Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Review Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery, Serial Seru di Netflix

Wake Up Dead Man A Knives Out Mystery.jpg
Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery (dok. Netflix/Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery)
Intinya sih...
  • Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery (2025) membawa plot whodunnit yang lebih fokus pada "mengapa" bukan "siapa", menggali akar kejahatan yang lebih dalam.
  • Penampilan Daniel Craig-Josh O'Connor menjadi jangkar film, dengan Blanc menjadi pengamat dan penyeimbang, sementara Jud menjadi pusat konflik moral film.
  • Film ini memberikan kritik terhadap intoleransi kelompok Kristen sayap kanan, tanpa langsung menghakimi, serta menyajikan estetika gotik yang memperkaya makna naratifnya.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah Knives Out (2019) sukses menghidupkan kembali genre misteri pembunuhan klasik dengan sentuhan modern, Netflix langsung mengamankan sutradara Rian Johnson lewat kesepakatan fantastis senilai 450 juta dolar AS untuk dua sekuel sekaligus. Glass Onion (2022) hadir dengan nada satire yang lebih terang, memindahkan Benoit Blanc ke pulau tropis penuh miliarder eksentrik.

Kini, bab terakhir dari kesepakatan tersebut resmi tiba lewat Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery (2025). Alih-alih kembali main aman, Johnson membawa Blanc ke wilayah yang lebih gelap dan kontemplatif, sebuah misteri pembunuhan bernuansa gothic ala Edgar Allan Poe, tempat perdebatan iman, kemarahan, dan kemunafikan yang tersembunyi di balik institusi religius. Apa saja kelebihan dan kekurangannya? Simak di bawah ini!

Sinopsis Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery (2025)

Wake Up Dead Man berfokus pada Jud Duplenticy (Josh O'Connor), mantan petinju yang beralih menjadi seorang pendeta di New York setelah terlibat pembunuhan di masa lalunya. Jud kemudian ditugaskan sebagai asisten pastor di sebuah Gereja Katolik, Our Lady of Perpetual Fortitude, yang dipimpin oleh Monsignor Jefferson Wicks (Josh Brolin).

Wicks sendiri dikenal sebagai sosok karismatik sekaligus fundamentalis yang keras. Dalam khotbahnya, ia kerap melontarkan ujaran penuh kebencian terhadap kaum gay, ibu tunggal, dan dunia sekuler, membuat banyak jemaat menjauh, kecuali segelintir orang saja yang setia pada ajarannya: Dr. Nat (Jeremy Renner), Vera (Kerry Washington), Cy (Daryl McCormack), Lee Ross (Andrew Scott), dan Simone (Cailee Spaeny).

Merasa ajarannya jauh dari jalan kasih, Jud pun menentang Wicks. Tak lama dari situ, Wicks ditemukan tewas pada Jumat Agung di dalam lemari penyimpanan dekat mimbar. Tubuhnya ditusuk menggunakan pisau yang diambil dari hiasan kepala iblis. Situasi semakin rumit karena Jud mengenali benda tersebut sebagai barang yang pernah ia curi dari sebuah bar dan tanpa sengaja ia lempar ke dalam gereja.

Kepala polisi Geraldine Scott (Mila Kunis) merekrut Benoit Blanc (Daniel Craig) untuk mengusut kasus ini. Di tengah kecurigaan yang mengarah pada Jud, Blanc justru meminta sang pastor muda untuk membantunya. Dari interogasi para jemaat hingga rahasia masa lalu yang terkuak, kasus ini perlahan berubah menjadi perdebatan moral tentang iman, kemarahan, dan alasan di balik kejahatan tersebut.

Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery
2025
4.5/5
Directed by Rian Johnson
Producer

Ram Bergman, Rian Johnson, Katie McNeill

Writer

Rian Johnson

Age Rating

R13

Genre

Whodunnit, crime, mystery, thriller

Duration

144 Minutes

Release Date

12 December

Theme

Murder Mystery

Production House

Netflix

Where to Watch

Netflix

Cast

Daniel Craig, Josh O'Connor, Glenn Close, Josh Brolin, Mila Kunis, Jeremy Renner, Andrew Scott, Cailee Spaeny

Trailer Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery (2025)

Cuplikan film Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery (2025)

Review Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery

1. Bawa plot whodunnit yang lebih fokus pada "mengapa" bukan "siapa"

Sejak awal, Wake Up Dead Man menegaskan bahwa ia bukan misteri pembunuhan konvensional. Rian Johnson kembali mendekonstruksi ekspektasi penonton terhadap genre whodunnit dengan memindahkan pusat gravitasi cerita dari pertanyaan "siapa pembunuhnya?" menjadi "mengapa pembunuhan ini terjadi?".

Struktur misterinya memang kompleks, bahkan di titik tertentu terasa berbelit dan hampir mustahil dipecahkan secara logis. Namun, seperti dua film Knives Out sebelumnya, kekusutan itu adalah pilihan artistik. Johnson menggunakan kerumitan plot sebagai alat untuk menggali akar kejahatan yang lebih dalam: kemarahan terpendam, manipulasi iman, dan kekuasaan yang dibungkus moralitas.

Misteri ruang tertutup yang menjadi fondasi kasus ini terasa seperti teka-teki klasik ala Edgar Allan Poe atau Arthur Conan Doyle, tetapi dengan sentuhan modern yang lebih sinis dan reflektif. Pada akhirnya, kepuasan film ini tidak terletak pada kecerdikan plot twist semata, melainkan pada pemahaman emosional tentang bagaimana iman yang buta dapat melahirkan kekerasan yang nyata.

2. Penampilan Daniel Craig-Josh O'Connor yang menjadi jangkar film

Daniel Craig kembali tampil solid sebagai Benoit Blanc, detektif eksentrik yang kini terasa semakin matang. Blanc sendiri adalah kolase dari para penyelidik legendaris fiksi, termasuk Sherlock Holmes. Namun dalam Wake Up Dead Man, Blanc justru lebih sering menjadi pengamat dan penyeimbang, bukan pusat cerita. Bahkan di sebagian besar babak awal film, Blanc hampir tidak muncul sama sekali.

Sorotan utama justru jatuh pada Josh O'Connor sebagai Pastor Jud. Ini adalah salah satu penampilan terbaik O'Connor sejauh ini, menyusul performa impresifnya di Challengers (2024). Jud bukan sekadar tersangka atau pendamping detektif, melainkan pusat konflik moral film.

Pertentangan antara Jud, seorang pastor yang berusaha menebus masa lalunya, dan Blanc, seorang skeptis rasional, perlahan berubah menjadi dialog filosofis yang intim. Tepatnya, ketika Blanc mengaku sebagai "kafir" di dalam gereja. Hubungan mereka berkembang dari sekadar kerja sama investigatif menjadi semacam "persahabatan" yang hangat, di mana iman dan rasionalitas saling menguji tanpa saling meniadakan.

3. Kritik terhadap intoleransi kelompok Kristen sayap kanan

Jika Knives Out mengkritik klasisme dan Glass Onion menyindir miliarder teknologi, Wake Up Dead Man adalah film Johnson yang paling berani secara ideologis. Sasaran kritiknya jelas: intoleransi dan eksklusivisme kelompok Kristen sayap kanan. Namun yang menarik adalah, Johnson tidak langsung menghakimi. Ia justru memperlakukan karakter-karakternya dengan empati.

Film ini memperlihatkan bagaimana institusi keagamaan yang seharusnya menjadi ruang kasih dapat berubah menjadi alat penindasan ketika ketakutan dan kemarahan mengambil alih. Monsignor Wicks bukan sekadar antagonis satu dimensi; ia adalah produk dari sistem yang membenarkan kebrutalan atas nama tradisi.

Melalui pendekatan ini, Wake Up Dead Man terasa lebih sebagai refleksi sosial yang relevan saat ini ketimbang satire tajam, sebuah upaya memahami mengapa manusia memutuskan untuk langsung membenci sebelum mencintai.

4. Sajikan estetika gotik yang memperkaya makna naratifnya

Secara visual, Wake Up Dead Man adalah film Knives Out yang paling atmosferik. Sinematografer Steven Yedlin menghadirkan gereja tua di kota kecil New York sebagai karakter tersendiri. Kaca patri, batu-batu, dan hutan yang mengurung kota menciptakan nuansa gotik yang menekan sekaligus indah. Permainan cahaya menjadi elemen kunci, di mana sinar matahari yang sesekali menembus jendela gereja terasa seperti simbol harapan di tengah kegelapan moral.

Kontras visual antara terang dan gelap tidak hanya mempercantik layar, tetapi juga merefleksikan tema utama film: dualisme ilahi versus setan, iman versus ketakutan, penerimaan versus penghakiman. Untuk film yang sebagian besar ditonton di layar kecil, Wake Up Dead Man tampil mengejutkan sebagai karya sinematik yang "terasa seperti film" alih-alih sekadar konten streaming.

5. Apakah Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery wajib ditonton?

Sebagai penutup trilogi, Wake Up Dead Man adalah film Knives Out yang paling ambisius sekaligus paling kontemplatif. Misterinya memang tidak seketat film pertama, dan durasinya yang nyaris 2,5 jam kadang terasa melelahkan. Namun kelemahan tersebut dibayar tunai oleh kedalaman cerita, kekuatan karakter, dan keberanian Johnson untuk menjadikan film misteri pembunuhan sebagai medium refleksi moral.

Wake Up Dead Man adalah film yang membuat kita tertawa, berpikir, dan merasa tidak nyaman dalam kadar yang seimbang. Optimismenya terasa canggung tapi tulus, menawarkan pemahaman alih-alih konflik. Film ini mungkin bukan film detektif paling terbaik sepanjang masa. Namun sebagai karya, ia adalah yang paling kaya dan berani dari trilogi film whodunnit Johnson.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Indra Zakaria
EditorIndra Zakaria
Follow Us

Latest in Hype

See More

5 Lagu Korea yang Penuh Makna Tersirat, Gak Cukup Sekali Dengerin!

05 Feb 2026, 16:31 WIBHype