Review Supergirl, Bukan Superman Versi Cewek, tapi Lebih Badass!

- Supergirl (2026) menghadirkan petualangan antargalaksi bergaya space western dengan nuansa lebih gelap dan emosional, menampilkan Kara Zor-El sebagai sosok impulsif yang berbeda dari Superman.
- Milly Alcock memerankan Supergirl dengan kuat dan kompleks, didukung akting memukau Eve Ridley serta Jason Momoa sebagai Lobo yang mencuri perhatian di setiap kemunculannya.
- Film ini mengangkat isu feminisme dan penyembuhan trauma melalui perjalanan Kara dan Ruthye melawan sistem patriarki, menjadikannya kisah superhero yang relevan dan penuh makna.
Era baru DC Universe (DCU) terus menunjukkan taringnya. Setelah sukses membuka semestanya lewat Superman tahun lalu, kini giliran sepupunya, Kara Zor-El, yang debut lewat Supergirl (2026). Disutradarai Craig Gillespie dan diproduseri James Gunn, film ini hadir sebagai petualangan antargalaksi yang jauh lebih liar dibandingkan film Superman yang penuh harapan.
Bintang muda jebolan serial House of the Dragon (2022), Milly Alcock, didapuk untuk mengenakan jubah ikonik tersebut. Tak hanya menawarkan aksi spektakuler khas superhero, film ini juga menyajikan kisah personal tentang trauma, keluarga, dan pencarian jati diri. Dan tentu saja, seperti film-film superhero arahan James Gunn, komedinya banyak!
IDN Times sendiri berkesempatan menontonnya lebih awal di IMAX XXI Gandaria City, Selasa malam (23/6/2026). Penasaran dengan petualangan yang menanti Supergirl dalam debut solonya? Yuk, simak review film ini di bawah!
Sinopsis Supergirl (2026)
Masih ingat dengan kemunculan gadis berkostum merah biru yang mabuk di akhir film Superman (2025)? Sosok tersebut adalah Kara Zor-El alias Supergirl, sepupu Superman yang akhirnya mendapat porsi cerita penuh di film ini.
Untuk merayakan ulang tahunnya ke-23, Kara (Milly Alcock) melakukan perjalanan lintas galaksi bersama anjingnya, Krypto. Ia sengaja mengunjungi planet-planet bermatahari merah agar kekuatan Kryptonian miliknya menghilang sementara, sehingga ia bisa merasakan hidup layaknya manusia biasa.
Namun perjalanan tersebut berubah ketika Kara bertemu Ruthye Marye Knoll (Eve Ridley), seorang gadis muda yang ingin membalas kematian keluarganya di tangan penjahat kejam bernama Krem of the Yellow Hills (Matthias Schoenaerts). Situasi makin rumit setelah Krypto diracuni oleh Krem dan sekarat.
Demi menyelamatkan Krypto sekaligus membantu Ruthye mencari keadilan, Kara memulai petualangan berbahaya melintasi galaksi. Dalam perjalanan itu, ia juga bertemu sosok pemburu bayaran legendaris, Lobo (Jason Momoa), yang ikut menyeret mereka ke dalam konflik yang lebih besar.
| Producer | Peter Safran, James Gunn |
| Writer | Ana Nogueira |
| Age Rating | R13 |
| Genre | Superhero, action, drama |
| Duration | 107 Minutes |
| Release Date | 24 Juni |
| Theme | Space adventure, space western, space sci-fi |
| Production House | Warner Bros. Pictures |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia |
| Cast | Milly Alcock, Matthias Schoenaerts, Eve Ridley, David Krumholtz, Emily Beecham, David Corenswet, Jason Momoa |
Trailer Supergirl (2026)
Cuplikan film Supergirl (2026)
1. Misi balas dendam yang dibalut nuansa space western
Jika harus menggambarkan Supergirl (2026) dalam satu kalimat, film ini terasa seperti perpaduan antara True Grit (2010), Guardians of the Galaxy (2014), dan Mad Max: Fury Road (2015). Craig Gillespie bersama James Gunn sukses menghadirkan petualangan antargalaksi yang kental dengan nuansa space western, genre yang jarang dieksplorasi dalam film superhero modern.
Premis balas dendam menjadi motor utama cerita. Kara yang tengah berusaha melupakan masa lalunya tiba-tiba terseret ke dalam misi pribadi Ruthye untuk memburu Krem. Formula tersebut mungkin terdengar simpel, tetapi eksekusinya berhasil menyajikan petualangan yang seru sekaligus emosional.
Sepanjang film, kita diajak melintasi berbagai planet dengan visual yang unik. Mulai dari bar antargalaksi, kota-kota terpencil di ujung semesta, hingga wilayah tandus yang terasa seperti dunia koboi futuristis. Khas James Gunn, perjalanan ini juga diiringi lagu-lagu pilihan yang digunakan pada momen-momen penting, lengkap dengan adegan slow motion yang jadi ciri khasnya.
Meski dibalut banyak humor, film ini tetap menyimpan sisi gelap. Berbeda dengan Superman yang penuh harapan dan optimisme, Kara digambarkan sebagai sosok yang jauh lebih kasar, impulsif, dan emosional. Ia tidak segan menghabisi musuh ketika keadaan mendesak. Perbedaan karakter yang kontras tersebut membuat film ini terasa segar dan memiliki identitasnya sendiri di dalam DC Universe.
2. Seluruh pemain sukses menghidupkan karakter ikonik DC
Milly Alcock benar-benar membuktikan bahwa dirinya adalah pilihan sempurna untuk memerankan Kara Zor-El. Ia membawakan sosok Supergirl yang kompleks: keras kepala, sarkastik, sering bertindak ceroboh, tetapi di saat yang sama menyimpan luka mendalam. Di satu adegan ia bisa tampil lucu dan nyeleneh, tetapi beberapa menit kemudian mampu membuat penonton ikut merasakan kesedihan Kara.
Tak hanya Milly, Eve Ridley sebagai Ruthye juga tampil memukau. Hubungan antara Kara dan Ruthye menjadi jantung emosional film ini. Dinamika keduanya berkembang secara alami, dari sekadar rekan seperjalanan menjadi hubungan yang menyerupai kakak-adik.
Bisa dibilang kalau Jason Momoa lah yang mencuri perhatian sebagai Lobo. Meski porsinya tidak terlalu besar, karakter barbar asal Czarnia tersebut selalu menjadi scene stealer setiap kali muncul di layar. Pemeran Aquaman di DCEU ini tampak sangat menikmati perannya dan sukses menghadirkan sosok Lobo yang brutal, kasar, tapi karismatik.
Kehadiran David Corenswet sebagai Superman juga selalu berhasil memancing senyum penonton. Walaupun hanya muncul dalam beberapa adegan, Clark Kent tetap menjadi sosok yang mengingatkan Kara tentang arti keluarga. Sementara Matthias Schoenaerts sebagai Krem tampil mengerikan sebagai sosok antagonis yang tak kenal ampun.
3. Mengangkat isu feminisme dan trauma healing yang terasa relevan
Di balik kisah petualangan antargalaksi, Supergirl juga menyisipkan sejumlah isu sosial yang relevan dengan kondisi dunia saat ini. Salah satu yang paling menonjol adalah kritik terhadap patriarki dan objektifikasi perempuan.
Kelompok Brigands yang dipimpin Krem seluruhnya terdiri dari laki-laki. Mereka kerap menculik perempuan untuk dijadikan istri maupun komoditas, memperlihatkan bagaimana perempuan sering kali diperlakukan sebagai objek dan alat pemuas kepentingan pihak tertentu.
Melalui perjalanan Kara dan Ruthye, film ini memperlihatkan upaya dua karakter perempuan untuk melawan sistem tersebut. Keduanya tidak hanya berjuang demi urusan pribadi, tetapi juga demi membebaskan para korban yang tertindas.
Selain isu feminisme, Supergirl juga berbicara banyak tentang trauma healing. Kara masih dihantui oleh kenangan saat menyaksikan Argo City dan kedua orang tuanya sekarat di depan matanya. Tidak seperti Kal-El yang tiba di Bumi saat masih bayi, Kara harus menyaksikan seluruh orang yang dicintainya mati satu per satu sebelum akhirnya dikirim ke Bumi.
Trauma itulah yang membuat Kara tumbuh menjadi pribadi yang sinis dan menjadikan alkohol sebagai pelarian. Namun sepanjang film, ia perlahan belajar menerima masa lalunya dan menyadari bahwa dirinya bukan hanya seorang penyintas, melainkan juga seorang pahlawan yang mampu memberi harapan kepada orang lain.
Dua tema tersebut membuat cerita Supergirl terasa jauh lebih deep dibandingkan kebanyakan film superhero belakangan ini.
4. Pacing kurang konsisten, villain masih terasa kurang menggigit
Meski menawarkan petualangan yang seru, bukan berarti Supergirl tidak punya kekurangan. Salah satu masalah terbesar film ini adalah ritme penceritaannya yang terasa kurang konsisten.
Babak awal berjalan cukup cepat dengan banyak perpindahan lokasi dan pengenalan karakter baru. Namun, memasuki pertengahan film, cerita sempat kehilangan momentum karena terlalu lama berfokus pada perjalanan antarkarakter. Akibatnya, beberapa adegan terasa sedikit bertele-tele dan membuat tempo film menurun. Durasinya juga cukup singkat, tidak sampai dua jam.
Selain itu, Krem sebagai antagonis utama masih terasa kurang berkesan, tidak seperti Lex Luthor di Superman. Karakternya memang kejam dan menjadi pemicu konflik, tetapi ia tidak memiliki kedalaman emosional yang cukup untuk benar-benar meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.
Namun, bagi pembaca komik Supergirl: Woman of Tomorrow (2021), hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan. Dalam versi komiknya, Krem memang penjahat generik yang berguna sebagai penggerak plot saja. Film ini pada dasarnya cukup setia terhadap materi sumbernya.
5. Apakah Supergirl recommended untuk ditonton?
Supergirl mungkin belum sebagus Superman (2025). Pacing yang kurang konsisten dan villain yang kurang berkesan memang menjadi catatan tersendiri. Namun, semua kekurangan tersebut berhasil ditutupi oleh karakter-karakter yang kuat, adegan aksi memukau, visual antargalaksi yang indah, serta kisah tentang pentingnya mengenal diri sendiri dalam penyembuhan trauma.
Film ini sukses menghadirkan sosok Supergirl sebagai karakter yang berbeda dari Superman, sekaligus memperluas dunia DCU dengan cara yang menyenangkan. Bagi penggemar DC Comics, khususnya pembaca komik Supergirl, film ini jelas wajib ditonton. Sementara bagi penonton umum, Supergirl menawarkan petualangan superhero yang segar, penuh hati, dan sangat menghibur.
Jika DCU terus mempertahankan kualitasnya seperti ini, masa depan semesta baru racikan James Gunn tampaknya bakal sangat menjanjikan. Supergirl sudah bisa ditonton di bioskop Indonesia mulai Rabu, 23 Juni 2026.




![[QUIZ] Siapa Member Tim Dream JKT48 yang Temani Kamu Ngemall di Libur Sekolah Ini?](https://image.idntimes.com/post/20260504/snapinsta_99798a19-9a4d-4784-aa96-50afca162606.jpg)













