Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Review Film Suamiku Lukaku, Akting Baim Wong Nampol Bikin Ikutan Emosi

Review Film Suamiku Lukaku, Akting Baim Wong Nampol Bikin Ikutan Emosi
cuplikan film Suamiku Lukaku (Instagram.com/suamiku.lukaku)
Intinya Sih
  • Film Suamiku Lukaku menyoroti kisah Amina yang terjebak dalam kekerasan rumah tangga, menghadirkan pesan kuat tentang keberanian perempuan untuk keluar dari situasi abusif.
  • Akting Baim Wong sebagai Irfan Khalid tampil natural namun intens, sukses memancing emosi penonton dan memperkuat karakter antagonis yang terasa nyata di layar.
  • Meski beberapa adegan terasa terlalu dramatis seperti sinetron, film ini tetap menarik berkat plot twist mengejutkan dan visual indah Belitung yang memanjakan mata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Sama seperti yang sudah ditampilkan dalam trailer, akting Baim Wong dalam film Suamiku Lukaku benar-benar berhasil memancing emosi penonton. Sebelum resmi tayang di bioskop mulai Rabu (27/5/2026), saya sudah lebih dulu menyaksikan film ini dalam rangkaian acara press screening yang digelar di XXI Epicentrum, Kamis (21/5/2026).

Saat itu, di sepanjang penayangan, setiap kali wajah Baim Wong muncul di layar, suasana studio hampir tak pernah sepi reaksi. Ia tampil natural memerankan karakter suami yang kerap melakukan kekerasan terhadap istrinya hingga sukses membuat penonton ikutan geram dan seolah ingin turun tangan karena emosi yang terpancing.

Lantas, dengan performa nampol Baim Wong yang sukses memancing emosi, apakah penonton membuat film ini layak untuk ditonton? Berikut review film Suamiku Lukaku.

Sinopsis Film Suamiku Lukaku (2026)

Film Suamiku Lukaku bercerita tentang Amina, seorang perempuan yang menjalani kehidupan penuh tekanan setelah menikah dengan Irfan Khalid. Di luar rumah, Irfan tampak sebagai sosok yang baik, namun di balik itu, ia justru menyimpan sisi mengerikan yang membuat Amina hidup dalam ketakutan dan kekerasan setiap hari.

Nasib Amina juga terasa semakin menyedihkan karena ia terus bertahan menerima kekerasan dalam rumah tangga, sambil berjuang merawat anaknya, Nadia, yang tengah sakit parah.

Hingga kemudian, harapan pun mulai muncul saat ia bertemu Zahra, seorang pengacara yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Namun, jalan Amina menuju kebebasan ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Suamiku Lukaku
2026
3.8/5
Directed by Ssharad Sharaan, Viva Westi
Producer

Tarantella Pictures Megah (Ssharad Sharaan)

Writer

Tittien Watimena, Beta Ingrid Ayu

Age Rating

D 17+ (Adults)

Genre

Drama

Duration

92 menit Minutes

Release Date

27-05-2026

Theme

KDRT, trauma psikologis, kesehatan mental

Production House

Sinemart, Tarantella Pictures Megah

Where to Watch

XXI, CGV, Cinepolis

Cast

Acha Septriasa, Baim Wong, Raline Shah, Ayu Azhari

Trailer Film Suamiku Lukaku (2026)

Cuplikan Film Suamiku Lukaku (2026)

1. Kekerasannya cukup intens sehingga kemungkinan akan menimbulkan perasaan tidak nyaman, juga punya suara dan pesan yang kuat

Sejak babak awal, film Suamiku Lukaku sudah langsung menyeret penonton masuk ke kehidupan Amina yang penuh tekanan bersama suaminya, Irfan. Adegan kekerasan di film ini ditampilkan cukup intens, baik itu kekerasan fisik, kekerasan emosional, hingga kekerasan seksual.

Berbagai adegan kekerasan tersebut kemungkinan akan menimbulkan perasaan tidak nyaman. Oleh karena itu, saya menyarankan film ini sebaiknya ditonton dengan bijak dan kesiapan emosi yang cukup.

Kendati demikian, meski membawa adegan kekerasan yang cukup intens, film ini juga mengungkap realita tentang banyaknya perempuan yang memilih untuk diam karena terjebak dalam ketakutan, tekanan sosial, hingga keterbatasan pilihan. Melalui perjalanan Amina, film ini menegaskan bahwa keluar dari situasi abusif memang tidak mudah, tetapi tetap menjadi langkah penting untuk bertahan hidup dan memulihkan diri.

Suamiku Lukaku juga membawa pesan tegas bahwa KDRT bukan urusan privat yang bisa dianggap biasa, melainkan persoalan serius yang membutuhkan keberanian dan dukungan orang-orang di sekitar.

2. Akting Baim Wong effortless tapi hasilnya nampol bikin ikutan emosi

Bisa dikatakan, salah satu kekuatan utama film Suamiku Lukaku terletak pada performa Baim Wong sebagai Irfan Khalid. Bagaimana tidak? Aktingnya di film ini terlihat effortless, tapi justru berhasil menghadirkan emosi yang kuat dan sampai ke penonton.

Setiap kali ia muncul dengan sikap manipulatif dan penuh tekanan, suasana studio ikut berubah. Ledakan emosi pun terasa nyata. Para penonton, terutama ibu-ibu yang duduk di sekitar saya sampai bereaksi kesal, menggerutu, bahkan memarahi karakter tersebut seolah apa yang terjadi di layar benar-benar nyata.

Cara Baim Wong menampilkan kemarahan, bahkan hanya lewat tatapan matanya yang dingin, hingga aktingnya dalam berbagai adegan kekerasan, terasa lebih mengerikan dibanding adegan di film horor. Oleh karena itu, gak heran kalau batas antara cerita dan realitas penonton di studio seolah menipis. Meski begitu, reaksi penonton tersebut juga menandakan bahwa ia berhasil membangun karakter antagonis yang kuat, hidup, dan efektif secara emosional.

Di sisi lain, Acha Septriasa sebagai Amina juga memberikan performa yang cukup solid dalam membangun karakter perempuan yang tertekan dan rapuh. Namun, di beberapa momen emosional, terutama saat adegan menangis, entah kenapa saya merasa intensitas yang ditampilkan terasa kurang konsisten. Akibatnya, ada beberapa bagian yang seharusnya bisa menjadi titik paling menguras emosi, tapi justru terasa sedikit tertahan.

3. Beberapa adegan dramanya terasa sinetron banget, visual megah Belitung yang memanjakan mata

Menurut saya, film ini tidak sepenuhnya mulus dalam eksekusi dramanya. Ada beberapa adegan yang terasa dipaksakan, sehingga alurnya terkadang kurang natural. Termasuk juga beberapa adegan yang menampilkan hubungan karakter Mustafa dan Amina. Menurut saya, beberapa part adegan mereka terasa terlalu didramatisir bak cerita sinetron, sehingga terkesan kurang menyatu dengan tone cerita utama. Hal itu pun sempat membuat saya merasa bosan dalam beberapa saat.

Tapi jangan sedih! Kekurangan tersebut bukan masalah yang berarti. Film ini tetap layak ditonton karena juga memiliki sejumlah plot twist tak terduga. Di samping itu, film ini juga memanjakan mata penonton dengan sinematografi megah yang turut menangkap lanskap keindahan Belitung yang jarang disorot.

Share Article
Topics
Editorial Team
Indra Zakaria
EditorIndra Zakaria

Related Articles

See More