Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sederet Musisi Suarakan Kritik Sosial di Panggung Localfest 2026 Day 1
potret Localfest Jakarta 2026 hari pertama, Sabtu (27/6/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Jakarta, IDN Times - Festival musik Localfest Jakarta 2026 hari pertama telah sukses diselenggarakan pada Sabtu (27/6/2026) di Stadion Baseball GBK, Senayan. Penampilan energik para musisi lintas genre berhasil menghibur penonton dan meninggalkan kesan serta kenangan mendalam bagi mereka yang hadir.

Namun, ada satu momen yang cukup menarik dalam gelaran ini. Sepanjang acara berlangsung, beberapa musisi terpantau tidak hanya mempersembahkan penampilan terbaik untuk memanjakan penonton, tetapi juga memanfaatkan panggung mereka sebagai ruang untuk menyuarakan kritik sosial.

Dalam hal ini, salah satu yang cukup menonjol adalah Seringai. Grup musik heavy metal tersebut lantang mengkritik pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto melalui lagu baru serta visual panggung mereka.

Lantas, siapa saja musisi yang menyuarakan kritik sosial di panggung Localfest Jakarta 2026 hari pertama?

1. .Feast

potret Localfest Jakarta 2026 hari pertama, Sabtu (27/6/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Penggunaan panggung untuk menyuarakan kritik sosial memang bukan hal baru bagi .Feast. Lagu-lagu mereka bahkan sebagian besar memang berakar dari keresahan sosial di masyarakat.

Dalam hal ini, .Feast menyoroti isu ekonomi yang belakangan menjadi perhatian masyarakat Indonesia dengan menampilkan visual grafik nilai tukar rupiah yang terus melemah, dari kisaran Rp16 ribuan hingga menembus Rp17 ribuan per dolar Amerika Serikat. Sontak, aksi tersebut langsung memicu reaksi riuh dari penonton karena visual grafik tersebut ditampilkan lewat LED besar di panggung.

Di tengah penampilannya, Awan, bassist .Feast bahkan sempat menyapa penonton dengan kalimat yang cukup menyentil.

“Apa kabar? Baik? Yang lagi gak baik-baik negara ini ya,” kata Awan.

Gak sampai di situ, sebelum menutup penampilan mereka, .Feast kembali memancing riuh penonton karena menampilkan tulisan “THE BIGGEST UNKNOWN COUNTRY” di LED panggung.

Terlepas dari aksi tersebut, .Feast tetap tampil enerjik membakar semangat penonton di hari pertama Localfest Jakarta 2026 dengan membawakan sepuluh lagu andalan mereka, termasuk “Ali”, “Arteri”, “Nina”, “o,Tuan”, “Kami Belum Tentu”, hingga “Tarot” sebagai penutup.

2. Seringai

potret Localfest Jakarta 2026 hari pertama, Sabtu (27/6/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Localfest Jakarta 2026 hari pertama tercatat sebagai panggung yang menandai kembalinya Seringai ke festival musik setelah masa hiatus. Menjadi lineup yang menghidupkan panggung None, energi yang dibawa Arian13 cs sudah langsung membakar semangat penonton untuk melakukan moshing di area depan.

Tak hanya membawakan sejumlah lagu populernya, Seringai juga memperkenalkan lagu baru berjudul “Membungkam 98” sebagai bagian dari album IV: Anastasis yang dirilis pada 19 April 2026. Melalui lagu ini, Seringai menunjukkan sikap vokal terhadap isu politik dan kekuasaan.

Lirik lagu tersebut tidak hanya menyinggung peristiwa 1998 serta kekerasan seksual massal yang terjadi pada masa itu, tetapi juga secara tegas menolak pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto lewat lirik “Soeharto Bukan Pahlawan”. Selain dibawakan langsung di atas panggung, potongan lirik lagu tersebut juga ditampilkan secara jelas pada layar LED panggung.

Sambil menyapa penonton, Arian13 kemudian menyuarakan kritiknya terhadap rezim yang dinilainya semakin bobrok.

“Apa yang kalian pikirkan tentang rezim? Rezim selalu buruk biasanya, kan? Ini semakin buruk, semakin buruk, semakin buruk. Kalian semua tidak dianggap, kalian hanya dianggap ‘nyenyenyenye’. Kalian cuma dianggap, ‘Emang gue pikirin,’” kata vokalis Seringai tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Arian13 juga menyoroti peristiwa meninggalnya lima peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) saat mengikuti pelatihan program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP).

“Kopdes sudah ada lima yang meninggal. Untuk menjaga sebuah gerai sudah ada lima yang meninggal karena latihan militer dan sejarah hendak dibungkam,” lanjut Arian13.

Sebelumnya, kelima peserta SPPI dilaporkan meninggalkan dunia saat mengikuti latihan dasar militer yang dijadwalkan berlangsung hingga 16 Juli 2026. Dalam hal ini, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait menyebut bahwa kelima peserta tersebut meninggal karena alasan yang berbeda-beda, mulai dari heat stoke, henti jantung, hingga tuberkolosis (TBC).

3. Alkateri

potret Localfest Jakarta 2026 hari pertama, Sabtu (27/6/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Meski tidak bersuara selantang .Feast maupun Seringai, Alkateri tetap menunjukkan sikap kritis di atas Panggung None sekitar pukul 18.15 WIB. Dalam salah satu momen, sang vokalis, Fauzan menyampaikan sapaan bernada sindiran kepada penonton dengan menyinggung kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja.

“Apa kabar semua? Semoga sehat! Karena yang sakit cuma negara,” kata Fauzan.

Sontak saja, sapaan singkat Fauzan tersebut membuat sebagian penonton terkejut dan beberapa lainnya terpantau bersorak. Meski sempat menjadi riuh karena sentilan itu, suasana panggung Alkateri kembali meriah saat mereka mulai melanjutkan penampilan dengan membawakan lagu “Esok”.

Itu dia sederet musisi yang tidak hanya tampil menghibur, tetapi juga memanfaatkan panggung mereka sebagai ruang untuk menyuarakan kritik sosial. Festival musik Localfest Jakarta 2026 ini pun akan berlanjut ke hari kedua pada Minggu (28/6/2026).

Editorial Team

Related Article