Apakah Menang Best New Artist Grammy Menjamin Karier Musisi?

- Best New Artist adalah kategori tertua di Grammy Awards
- Kelanggengan karier pemenang Best New Artist cukup acak
- Kutukan Best New Artist dan kunci langgeng musisi
Berstatus nomine Grammy di kategori Best New Artist, jelas sebuah kabar gembira buat musisi pendatang baru. Gengsi dan validasi mereka dapat seketika. Namun, apakah memenangkannya bakal mengubah trajektori karier mereka?
Apalagi sekarang kita berada di era streaming dan media sosial yang polanya susah ditebak. Label pun gak bisa menjamin kelanggengan karier musisi pada era digital ini. Lantas, apakah penghargaan Best New Artist Grammy masih relevan dan menjamin karier seorang musisi?
1. Best New Artist adalah salah satu kategori tertua dalam Grammy Awards

Kategori Best New Artist sudah ada di Grammy sejak penyelenggaran kedua mereka, yakni tahun 1959. Bobby Darin adalah pemenang pertamanya kala itu. Selain tertua, Best New Artist juga kategori yang paling dinanti-nanti penggemar dan pengamat musik. Ini sesuai dengan sifat alamiah manusia yang cenderung mendambakan sesuatu yang baru dan segar, termasuk dalam ranah hiburan. Apapun yang baru dan inovatif selalu mendulang perhatian, begitu pula dengan para musisi. Gak heran kalau pendatang baru pun bakal merasa tersanjung bisa dapat nominasi di kategori ini. Belum lagi antusiasme penggemar yang juga menjagokan musisi baru favorit mereka.
Untuk sah jadi nomine Best New Artist, Grammy menetapkan beberapa aturan yang cukup spesifik. Pendatang baru menurut kriteria mereka adalah yang sudah merilis 5 lagu atau 1 album studio dan belum pernah atau maksimal 3 kali mencoba melakukan submisi ke penyelenggara. Jika selama 3 kali percobaan mereka ditolak, mereka tak lagi bisa mendaftar. Musisi yang sudah pernah dapat nominasi Grammy sebagai solois atau bagian dari grup juga tidak bisa mendaftar nominasi Best New Artist, kecuali saat mereka dinominasikan belum merilis 5 lagu atau 1 album. Solois maupun duo/grup bisa dapat nominasi ini.
2. Dalam sejarahnya, kelanggengan karier pemenang Best New Artist cukup acak

Mengingat sudah ada sejak tahun 1959, sebenarnya menengok riwayat karier pemenang Best New Artist cukup mudah. Namun, untuk mempermudah, mari kita sarikan dari daftar pemenang dari 25 tahun terakhir (sejak edisi 2000). Kebanyakan dari mereka memang masih aktif di industri musik, sebut saja Alicia Keys, John Legend, Adele, Zac Brown Band, Bon Iver, Macklemore & Ryan Lewis, Sam Smith, Meghan Trainor, Alessia Cara, Dua Lipa, Megan Thee Stallion, Olivia Rodrigo, Billie Eilish, dan lain sebagainya. Namun, kalau kamu perhatikan gak semuanya pula bisa menembus ranah mainstream. Misal Samara Joy, Victoria Monet dan Esperanza Spalding yang sampai sekarang masih tergolong musisi niche karena genre yang mereka usung.
Kalau mengutip opini komposer pemenang Emmy Awards, Michael Whalen, dalam blognya, ketika meraih piala Grammy di kategori Best New Artist, seorang musisi memang bakal dapat banyak benefit. Terutama dari orang-orang dalam industri musik, mulai dari petinggi label, agen, investor, sampai kolaborator. Namun, ini tidak selalu berbanding lurus dengan penerimaan publik. Sikap konsumen, apalagi di era streaming dan media sosial ini benar-benar susah ditebak. Menurutnya, penghargaan Grammy lebih ke publisitas dan validasi dari sesama pegiat musik, tetapi tidak bisa jadi patokan untuk menentukan kelanggengan karier musisi.
3. Kutukan Best New Artist dan kunci langgeng musisi

Dalam sejarahnya, kategori Best New Artist juga identik dengan “kutukan”. Ini merujuk pada beberapa kasus seperti Alessia Cara, Toni Braxton, Shelby Lynne, sampai band .fun. Mereka dianggap dapat kutukan karena setelah meraih Grammy pada kategori pendatang baru justru kariernya meredup. Alasannya beragam, tetapi kalau mau dirangkum kebanyakan berakar dari keputusan personal mereka.
Alessia Cara misalnya diklaim cukup idealis dan memang menolak untuk mengikuti kemauan pasar atau industri. Toni Braxton setelah memenangkan Grammy mengalami beberapa masalah legal dengan manajemen dan labelnya. Amy Winehouse dan Shelby Lynne berjuang dengan isu kesehatan mental mereka. Sementara, band .fun memilih vakum setelah mencapai puncak karier mereka pada 2013 dan para personelnya memilih fokus pada karier individu.
Kasus lainnya memang tidak ekstrem, tetapi karier beberapa musisi pemenang Best New Artist macam Meghan Trainor dan Sam Smith dianggap tak mengalami perkembangan positif karena keputusan artistik mereka yang kurang disukai publik. Meghan Trainor dianggap tak mengalami evolusi seni berarti karena lagu-lagunya (setelah Grammy) terdengar senada dengan album pertamanya. Sebaliknya, saat Sam Smith melakukan evolusi ekstrem (dengan mengusung genre pop eksperimental), ia kehilangan sebagian penggemar yang terhipnotis oleh lagu-lagu ballad-nya.
Ruth Blatt dari majalah Forbes merujuk pada argumen peneliti dari Boston College, Spencer Harrison, yang berargumen kalau kelanggengan seorang musisi pendatang baru, termasuk para pemenang Best New Artist Grammy terletak pada kemampuan mereka mengelola ekspektasi penggemar tanpa melupakan pentingnya evolusi artistik. Blatt mengambil contoh U2 dan Metallica untuk kasus itu. Contoh teranyarnya mungkin Billie Eilish dan Adele.
Semua ajang penghargaan bergengsi jelas menguntungkan nomine dan pemenang, terutama dari sisi publisitas dan pembukaan peluang. Namun, menggunakannya untuk memprediksi masa depan karier musisi rasanya kurang bijak. Pada akhirnya, banyak faktor tak terduga yang bisa mengubah perjalanan karier musisi.


















