Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Siapa yang Paling Jahat Antara Suguru Geto, Kenjaku, dan Sukuna?

Suguru Geto, Kenjaku, dan Sukuna
Suguru Geto, Kenjaku, dan Sukuna (dok. MAPPA/Jujutsu Kaisen)
Intinya sih...
  • Geto ingin melakukan genosida pada manusia
  • Kenjaku bereksperimen dengan manusia karena bosan
  • Sukuna hanya menginginkan kebebasan mutlak
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Suguru Geto, Kenjaku, dan Sukuna merupakan tiga penjahat terbesar dalam seri Jujutsu Kaisen. Ketiganya bertanggung jawab atas banyak kejahatan dalam dunia Jujutsu, terutama pembunuhan. Mereka juga sangat berbahaya, karena kekuatan mereka berada di atas rata-rata kekuatan Penyihir Jujutsu.

Jika berbicara tentang kejahatan, jelas mereka bertiga adalah penjahat yang mengerikan. Namun, berdasarkan motif, tujuan, dan kejahatan yang pernah mereka lakukan, siapa yang paling jahat antara Geto, Kenjaku, dan Sukuna? Daripada penasaran, yuk, simak pembahasan berikut!

1. Geto ingin melakukan genosida pada manusia

Suguru Geto (dok. MAPPA/Jujutsu Kaisen)
Suguru Geto (dok. MAPPA/Jujutsu Kaisen)

Sebelumnya, Suguru Geto adalah teman sekelas sekaligus sahabat terdekat Satoru Gojo. Ketika mereka masih menjadi murid SMA Jujutsu Tokyo, Geto dan Gojo adalah duo yang tidak terkalahkan. Namun, semuanya berubah setelah Geto dan Gojo gagal melindungi calon wadah Master Tengen, Riko Amanai.

Kematian Amanai mulai membuat Geto memiliki ideologi ekstrem tentang dunia Jujutsu. Geto mulai bertujuan untuk menciptakan dunia yang hanya dihuni oleh Penyihir Jujutsu. Untuk mencapai tujuannya, Geto ingin melakukan genosida besar-besaran pada umat manusia yang bukan Penyihir Jujutsu.

Tujuan Geto sendiri sebenarnya tidak didasarkan pada supremasi Penyihir Jujutsu. Namun, Roh Kutukan sendiri lahir dari emosi negatif manusia. Dengan memusnahkan manusia dan hanya menyisakan Penyihir Jujutsu, maka tidak akan ada lagi Roh Kutukan.

Setelah gagal melindungi Amanai dan melihat Gojo dibunuh oleh Toji Fushiguro, Geto mulai meragukan tugasnya sebagai Penyihir Jujutsu. Geto tidak mengerti kenapa Penyihir Jujutsu harus mempertaruhkan nyawanya demi melindungi orang yang bahkan tidak bisa melihat Roh Kutukan. Itu alasannya, Geto ingin menghentikan siklus tersebut dengan membantai orang-orang yang bukan Penyihir Jujutsu.

Parade Malam 100 Iblis adalah salah satu upaya Geto untuk mencapai tujuannya. Dalam insiden ini, Geto melakukan serangan teroris dengan melepaskan ribuan Roh Terkutuk di Kyoto dan Shinjuku. Selain bertujuan sebagai pembantaian terhadap non-penyihir, serangan ini juga dilakukan untuk membunuh Yuta Okkotsu.

2. Kenjaku bereksperimen dengan manusia karena bosan

Kenjaku (dok. MAPPA/Jujutsu Kaisen)
Kenjaku (dok. MAPPA/Jujutsu Kaisen)

Kenjaku mungkin bisa dibilang sebagai mad scientist versi Penyihir Jujutsu. Tidak seperti Geto, Kenjaku sama sekali tidak memiliki kebencian terhadap umat manusia. Kenjaku bukan seorang ideologis dan dirinya tidak ingin mengubah dunia.

Sejatinya, Kenjaku hanyalah seorang genius yang bosan. Kenjaku melakukan kejahatannya hanya karena dirinya memiliki rasa penasaran yang tinggi. Selama seribu tahun lebih, Kenjaku telah melakukan banyak eksperimen keji hanya untuk menjawab rasa penasarannya.

Kenjaku tidak ingin menguasai dunia, tetapi dirinya hanya ingin melakukan evolusi pada umat manusia. Kenjaku penasaran dengan apa jadinya jika umat manusia menyatu dengan Master Tengen. Eksperimen ini dilakukan oleh Kenjaku semata hanya karena dirinya ingin tahu makhluk apa yang akan dihasilkan jika manusia menyatu dengan Master Tengen.

Culling Game merupakan salah satu langkah Kenjaku untuk mencapai tujuannya. Dalam permainan ini, Kenjaku memaksa para Penyihir Jujutsu untuk membunuh satu sama lain. Culling Game diciptakan dengan tujuan untuk mengumpulkan Energi Kutukan yang akan digunakan dalam eksperimen Kenjaku.

Tentunya, hal ini tidak bisa dibiarkan. Jika Kenjaku berhasil mencapai tujuannya, maka Kenjaku tidak hanya akan membunuh banyak orang tidak bersalah. Namun, Kenjaku juga akan menciptakan dunia yang penuh kekacauan, karena tidak ada lagi batasan antara manusia dengan kutukan.

3. Sukuna hanya menginginkan kebebasan

Sukuna
Sukuna (dok. MAPPA/Jujutsu Kaisen)

Dikenal sebagai Raja Kutukan, Sukuna adalah Penyihir Jujutsu yang sudah hidup sejak Zaman Emas Jujutsu, tepatnya pada era Heian. Baik dulu maupun sekarang, Sukuna tetap merupakan ancaman terbesar bagi dunia Jujutsu. Kekutan Sukuna terlalu mengerikan, sehingga dirinya hanya bisa disegel ke dalam 20 jari.

Terlepas dari kekuatannya yang besar, Sukuna justru mungkin tidak memiliki tujuan. Sukuna tidak ingin menciptakan dunia ideal seperti Geto. Sukuna juga sama sekali tidak tertarik pada eksperimen manusia seperti Kenjaku.

Satu-satunya hal yang diinginkan Sukuna hanyalah kebebasan mutlak. Sukuna tidak ingin diatur oleh apa pun dan dirinya ingin melakukan apa saja dengan bebas tanpa harus menerima konsekuensi. Sederhananya, Sukuna hanya ingin menjadi orang paling bebas di dunia.

Jika Sukuna ingin bersantai, maka dirinya akan bersantai dengan bebas. Begitu juga jika Sukuna ingin membunuh, maka dirinya akan membunuh semaunya. Pada dasarnya, Sukuna hanya ingin melakukan apa yang ingin ia lakukan.

Meski terdengar sederhana, tetapi ini yang justru membuat Sukuna mengerikan. Sukuna ingin bebas membunuh siapa saja yang ia mau. Selama dirinya hidup, tidak terhitung berapa banyak nyawa melayang hanya karena Sukuna sedang ingin membunuh.

Perlu diakui, sulit untuk menentukan siapa yang paling jahat di antara Geto, Kenjaku, dan Sukuna. Pasalnya, mereka sama berbahayanya, tetapi dengan alasan yang berbeda. Geto ingin mengubah dunia dengan cara yang ekstrem, Kenjaku bereksperimen dengan manusia karena bosan, sementara Sukuna membunuh hanya karena dirinya ingin membunuh.

Meski begitu, penulis akan mengatakan bahwa Sukuna tetap penjahat paling kejam. Pasalnya, Geto adalah penjahat ideologis dan Kenjaku adalah penjahat murni. Sementara itu, Sukuna adalah kejahatan itu sendiri. Tidak seperti Geto dan Kenjaku, Sukuna tidak membutuhkan alasan untuk membunuh seseorang. Sulit membayangkan betapa kacaunya dunia jika semua orang bisa bebas melakukan apa saja yang mereka mau seperti Sukuna. Jadi, bagaimana menurutmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Triadanti N
EditorTriadanti N
Follow Us

Latest in Hype

See More

7 Potret no na Jadi Petugas TransJakarta, Fans: Info Koridor Berapa?

30 Jan 2026, 15:06 WIBHype