Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Lagu Rock Era 60-an yang Seharusnya Tak Menang Grammy

Petula Clark
Petula Clark (facebook.com/Petula Clark)
Intinya sih...
  • 'Winchester Cathedral' — The New Vaudeville Band- Lagu rock yang terasa seperti sketsa komedi- Menang atas lagu-lagu monumental seperti 'Eleanor Rigby' milik The Beatles
  • 'Games People Play' — Joe South- Terdengar terlalu biasa di tengah era rock yang sedang meledak-ledak- Mengalahkan karya-karya berani dan inovatif seperti 'Spinning Wheel' dari Blood, Sweat & Tears
  • 'Downtown' — Petula Clark- Lagu pop manis yang mengalahkan lagu-lagu rock berpengaruh pada 1965- Dianggap sebagai salah satu keputusan Grammy paling membingungkan oleh banyak orang
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Era 1960-an sering dianggap sebagai masa keemasan musik rock. Di dekade inilah banyak musisi legendaris lahir, bereksperimen dengan suara baru, dan menciptakan lagu-lagu yang masih dibicarakan sampai sekarang. Rock bukan lagi sekadar hiburan, tapi juga pernyataan budaya dan generasi.

Namun, selera Grammy di era itu sering kali terasa agak ketinggalan zaman. Banyak lagu rock yang benar-benar revolusioner, justru kalah dari karya yang lebih ringan dan ramah telinga generasi lama. Berikut beberapa lagu pemenang Grammy dari era 60-an yang sampai sekarang masih dianggap kontroversial, bahkan terasa tidak pantas menang.

1. 'Winchester Cathedral' — The New Vaudeville Band

Secara teknis, 'Winchester Cathedral' memang punya hook gitar dan beat drum yang lumayan enak didengar. Namun semua itu terkubur di balik konsep lagu yang terasa seperti parodi murahan, lengkap dengan siulan aneh dan vokal yang dibuat-buat. Lagu ini terdengar lebih seperti sketsa komedi ketimbang karya rock yang serius dan berpengaruh.

Kemenangannya makin sulit diterima karena lagu rock ini mengalahkan karya-karya monumental. Di Grammy Awards ke-9, 'Winchester Cathedral' menang atas lagu seperti 'Eleanor Rigby' milik The Beatles dan 'Good Vibrations' dari The Beach Boys. Sulit untuk tidak melihat keputusan ini sebagai contoh Grammy yang memilih keunikan sesaat dibanding dampak jangka panjang.

2. 'Games People Play' — Joe South

'Games People Play' hadir dengan nuansa lembut, penuh string klasik, dan sentuhan sitar yang terasa aman. Lagu ini memang rapi dan mudah diterima, tapi nyaris tidak mencerminkan semangat rock yang sedang meledak-ledak di akhir 60-an. Di tengah era Led Zeppelin, The Who, dan The Beatles, lagu ini terdengar terlalu biasa.

Kemenangannya di Grammy ke-12 terasa seperti kompromi untuk menyenangkan pendengar yang lebih tua. Lagu ini mengalahkan karya-karya yang jauh lebih berani dan inovatif, termasuk 'Spinning Wheel' dari Blood, Sweat & Tears. Ironisnya, meski sempat menang besar, 'Games People Play' kini nyaris terlupakan dalam sejarah rock.

3. 'Downtown' — Petula Clark

'Downtown' adalah lagu pop yang manis, ceria, dan mudah dinikmati oleh siapa saja. Lagu ini menggambarkan kota besar sebagai tempat penuh harapan dan cahaya, dengan nada yang polos dan hampir kekanak-kanakan. Masalahnya, lagu ini nyaris tidak memiliki unsur rock yang kuat. Meski begitu, lagu ini memenangkan Grammy sebagai Best Rock & Roll Recording pada 1965.

Kemenangan tersebut terasa janggal karena 'Downtown' mengalahkan lagu-lagu rock yang jauh lebih berpengaruh, seperti 'A Hard Day’s Night' dari The Beatles dan 'Oh, Pretty Woman' milik Roy Orbison. Sampai sekarang, banyak yang menganggap kemenangan ini sebagai salah satu keputusan Grammy paling membingungkan.

4. 'Let’s Twist Again' — Chubby Checker

Chubby Checker memang identik dengan 'The Twist', lagu yang memicu fenomena tari nasional di Amerika. Namun 'Let’s Twist Again' terasa seperti pengulangan yang terlalu terang-terangan, bahkan dari intro dan lirik pembukanya saja sudah terasa familiar. Lagu ini lebih mirip strategi mempertahankan popularitas daripada ekspresi kreatif baru.

Ketika lagu ini memenangkan Grammy pada 1962, banyak yang mengernyitkan dahi. Lagu tersebut mengalahkan karya-karya yang secara musikal jauh lebih segar dan berani. Hingga kini, 'Let’s Twist Again' sering dianggap contoh awal bagaimana Grammy bisa tertipu nostalgia dan popularitas sesaat.

5. 'Up, Up and Away' — The 5th Dimension

'Up, Up and Away' adalah lagu yang fun dan terasa sangat optimistis. Harmoni vokalnya indah, aransemennya rapi, tapi nuansanya lebih dekat ke pop sunshine daripada rock. Lagu ini menang Grammy besar pada 1968, termasuk Record of the Year.

Masalahnya, kemenangan ini terjadi di era ketika rock sedang berevolusi menjadi lebih eksperimental dan berani. Lagu-lagu dengan pesan sosial dan inovasi musikal justru tersisih oleh karya yang aman dan ringan. “Up, Up and Away” memang menyenangkan, tapi sulit disebut sebagai representasi terbaik musik rock akhir 60-an.

Grammy Awards di era 60-an jelas punya peran besar dalam sejarah musik, tapi bukan berarti semua keputusannya bebas dari kritik. Beberapa lagu yang menang justru kalah pengaruh dibanding karya-karya yang mereka kalahkan di malam penghargaan. Menurut kamu, apakah lagu-lagu di atas layak untuk menang di penghargaan Grammy?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Hype

See More

5 Daya Tarik Utama Film Orisinal Netflix People We Meet On Vacation

30 Jan 2026, 18:38 WIBHype