Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

10 Sutradara dengan Masa Hiatus Terlama, Lebih dari 30 Tahun!

10 Sutradara dengan Masa Hiatus Terlama, Lebih dari 30 Tahun!
Avatar: Fire and Ash (dok. 20th Century Studios/Avatar: Fire and Ash)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti sepuluh sutradara dunia yang mengambil jeda panjang, bahkan hingga puluhan tahun, sebelum kembali berkarya di industri film.
  • Beberapa nama besar seperti Víctor Erice, Roy Andersson, dan Terrence Malick dikenal karena proses kreatif yang lama serta perfeksionisme tinggi dalam setiap proyeknya.
  • Meski hiatus panjang, para sutradara seperti James Cameron dan Jonathan Glazer berhasil comeback dengan karya monumental yang memperkuat reputasi mereka di perfilman internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Proses pembuatannya yang rumit dan beresiko tentunya menyita perhatian penuh dari sang sutradara. Itulah sebabnya mengapa sebagian besar sutradara merilis karya mereka setiap beberapa tahun sekali.

Tidak sedikit juga sutradara yang memilih untuk mengambil jeda panjang dari satu proyek film ke proyek film berikutnya. Seperti 10 sutradara berikut ini yang mengambil masa hiatus hingga puluhan tahun lamanya.


1. Víctor Erice

Close Your Eyes (2023)
Close Your Eyes (dok. Tandem Films/Close Your Eyes)

Untuk seorang auteur idealis, bukan masalah besar bagi Víctor Erice jika proses produksi filmnya memakan waktu yang tidak sedikit. Jadi tidak heran jika selama 51 tahun berkarir di industri film, Erice hanya memiliki empat film panjang dalam filmografinya. 

Butuh waktu 31 tahun bagi Víctor Erice untuk merilis Close Your Eyes sejak perilisan film ketiganya, Dream of Light, di tahun 1993 silam. Dalam rentang waktu tersebut, Erice disibukkan dengan sejumlah proyek film pendek, menjadi juri di Cannes Film Festival, dan sempat terlibat dalam pengembangan The Shanghai Spell (2002) sebelum didepak karena perselisihan anggaran. 


2. Roy Andersson

Songs from the Second Floor (2000)
Songs from the Second Floor (dok. SVT Drama/Songs from the Second Floor)

54 tahun berkarir sebagai sutradara, Roy Andersson hanya merilis enam film dengan tema eksistensial sarat humor absurd. Hal tersebut dikarenakan sineas asal Swedia ini sempat vakum selama 25 tahun usai Giliap (1975) mendapatkan respon buruk dari kritikus dan gagal di pasaran. 

Selama vakum, Andersson mendirikan studio 24 dan fokus menggarap iklan. Pada tahun 2000, ia kembali ke bangku sutradara lewat Songs from the Second Floor. Film tersebut sukses besar dan mengembalikan rasa percaya dirinya sebagai sineas. 


3. Alejandro Jodorowsky

The Dance of Reality (2013)
The Dance of Reality (dok. Le Seloil Films/The Dance of Reality)

Pegiat sinema surealisme, Alejandro Jodorowsky, konsisten memproduksi film-film yang membuat penontonnya kebingungan. Namun setelah merilis The Rainbow Thief pada tahun 1990, Jodorowsky memutuskan untuk hiatus. 

23 tahun hiatus, Jodorowsky menekuni bidang lain mulai dari komik hingga tarot. Lalu pada tahun 2013, sineas asal Perancis ini kembali ke industri film dengan The Dance of Reality.


4. Terrence Malick

The Thin Red Line (dok. 20th Century Studios/The Thin Red Line)
The Thin Red Line (dok. 20th Century Studios/The Thin Red Line)

Setengah abad berkecimpung di industri film, siapa sangka jika Terrence Malick baru memiliki sembilan judul film dalam filmografinya. Veteran New Hollywood satu ini memang dikenal sangat santai di setiap pengerjaan proyek filmnya. 

Usai merilis Days of Heaven pada tahun 1978, Terrence Malick menghilang dari publik. 20 tahun kemudian, sang sutradara kembali dengan The Thin Red Line (1998) dan kembali menghilang selama beberapa tahun. 


5. Adrian Lyne

Ana De Armas dan Ben Affleck dalam film Deep Water (variety.com)
Ana De Armas dan Ben Affleck dalam film Deep Water (variety.com)

Adrian Lyne merupakan sosok jenius dibalik erotic thriller legendaris seperti Fatal Attraction (1987) hingga Indecent Proposal (1993). Namun usai merilis Unfaithful pada tahun 2002, Lyne memutuskan untuk vakum dari industri perfilman. 

20 tahun kemudian, Adrian Lyne kembali dengan menyutradarai adaptasi novel karya Patricia Highsmith, Deep Water (2022). Meskipun mendapatkan sambutan negatif dari kritikus dan penonton, setidaknya Lyne belum kehilangan kemampuannya dalam menghadirkan teror seksi nan menegangkan. 


6. David Lean

A Passage to India (1984)
A Passage to India (dok. EMI Films/A Passage to India)

Setelah Ryan’s Daughter (1970) panen hujatan dari banyak kritikus, David Lean hengkang dari bangku sutradara 14 tahun lamanya. Sineas berkebangsaan Inggris ini memilih untuk banting setir menjadi aktor, penulis naskah, hingga editor. 

Ketika ia mendapatkan tawaran untuk menyutradarai A Passage to India (1984), Lean menggunakan kesempatan tersebut untuk memperbaiki citranya. Film ini turut menjadi karya sempurna sebagai penutup filmografinya sebagai sutradara. 


7. James Cameron

cuplikan film Avatar: The Way of Water (dok. 20th Century Studios/Avatar: The Way of Water)
cuplikan film Avatar: The Way of Water (dok. 20th Century Studios/Avatar: The Way of Water)

Kerja keras James Cameron terbayarkan saat proyek paling ambisiusnya, Avatar (2009), menjadi salah satu waralaba film terlaris sepanjang masa. 

Demi menghadirkan kualitas visual yang memukau, Cameron dan tim menghabiskan 13 tahun untuk mengerjakan Avatar: The Way of Water (2022). Bukan tanpa sebab, Cameron bersikukuh untuk menghadirkan sekuel yang sempurna. Pengerjaan sekuelnya melibatkan serangkaian riset, penulisan, serta persiapan pra-produksi yang rumit.


8. Stanley Kubrick

cuplikan film Eyes Wide Shut (dok. Warner Bros. Pictures/Eyes Wide Shut)
cuplikan film Eyes Wide Shut (dok. Warner Bros. Pictures/Eyes Wide Shut)

Usai merilis Full Metal Jacket (1987) yang merupakan salah satu film perang paling brutal di era 1980-an, Stanley Kubrick membutuhkan waktu 12 tahun untuk merilis Eyes Wide Shut (1999).

Misterius dan provokatif, Eyes Wide Shut menjadi epilog sempurna bagi perjalanan karir Kubrick yang kuat dan kontroversial. Dalam periode 12 tahun tersebut, Kubrick turut mengerjakan dua proyek film yakni drama Holocaust berjudul Aryan Papers yang tidak pernah diproduksi dan A.I.: Artificial Intelligence (2001) yang kemudian digarap oleh Steven Spielberg. 


9. Jane Campion

The Power of the Dog (dok. BBC Film/The Power of the Dog)
The Power of the Dog (dok. BBC Film/The Power of the Dog)

Telah berkecimpung di industri film selama 38 tahun, Jane Campion dikenal sebagai salah satu sineas perempuan terbaik sepanjang wanita. Sayangnya, Campion dibuat kecewa dengan sineas perempuan kurang diapresiasi yang mana membuatnya hengkang dan beralih ke industri televisi.

Novel The Power of the Dog karya Thomas Savage sukses meluluhkan hati Jane Campion. 12 tahun sejak film terakhirnya, Bright Star (2009), Campion kembali dengan mengadaptasi novel tersebut dan menjadikannya sebagai film Western arthouse modern terbaik.


10. Jonathan Glazer

The Zone of Interest (dok. A24/The Zone of Interest)
The Zone of Interest (dok. A24/The Zone of Interest)

24 tahun berkarir di industri film, Jonathan Glazer baru memiliki empat judul film dalam filmografinya. Segera setelah merilis Under the Skin (2013), Glazer langsung disibukkan dengan film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Martin Amis, The Zone of Interest (2023). 

Glazer menghabiskan setidaknya sembilan tahun untuk melakukan riset intensif dan tahap pra-produksi demi mempresentasikan banalitas pada Perang Dunia II secara akurat. Ketelatenan Jonathan Glazer dan tim diganjar dua piala Oscar untuk Best Sound dan Best International Feature Film. 

Dari daftar sutradara di atas, siapa yang memiliki filmografi paling mengesankan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Diana Hasna
EditorDiana Hasna

Related Articles

See More