Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Review Ghost in the Cell, Film Joko Anwar Paling Berani dan Liar!

Review Ghost in the Cell, Film Joko Anwar Paling Berani dan Liar!
Ghost in the Cell (dok. Come and See Pictures/Ghost in the Cell)
Intinya Sih
  • Ghost in the Cell menampilkan perpaduan horor, komedi, dan satire sosial yang berani, menggambarkan penjara sebagai metafora negara kecil penuh ketakutan dan penyalahgunaan kekuasaan.
  • Abimana Aryasatya memimpin ensemble kuat dengan performa emosional sebagai Anggoro, didukung Bront Palarae dan Aming yang menghadirkan karakter-karakter hidup di tengah sistem korup dan menindas.
  • Film ini menyajikan kritik sosial tajam tentang korupsi dan ketimpangan hukum melalui visual megah serta desain suara imersif, meski kadang terasa terlalu gamblang dalam penyampaian pesannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

"We have to do the work of people, not the work of politicians."

Kalimat dari Wim Wenders di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026 barusan terasa seperti kunci untuk memahami Ghost in the Cell (2026). Tayang di ajang bergengsi tersebut, film terbaru Joko Anwar ini seolah menjadi semacam teriakan kolektif yang dilempar ke layar lebar. Keras, liar, dan kadang terkesan berantakan.

Dikenal lewat Pintu Terlarang (2009), Pengabdi Setan (2017), hingga Impetigore (2019), Jokan kini seolah membuka keran air tanpa saringan. Ia mencampurkan horor, komedi, dan satire sosial dalam satu wadah yang terasa "los dol." Pertanyaannya, apakah semua chaos itu berhasil jadi tontonan yang utuh? Berikut ulasannya!

Sinopsis Ghost in the Cell (2026)

Ghost in the Cell mengikuti kehidupan para narapidana di Lapas Labuan Angsana. Dikisahkan kalau salah satu tahanan, Anggoro (Abimana Aryasatya), tinggal menghitung 7 bulan menuju kebebasan dengan satu syarat: bersikap baik. Sayang, penjara seolah tidak pernah memberi ruang baginya untuk sekadar menunggu dengan tenang.

Kedatangan Dimas (Endy Arfian), mantan jurnalis yang dihukum atas pembunuhan bosnya, memicu rangkaian kejadian aneh. Ketika satu per satu narapidana ditemukan tewas secara brutal, kecurigaan mengarah pada Dimas. Namun, Anggoro dan beberapa tahanan lain percaya ada sesuatu yang lebih gelap. Mereka pun sadar kalau ada entitas yang memburu "aura negatif" para tahanan.

Di dalam penjara yang terasa seperti negara kecil dengan hukumnya sendiri, mereka dipaksa mencari jawaban. Bukan hanya tentang siapa yang membunuh, tapi juga tentang apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi. Bisakah Anggoro dan kawan-kawannya bebas dari ancaman tersebut?

Ghost in the Cell
2026
4.5/5
Directed by Joko Anwar
Producer

Tia Hasibuan

Writer

Joko Anwar

Age Rating

D17

Genre

Horror, comedy, satire

Duration

104 Minutes

Release Date

16 April

Theme

Social criticism movie, social thriller, gore, realism

Production House

Come and See Pictures

Where to Watch

Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia

Cast

Abimana Aryasatya, Lukman Sardi, Morgan Oey, Aming, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Bront Palarae, Ho Yuhang, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Mike Lucock, Yoga Pratama, Kiki Narendra, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Magistus Miftah

Trailer Ghost in the Cell (2026)

Cuplikan film Ghost in the Cell (2026)

1. Horor-komedi yang liar, tapi tetap menggigit secara sosial

Kalau boleh jujur, Ghost in the Cell adalah film Jokan yang paling berani. Gore hadir tanpa basa-basi, humor slapstick muncul di momen yang tidak terduga, bahkan adegan dance tiba-tiba menyelinap di tengah kekacauan. Aneh? Iya. Menghibur? Sangat. Yang menarik adalah, semua kegilaan itu bukan sekadar gimmick. Justru di situlah film ini menemukan esensinya.

Penjara di sini bukan cuma latar cerita, tapi metafora dari sebuah negara mini. Penuh hierarki, intrik, dan sistem yang rapuh. Horor dalam film ini juga bukan hanya soal hantu yang mengincar aura negatif, tapi tentang ketakutan yang kita kenal sehari-hari. Mulai dari penyalahgunaan kekuasaan, hukum yang timpang, hingga manusia yang perlahan kehilangan empati.

Sekali lagi, Ghost in the Cell adalah karya Jokan yang diisi banyak komedi pinggir jurang. "Horror is always political," dan film ini membuktikannya dengan cara paling berisik sekaligus jujur.

2. Ensemble kuat, penuh scene stealer, tapi tetap berporos pada Abimana

Di tengah karakter yang seabrek, film ini terasa hidup berkat performa para aktornya. Anggoro (Abimana) menjadi jangkar emosional yang menjaga film tetap punya arah. Mengingat kecenderungan film ini dalam memadukan horor, humor, dan aksi, Abi berhasil menunjukkan bakatnya di semua bidang ini. Ia dengan mulus beralih dari tonjokan yang dahsyat hingga melakukan tarian canggung di tengah baku hantam.

Abi juga secara meyakinkan menyoroti kesulitan Anggoro sebagai pria yang mencoba berbuat baik dalam sistem yang korup dan bagaimana dia berjuang untuk mempertahankan kompas moralnya. Di sisi lain, Bront Palarae (yang berperan sebagai Kepala Sipir Jefry) menjadi antagonis yang menakutkan dan mengancam. Ia berhasil mewujudkan korupsi dan sadisme yang melekat dalam sistem yang tidak manusiawi.

Namun, film ini juga penuh scene stealer. Tepuk tangan yang meriah untuk Aming, karena sukses menghadirkan freaky energy yang segar di paruh awal, sementara pendatang baru Magistus Miftah mencuri spotlight di pertengahan lewat adegan menari yang flawless.

Chemistry semua karakter pun terasa organik, seolah benar-benar hidup di dalam sistem yang sama-sama menindas mereka. Di situlah kekuatan film ini. Kita jadi peduli pada mereka, meski mereka pernah melakukan hal-hal yang morally questionable di masa lampau.

3. Satire sosial yang tajam, tapi kadang terlalu "menggurui"

Di sinilah Ghost in the Cell bermain api. Film ini menyentuh banyak isu. Mulai dari korupsi, deforestasi, ketimpangan hukum, hingga agama sebagai coping mechanism. Semua dibungkus dalam dialog dan situasi yang kadang terasa seperti membaca artikel alih-alih menonton film.

Salah satu momen menarik adalah ketika Anggoro membahas gagasan psikologi Alfred Adler dengan lawannya, Kepala Sipir Jefry, khususnya soal bagaimana masokisme bisa bersifat struktural, bukan sekadar individual.

"By the way, gua lebih suka Adler ketimbang Freud."

Dalam konteks film ini, penderitaan bukan lagi pilihan personal, tapi hasil dari sistem yang memang "dirancang" untuk membuat orang terus terjebak di dalamnya. Negara, seperti penjara itu sendiri, menciptakan siklus di mana rasa sakit jadi sesuatu yang dinormalisasi.

Namun, di balik ketajamannya, film ini terkadang terlalu gamblang. Alih-alih membiarkan penonton menyimpulkan sendiri (show, don't tell), ia terus menegaskan pesannya lewat dialog. Hasilnya? Kuat, tapi kurang elok.

4. Visual, scoring, dan bahasa "bunyi" yang menghidupkan film

Secara teknis, film ini adalah sebuah perjamuan raksasa. Visualnya sukses membangun penjara sebagai "negara kecil" yang tertutup. Kamera menangkap ruang sempit dengan cara yang membuatnya terasa luas sekaligus menekan. Para tahanan pun bingung, mau kabur ke mana?

Hal menarik lainnya adalah fakta bahwa film ini digarap dengan perhatian besar pada foley sound. Foley adalah teknik perekaman ulang efek suara (langkah kaki, gesekan benda, dentuman) untuk menciptakan realisme audio. Dalam film ini, suara bukan sekadar pelengkap, tapi bagian dari atmosfer. Denting, desahan, hingga suara tubuh yang "bertemu" kekerasan terasa begitu nyata, hampir tactile.

Bukan hal mengejutkan, karena sang sutradara sendiri, Jokan, menyebut kalau foley sound di Ghost in the Cell digarap oleh tim yang juga menggarap film kelas wahid Hollywood seperti 28 Years Later (2025) dan The Zone Interest (2023). Ditambah scoring yang intens, film ini berhasil menciptakan pengalaman audiovisual yang imersif. Indah, menggelegar, sering kali keduanya sekaligus.

5. Apakah Ghost in the Cell recommended untuk ditonton?

Sangat, sangat direkomendasikan. Dengan satu catatan. Ghost in the Cell bukan film yang "rapi." Tonalnya kadang meloncat, satirenya terasa berlebihan, dan beberapa plot hole khas Joko Anwar masih muncul. Terdapat pula momen Deus Ex Machina yang mungkin mengecewakan penonton. Namun di balik semua itu, Ghost in the Cell adalah film yang berani dan penting di era ini.

Ghost in the Cell bukan hanya suara Joko Anwar, tapi suara semua orang yang tertindas. Sebuah refleksi tentang ketakutan kolektif, dibungkus dalam tontonan yang liar, berdarah-darah, dan absurd. Kalau kamu mencari tontonan yang aman, film ini bukan jawabannya. Tapi kalau kamu ingin sesuatu yang bikin tertawa, meringis, diam sejenak lalu berpikir, maka film ini layak ditonton mulai 16 April 2026 ini.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zahrotustianah
EditorZahrotustianah
Follow Us

Latest in Hype

See More