Namun mari jujur saja. Sebagian besar penonton datang ke bioskop bukan untuk menonton plot penculikan anak, melainkan untuk menyaksikan orang-orang saling menghajar satu sama lain. Dan di sinilah letak keunggulan The Furious.
Film ini menghadirkan koreografi pertarungan yang luar biasa cepat. Bukan cepat karena trik editing dengan puluhan potongan gambar dalam beberapa detik seperti banyak film aksi Hollywood modern. Kecepatan di sini benar-benar berasal dari kemampuan para aktornya.
Joe Taslim tampil mematikan dengan berbagai teknik judo dan submission khasnya. Xie Miao membawa gaya kung fu tradisional yang eksplosif. Karakter lain menggunakan MMA, karate, hingga taekwondo. Sementara itu, Yayan Ruhian kembali membuktikan mengapa pencak silat masih menjadi salah satu seni bela diri paling mematikan di layar lebar.
Setiap karakter memiliki identitas bertarung yang berbeda. Hasilnya adalah tabrakan berbagai disiplin bela diri yang menghasilkan adegan aksi nyaris tanpa jeda. Tak sekali dua kali koreografinya berjalan begitu cepat hingga sulit diikuti mata. Belum selesai mencerna satu bantingan, karakter lain sudah melancarkan kombinasi serangan berikutnya. Kurang lebih, itulah yang terjadi di 30 menit terakhir film.
Brutalitasnya pun tidak main-main. Orang ditusuk, dipukul hingga babak belur, dimutilasi, ditembak, bahkan mengalami nasib yang jauh lebih mengerikan. Bagi penggemar film aksi berdarah-darah, The Furious adalah surga yang luar biasa memuaskan.