potret Localfest Jakarta 2026 hari pertama, Sabtu (27/6/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Localfest Jakarta 2026 hari pertama tercatat sebagai panggung yang menandai kembalinya Seringai ke festival musik setelah masa hiatus. Menjadi lineup yang menghidupkan panggung None, energi yang dibawa Arian13 cs sudah langsung membakar semangat penonton untuk melakukan moshing di area depan.
Tak hanya membawakan sejumlah lagu populernya, Seringai juga memperkenalkan lagu baru berjudul “Membungkam 98” sebagai bagian dari album IV: Anastasis yang dirilis pada 19 April 2026. Melalui lagu ini, Seringai menunjukkan sikap vokal terhadap isu politik dan kekuasaan.
Lirik lagu tersebut tidak hanya menyinggung peristiwa 1998 serta kekerasan seksual massal yang terjadi pada masa itu, tetapi juga secara tegas menolak pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto lewat lirik “Soeharto Bukan Pahlawan”. Selain dibawakan langsung di atas panggung, potongan lirik lagu tersebut juga ditampilkan secara jelas pada layar LED panggung.
Sambil menyapa penonton, Arian13 kemudian menyuarakan kritiknya terhadap rezim yang dinilainya semakin bobrok.
“Apa yang kalian pikirkan tentang rezim? Rezim selalu buruk biasanya, kan? Ini semakin buruk, semakin buruk, semakin buruk. Kalian semua tidak dianggap, kalian hanya dianggap ‘nyenyenyenye’. Kalian cuma dianggap, ‘Emang gue pikirin,’” kata vokalis Seringai tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Arian13 juga menyoroti peristiwa meninggalnya lima peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) saat mengikuti pelatihan program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP).
“Kopdes sudah ada lima yang meninggal. Untuk menjaga sebuah gerai sudah ada lima yang meninggal karena latihan militer dan sejarah hendak dibungkam,” lanjut Arian13.
Sebelumnya, kelima peserta SPPI dilaporkan meninggalkan dunia saat mengikuti latihan dasar militer yang dijadwalkan berlangsung hingga 16 Juli 2026. Dalam hal ini, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Sirait menyebut bahwa kelima peserta tersebut meninggal karena alasan yang berbeda-beda, mulai dari heat stoke, henti jantung, hingga tuberkolosis (TBC).