Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sejarah dan Asal-usul Coachella, Awalnya Gak Sukses?

Sejarah dan Asal-usul Coachella, Awalnya Gak Sukses?
Coachella (pexels.com/jonathanborba)
Intinya Sih
  • Coachella Music Festival pertama kali digelar tahun 1999 di Empire Polo Club, Coachella Valley, diprakarsai Paul Tollett sebagai wadah musisi dan penikmat seni layaknya Glastonbury di Inggris.
  • Setelah debutnya gagal pada 1999, festival ini kembali sukses sejak 2001 berkat cuaca lebih bersahabat dan lineup bintang besar seperti Björk, Radiohead, hingga BLACKPINK yang menarik minat global.
  • Meskipun jadi ajang bisnis dan simbol gaya hidup populer, Coachella tidak memberi dampak ekonomi signifikan bagi warga lokal Coachella dan Indio yang masih menghadapi tingkat pengangguran serta kemiskinan tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Setiap April, Amerika Serikat punya acara besar bertajuk Coachella Music Festival. Ia sering disandingkan dengan Glastonbury di Inggris yang juga diklaim sebagai salah satu festival musik terbesar di jagad raya. Namun, pernahkah kamu berpikir tentang sejarah dan asal-usul Coachella Music Festival?

Mengapa mereka diselenggarakan tiap April di tempat yang sama? Apa pula signifikansinya dalam budaya pop? Mari cari tahu.

Table of Content

1. Coachella diambil dari nama tempat yang jadi lokasi utama festival

1. Coachella diambil dari nama tempat yang jadi lokasi utama festival

sejarah dan asal-usul Coachella
ilustrasi Coachella (pexels.com/william santos)

Seperti namanya, festival musik Coachella diadakan rutin tiap tahunnya di Coachella Valley. Ia adalah sebuah gurun yang berada di dua kota sekaligus, Indio dan Coachella. Khusus buat festival musiknya, penyelenggara yang diketuai Paul Tollett bekerja sama dengan sebuah venue olahraga bernama Empire Polo Club. Coachella Music Festival pertama kali diadakan pada 1999 sebagai wadah untuk musisi dan penikmat seni layaknya Glastonbury Festival di Inggris Raya yang sudah ada sejak 1970-an.

Pada edisi debutnya, penyelenggara berhasil mengundang nama-nama prominen dalam musik global seperti Beck, Rage Against the Machine, Pavement, dan The Chemical Brother. Salah satu inspirasi Tollett saat menginisiasi Coachella Music Festival adalah konser Pearl Jam tahun 1993. Saat itu, sebagai bentuk protes terhadap distributor tiket konser Ticketmaster, mereka memilih untuk menyelenggarakan konser di tanah lapang, tepatnya di Empire Polo Club yang ketika itu merupakan salah satu venue yang belum bekerja sama dengan Ticketmaster.

2. Debut Coachella gak seberapa sukses, memaksa penyelenggara libur sejenak

Lisa BLACKPINK di Coachella 2025
Lisa BLACKPINK di Coachella 2025 (YouTube.com/Coachella)

Seperti banyak ide bisnis lainnya, Coachella Music Festival tidak langsung sukses. Tiket tidak habis terjual dan cuaca jadi isu lain yang jadi pertimbangan. Tollett dkk. akhirnya memilih untuk tidak menyelenggarakannya pada 2000. Edisi kedua baru terselenggara pada April 2001. Pemilihan bulan April ada alasannya sendiri. Salah satunya adalah fakta bahwa pada bulan itu cuaca di Coachella Valley lebih bersahabat, relatif hangat di siang hari dan tak kelewat dingin pada malam hari.

Benar saja, tingkat penjualan tiket meningkat. Faktor bintang tamu menjadi salah satu magnetnya. Pada 2002, penyelenggara berhasil mengundang Björk, Oasis, Pete Yorn, Foo Fighters, dan The Strokes. Tahun berikutnya, giliran Blur, Beastie Boys, dan Red Hot Chili Peppers yang diundang ke panggung mereka. Tak kalah seru, Radiohead, The Cure, dan Pixies meramaikan lineup 2004.

Sejak itu, panitia Coachella selalu berhasil membaca selera pasar dan membuat nama festival ini makin populer di kalangan pencinta musik, jurnalis, bahkan selebriti. Hampir semua musisi besar yang jadi sensasi global pernah tampil di sana, termasuk Daft Punk, Coldplay, Arctic Monkeys, The Killers, Gorillaz, Muse, dan lain sebagainya.

Dari daftar penampil tahun ke tahunnya, kita bahkan bisa membaca pergeseran selera musik global. Dulu didominasi band rock alternatif, lambat laun, Coachella pun diisi musisi hip-hop macam Jay-Z, Kanye West, Drake. Kemudian, bergeser lagi ke genre pop seperti Justin Bieber, Lady Gaga, Billie Eilish, Ariana Grande, BLACKPINK, dan Sabrina Carpenter.

3. Sayangnya, festival ini tidak berdampak langsung pada warlok

No Doubt di Coachella 2024
No Doubt di Coachella 2024 (YouTube.com/Angel Chavez)

Pada era media sosial, Coachella menjelma jadi ajang bisnis yang makin subur. Jenama, selebriti dan pemengaruh menggunakannya untuk media promosi. Tak hanya menikmati musik, orang pun mulai menggunakan Coachella Music Festival untuk menunjukkan eksistensi diri, bahkan status sosial, terutama lewat fesyen dan impresi bahwa mereka tahu musik terbaik di dunia saat ini.

Sayangnya, Coachella ternyata tidak berdampak langsung pada warga lokal kota Coachella dan Indio. Sebagai konteks, Coachella dulunya adalah pusat pertanian di Amerika Serikat. Pendatang dan warga pribumi memanfaatkan lahan subur itu untuk bercocok tanam. Saat industrinya membesar, AS membuka pintu bagi pekerja migran asal negara Amerika Latin dan melahirkan komunitas Hispanik di wilayah tersebut. Mirisnya, sampai sekarang Coachella masih jadi kota yang kondisi ekonominya tidak ideal di AS.

Tingkat pengangguran di Coachella pada 2025 mencapai 9,3 persen dan 5,7 persen di Indio menurut Data Commons. Padahal, tingkat pengangguran nasional hanya 4—4,5 persen sepanjang Maret 2024 sampai Maret 2026 menurut data resmi pemerintah AS. Menurut data USA, tingkat kemiskinan di Coachella dan Indio, California, mencapai 10,2 dan 11,5 persen pada 2024 dan didominasi oleh komunitas Hispanik. Beberapa pengamat percaya alasannya struktural. Mulai dari keterbatasan bahasa sampai akses pendidikan, kesehatan, dan transportasi publik yang tidak merata.

Kondisi ini kontras dengan Coachella Music Festival yang begitu lekat dengan konsumerisme dan bisnis lukratif. Terbukti dari inflasi harga tiketnya yang menggila. Dari yang hanya 50—100 dolar AS (Rp850 ribu sampai Rp1,7 juta) pada 1999, kini tiket Coachella dibanderol paling murah 546—646 dolar AS (Rp9—11 jutaan). Ini belum termasuk pengeluaran lain, seperti makanan, parkir, dan minuman yang juga dikeluhkan pengunjung terlalu mahal.

Sejarah dan asal-usul Coachella ternyata cukup panjang. Bagaimana denganmu? Tertarik nonton Coachella Music Festival langsung di Amerika Serikat?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
Retno Rahayu
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Hype

See More