu Soccer juga terasa kurang. Tidak seperti Shaolin Soccer yang menunjukkan perjuangan Sing dan Fung mengumpulkan beberapa pemain dengan kemampuan kung fu sampai menjadi sebuah tim sepak bola, film ini memiliki alur yang terasa lebih cepat karena Emei sudah terbentuk menjadi satu tim sejak awal. Alhasil, proses para pemain untuk berkembang dan memahami satu sama lain tidak terlalu kuat, terlepas dari konflik yang disajikan dalam ceritanya.

    Saya pun merasakan hal yang sama dengan para karakter pendukung dalam film ini. Pengembangan karakter utama yang diperankan Zhang Xiaofei, Dilraba Dilmurat, dan Lay Zhang (Lay EXO) sudah cukup baik, sehingga penonton bisa memahami hubungan dan dinamika di antara ketiganya. Namun, pendekatan serupa tidak begitu diterapkan pada karakter pendukung lain. Inilah yang pada akhirnya membuat karakter lain kurang begitu membekas di benak penonton.

    Walau begitu, apresiasi tetap layak diberikan kepada para pemain yang sudah terlibat dalam film ini. Zhang Xiaofei, Dilraba Dilmurat, dan Lay Zhang mampu menghidupkan karakter masing-masing, termasuk tingkah mereka yang cukup mencuri perhatian sepanjang film.

  5. 3. Film Kung Fu Soccer masih tergolong oke untuk ditonton di bioskop

    Secara keseluruhan, Kung Fu Soccer masuk dalam kategori film yang masih tergolong oke untuk disaksikan secara langsung di bioskop, terutama bagi para penonton yang ingin menikmati sajian komedi absurd dari Stephen Chow yang membalut sepak bola dan kung fu.

    Saya pun tak memungkiri kalau aksi pertandingan dan tingkah kocak para pemain dalam film tetap memberikan hiburan tersendiri. Namun, soal komedi tentu saja akan kembali pada selera masing-masing penonton. Kalau kamu menyukai humor slapstick dan komedi absurd khas Stephen Chow, film ini mungkin masih bisa memberikan keseruan tersendiri ketika ditonton.

    Jadi, apakah Kung Fu Soccer mampu menyaingi Shaolin Soccer? Menurut saya, film ini masih belum mampu mencapai tahap tersebut. Paling tidak, kamu harus lebih dulu menyingkirkan ekspektasi tinggi sebelum datang ke bioskop untuk menyaksikan Kung Fu Soccer. Tak ada salahnya datang dengan ekspektasi yang lebih ringan, karena hal itu justru akan membuatmu menikmati film ini sebagai sebuah hiburan di tengah penatnya kesibukan sehari-hari.

    Pastinya, film ini juga tetap aman bagi kamu yang belum pernah menyaksikan Shaolin Soccer karena tidak ada keterkaitan dari segi cerita, sehingga kamu tidak perlu menjadikan film tersebut sebagai patokan utama sebelum menonton. Kung Fu Soccer sudah bisa disaksikan di bioskop Indonesia mulai 12 Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More