Alasan Sutradara Suamiku Lukaku Pilih Baim Wong meski Diterpa Isu NPD-KDRT

- Film Suamiku Lukaku garapan Ssharad Sharan dan Viva Westi mengangkat isu KDRT, dibintangi Baim Wong dan Acha Septriasa, tayang di bioskop mulai 27 Mei 2026.
- Sutradara memilih Baim Wong meski diterpa isu pribadi karena menilai kemampuan aktingnya kuat dan cocok dengan karakter intens yang dibutuhkan dalam film tersebut.
- Tim produksi melakukan riset ke berbagai daerah untuk memahami realita KDRT, menemukan bentuk kekerasan non-fisik serta kesalahpahaman masyarakat tentang batas antara kesabaran dan kekerasan.
Jakarta, IDN Times - Film Suamiku Lukaku tidak hanya membawa kisah yang menyentuh emosi, tetapi juga mengangkat isu berat dan sensitif tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tayang di bioskop mulai 27 Mei 2026, film garapan sutradara Ssharad Sharaan dan Viva Westi ini dibintangi oleh Baim Wong sebagai Irfan Khalid, suami yang melakukan KDRT terhadap istrinya yang diperankan Acha Septriasa.
Pemilihan Baim Wong dalam proyek film ini pun langsung mencuri perhatian. Hal ini lantaran ia sendiri pernah dikaitkan dengan isu KDRT. Lantas, apa alasan sutradara tetap keukeuh dan tak ragu menawarkan peran tersebut kepada Baim Wong?
1. Baim Wong dan Acha Septriasa dipilih karena kemampuan akting dan karakter yang kuat

Saat sesi doorstop interview yang berlangsung yang berlangsung di XXI Epicentrum, Kamis (21/5/2026), IDN Times sempat menanyakan alasan kenapa sutradara memilih Baim Wong dan Acha Septriasa sebagai pemeran utama film Suamiku Lukaku.
Sebagai respons, Sharad Sharan pun menegaskan bahwa sejak awal, nama Baim Wong dan Acha Septriasa sudah menjadi menjadi pilihan utama karena method acting dan karakter mereka yang kuat.
“Acha pilihan pertama karena saya lihat dia bakat dari dulu, dia method acting. Buat film ini kita perlu orang method acting,” ungkap sang sutradara.
Sementara itu, untuk Baim Wong sendiri dinilai memiliki karakter yang kuat dan intens sehingga cocok memerankan tokoh dalam film tersebut.
“Untuk Baim Wong di film ini dia kuat sekali kan? Saya mau orang yang kuat seperti kelihatan. So, kita ketemu Baim Wong dan kita bicara. Sebelum dia mau karena dia juga ada isu-isu, tapi waktu dia baca script dan kita ketemu malam itu dan saya senang sekali dua-duanya artis hebat yang membuat karakter di film ini menjadi hidup,” lanjutnya.
2. Alasan sutradara tetap yakin memilih Baim Wong, meski sempat dikaitkan dengan isu NPD hingga KDRT

Melanjutkan penjelasan Sharad Sharan, Viva Westi mengakui bahwa keputusan casting Baim Wong sempat menimbulkan kekhawatiran dari pihak lain, mengingat saat itu, Baim Wong sendiri sedang diterpa berbagai isu terkait polemik rumah tangganya.
“Jadi, banyak sekali yang bilang ke kami berdua, ‘Apakah nanti kalau pakai Baim, akan membuat filmnya menjadi seperti ini, seperti ini.’ Karena situasinya, Baim kan dibilang NPD lah, Baim dibilang KDRT dan sebagainya. Tapi dengan film ini, Baim membuktikan bahwa dia mampu menerima film ini untuk mengatakan bahwa itu semua tidak betul,” kata Viva Westi.
Sebelumnya, dalam press conference, Baim Wong mengungkap bahwa sebelum menerima tawaran film ini, ia terlebih dahulu mempertanyakan alasan pemilihannya dalam proyek tersebut. Ia kemudian mendapatkan penjelasan langsung dari Westi yang datang ke kantornya untuk memaparkan konsep dan tujuan film.
Dalam pertemuan tersebut, Baim mengaku bahwa ia juga menyampaikan berbagai risiko yang mungkin muncul, mengingat saat itu dirinya sedang menjadi sorotan publik. Kedua belah pihak pun saling berdiskusi dan menjelaskan posisi masing-masing sebelum akhirnya sepakat untuk bekerja sama dalam film tersebut.
“Saat menjelaskannya itu, saya juga menjelaskan resiko saya karena waktu itu juga lagi rame (Maaf). Akhirnya kita saling menjelaskan,” tambah Baim Wong.
3. Ungkap proses riset terkait KDRT hingga ke berbagai daerah di Indonesia

Dalam proses penggarapan film, tim produksi juga melakukan riset ke sejumlah daerah seperti Medan dan Tegal untuk memahami realita KDRT di masyarakat. Dari hasil tersebut, mereka menemukan bahwa KDRT tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang sering dianggap normal dalam rumah tangga.
“Jujur saya baru tahu bahwa begitu membuat film ini bahwa tidak memberi nafkah kepada istri itu juga KDRT,” kata Viva Westi.
Viva juga menyoroti bahwa batasan antara sabar dan KDRT masih sering disalahpahami oleh masyarakat.
“Mungkin banyak juga dari kita yang nonton, yang kita gak tahu bahwa batasan antara KDRT dengan sabar itu seperti apa sih? Karena sabar itu, orang selalu bilang bahwa istri harus sabar. Istri akan dapat pahala, suaminya akan berubah. Tapi semuanya dengan film ini, bisa tergambarkan bahwa sabar itu seperti apa batasan antara sabar dan KDRT,” lanjutnya.
Menurut Westi, kasus KDRT yang diangkat film ini pun masih tergolong ringan jika dibandingkan dengan realita yang ia temui di lapangan. Berdasarkan hasil kunjungannya ke beberapa daerah, ia menemukan, bentuk KDRT yang dialami oleh sebagian masyarakat jauh lebih berat daripada yang tergambar di layar.
“Saya keliling ke Medan, Tegal, dan mereka rata-rata, KDRT yang kita saksikan ini belum seperti yang mereka rasakan. Apalagi terhadap anak-anaknya. Anak-anaknya tuh luar biasa sangat menderita.”
Dalam kesempatannya, Westi juga menegaskan bahwa film ini tidak dibuat untuk mengeksploitasi kekerasan, melainkan untuk menggambarkan kondisi yang memang terjadi dalam kehidupan nyata.


















