Artikel ini mengandung spoiler bagi yang belum nonton film The Odyssey.
Menjelang perilisan filmnya The Odyssey, sutradara peraih Oscar, Christopher Nolan, duduk untuk diwawancarai The New York Times. Ia pun menjawab pertanyaan penting, seperti kenapa mengadaptasi puisi epik kuno ini? Yap, karya epik yang dikaitkan dengan penyair Yunani Homer ini telah diterjemahkan oleh beberapa orang. Seperti yang Nolan bilang, itu adalah sebuah tantangan.
"Saya ingin menantang diri saya sendiri dengan tema cerita yang berbeda lewat budaya. Saya melihat mitologi Yunani, Odyssey itu sendiri, kenapa belum menjadi bagian dari sinema modern? Itu sangat menarik sebagai seorang pembuat film. Kemudian saat kalian menggali lebih dalam, apa yang bisa kalian garap? Odyssey, seperti halnya Oppenheimer, adalah cerita hebat, karena memiliki resonansi, masalah-masalah rumit, dan dilema etika. Ini tentang situasi yang mustahil. Itulah yang membuat sebuah cerita menjadi luar biasa."
Yap, bisa dibilang kalau The Odyssey adalah proyek terbesar dalam karier Christopher Nolan hingga saat ini. Tapi pertanyaannya, apakah film ini setia pada bukunya? Hmm, jawabanya memang cukup rumit. Meskipun begitu, Nolan mempertahankan esensi dari kisah legendaris ini. Odysseus yang diperankan Matt Damon memenangkan Perang Troya, tetapi ia kesulitan pulang setelah pertempuran berakhir. Adapun, Nolan melakukan beberapa perubahan dan penyesuaian, beberapa di antaranya berhasil dan beberapa lainnya enggak. Jadi, seberapa akurat The Odyssey karya Nolan, dengan puisinya itu sendiri?
